hover animation preload

Keberkahan Ilmu
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Pemahaman dan ilmu Pengetahuan seseorang tidak hanya diukur dari tingkat IQ-nya saja. Karena hal itu hanyalah sebagian kecil dari kecerdasan-kecerdasan yang telah Allah berikan kepada kita sebagai manusia.

Ada suatu pertanyaan, "Bagaimana cara kita agar dapat lebih bisa memahami apa yg telah disampaikan oleh guru? Mengapa pemahaman saya selalu di bawah teman saya, padahal input yang kami terima sama?” Maka jawabannya yaitu bergantung dari tingkat keberkahan Ilmu-nya masing-masing".

Keberkahan yang kita dapatkan dari ilmu yang kita miliki akan mampu membimbing kita menjadi seorang pribadi yang mampu mengamalkan kembali ilmu tersebut dan membuat ilmu tersebut lebih lekat pada diri kita. Sedangkan jika Allah Ta’ala tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepadamu, maka kita akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan. Karena jika Allah Ta’ala tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepada kita, maka kita pun akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan.

Jika kita sedang dalam kondisi seperti itu, yang harus kita lakukan adalah tetap berusaha bersyukur kepada Allah atas apa yang sekarang kita miliki, sehingga nantinya kita akan memahami bagaimana cara kita mengelola kondisi dan perasaan kita menjadi sebuah energi positif dalam diri kita yang akan mendorong kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Lalu setelah kita bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah, kita juga tetap tidak diperbolehkan untuk berputus asa dari rahmat-Nya dengan kita tetap berusaha memahami ilmu tersebut dengan terus "belajar". Karena belajar adalah sebuah syarat utama yang harus dilakukan untuk dapat terus mengembangkan ilmu yang telah kita peroleh. Belajar itu dapat berbentuk apa saja, dari mana saja dan dari apa saja, taka da batasan dalam belajar. Selain itu, kita juga harus mengoptimalkan unsur-unsur pendukung semangat belajar, salah satunya membiarkan diri kita memiliki ketenangan jiwa atau rohani saat hendak belajar atau membaca sesuatu.

Kemudian setelah itu yakinlah dengan pepatah Arab, “man jadda wajada”, Barang siapa yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu, maka ia akan mendapatkannya. Dan yang paling penting dari semua itu adalah dengan kita menghargai ‘orang’ atau apapaun yang sedang menjadi subjek pengajar ilmu kepada kita atau objek yang kita pelajari. Bagaimana kita bisa menerima dan memahami ilmu yang telah ia sampaikan kepada kita, jika di dalam hati kita menolak terhadap ilmu tersebut. Padahal ilmu tersebut mungkin saja tertahan karena sifat antipati kita kepada ‘orang’ yang menyampaikan ilmu tersebut.

Untuk mendapatkan keberkahan ilmu, maka kondisi rohani kita juga harus selalu terjaga baik dan siap untuk menerima ilmu tersebut. Ketika kita sedang memiliki kondisi rohani yang baik, yaitu kondisi dimana kita sedang rutin atau banyak melakukan amalan-amalan ibadah, seperti: shalat Tahajud, dhuha, tilawah, infak, sadaqah dll. maka kita akan lebih mudah mencerna ilmu tersebut. Karena dengan kondisi rohani yang demikian, insyaAllah, Allah akan membuka qolbu dalam diri kita sehingga kita dapat menerima dan memahami ilmu itu dengan baik.

Selain itu juga harus dikuatkan dengan ikhtiar. Karena ilmu itu tidak datang dengan sendirinya kedalam pikiran kita. Ilmu itu kita cari dan kita cerna melalui proses. Yang harus kita utamakan disini adalah ikhtiar dan proses kita dalam upaya memperoleh dan memperkaya ilmu. Karena Allah selalu melihat proses pada diri kita yang terus berupaya menjadi lebih baik bukan semata bagaimana hasil akhir yang kita peroleh. Jadi, Biarkanlah Allah yang menakdirkan jalan mana yang terbaik yang kita dapatkan, yang kita lakukan adalah berusaha.

Dan semoga mereka yang bersungguh-sungguh dalam belajar dan menuntut ilmu dan berusaha mendapatkan keberkahan ilmu tersebut. Maka, merekalah yang akan mendapatkan hasil yang maksimal serta hidayah dan kebaikan dari Allah.

"Mendekatlah pada-Nya, maka Dia akan memberikan Ilmu-Nya."
Comments (0)

Bukan Kesetaraan, tapi Keserasian
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

Suatu hari terjadi keributan kecil di sebuah sarang semut. Padahal biasanya tidak pernah ada kejadian seperti. Para semut memang sudah terbiasa bekerja bersama-sama sehingga jarang sekali terjadi keributan seperti ini.

Namun hari itu, adalah lain cerita. Ada seekor semut jantan yang merasa bosan dengan pekerjaan yang ia lakukan setiap hari. Mulai dari membetulkan sarang, pergi mencari makanan atau bahkan hanya sekedar menjaga telur-telur semut yang ada di dalam sarang. Semut yang satu ini merasa bahwa apa yang terjadi padanya adalah sebuah ketidakadilan.

Ia merasa bahwa pekerjaannya jauh lebih berat dibandingkan pekerjaan yang dilakukan oleh semut-semut betina yang ada di koloni mereka. Ia mengaggap bahwa kerja semut betina hanyalah sekedar melahirkan dan kemudian menjadi ratu, sedangkan dirinya harus bekerja keras untuk koloni tersebut.

Sampai akhirnya hari itu semut ini benar-benar merasa harus melakukan sesuatu, dan yang ia lakukan adalah mencoba memberontak dengan sistem yang sudah ada di koloni semut dan berusaha mencari ‘keadilan’.
Setelah berdebat di dalam koloni tersebut, ternyata tidak ada satupun semut yang merasa sependapat dengan dirinya. Akhirnya semut jantan itu pun pergi meninggalkan koloni semut tersebut.

Di tengah perjalanannya, semut jantan tersebut terus-menerus berpikir tentang apa yang terjadi padanya. Ia kemudian berusaha berpikir ulang mengenai apa yang sudah ia lakukan.
Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seekor lebah yang tengah beristirahat di sekitar taman bunga dekat sarang semut tersebut. Semut jantan itupun berusaha mencari pembenaran dengan bertanya pada lebah tersebut.

“Wahai lebah, bolehkah aku bertanya satu pertanyaan kepadamu?” tanya semut.
“Tentu saja boleh tuan semut,” jawab lebah tersebut. “Apa yang hendak kau tanyakan?” lebah tersebut balik bertanya kepada semut”.

“Begini, apakah aku salah ketika aku merasa diperlakukan secara tidak adil di dalam koloni semut? Tanya semut. “Aku merasa bahwa beban kerja para betina hanyalah melahirkan dan kemudian menjadi ratu yang diperlakukan sangat baik, sedangkan kami para jantan terus menerus dipaksa bekerja keras.” Kata semut menjelaskan.

“Oh, jadi begitu, memang apa yang kau inginkan wahai semut?” Tanya lebah.
“Aku ingin adanya kesetaraan serta kesamaan peran”, jawab semut dengan lantang.
“Oh begitu, baiklah akan sedikit aku jelaskan padamu wahai semut,” kata lebah dengan nada yang lembut. “Kita ini diciptakan oleh Allah secara berpasang-pasangan. Dan setiap dari kita, baik jantan ataupun betina, diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain”, kata lebah.

“Akan aku berikan sedikit contoh”, kata lebah berusaha menjelaskan. “Misalnya, di dalam koloni lebah, masing-masing memiliki perannya masing-masing; Lebah Ratu berperan sebagai penghasil keturunan, kemudian lebah pekerja tugasnya mencari makanan, serta lebah tentara bertugas untuk menjaga keamanan sekitar sarang tempat tinggal koloninya. Dan setiap peran dijalani dengan penuh tanggung jawab” lebah berusaha memberi penjelasan. “bukankah di koloni semut juga terjadi pembagian peran yang serupa?” kata lebah balik bertanya pada semut.

“Apa yang akan terjadi ketika tidak ada seekor ratu yang bekerja sebagai penghasil keturunan? Tentu koloni kita lama-kelamaan akan punah, iya kan semut?” kata lebah sambil melontarkan pertanyaan.

Semut pun terdiam, dan berpikir. Semut mulai merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Namun ia masih merasakan ada sesuatu yang janggal, “lalu bagaimana dengan kesetaraan peran yang aku tanyakan dia awal tadi wahai lebah?” tanya semut berusaha mencari kebenaran.

Kemudian lebah pun berusaha menjawab, “begini wahai semut, tidak ada yang namanya kesetaraan peran antara jantan dan betina, yang ada adalah sebuah keserasian peran antara jantan dan betina. Tanpa keserasian peran, maka yang muncul hanyalah perasaan saling cemburu antara peran-masing-masing.”.

Akhirnya semut kembali terdiam, setelah merenung sejenak, semut itu pun berpamitan kepada lebah untuk kembali pulang ke sarang. Di tengah perjalanan semut itu terus-menerus melamun, ia masih ragu tentang apa yang ia lakukan, mencari pembenaran atau ‘kebenaran’.
*****

Pada dasarnya bagi setiap muslim tidak ada baginya kesetaraan gender (peran yang sama), karena Allah telah memberikan setiap peran kepada masing-masing makhuk secara adil (adil disini bukan berarti sama). Tinggal bagaimana setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk dapat menjaga keserasian peran tersebut sehingga terjadi keharmonisan antar hubungan Adam dan Hawan ini. Salah satunya dengan berusaha menjalankan perannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. 
Comments (0)

Bisa karena Terbiasa
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Suatu hari seekor anak burung tengah menikmati hari-hari awalnya menjadi seekor makhluk yang hidup di dunia. Mungkin sebelumnya ia tidak pernah berpikir bahwa dirinya adalah seekor makhluk yang memiliki kemampuan untuk terbang dan mengepakkan sayapnya di udara.

Ibunya tidak pernah memberitahukan kepadanya tentang kemampuan tersebut, apalagi mengajarinya bagaimana cara terbang. Tapi toh burung kecil itu selalu memperhatikan bagaimana ibunya hampir selalu melakukan kegiatan berulang-ulang yaitu terbang.

Ia pun kini sudah tahu bahwa ibunya ternyata bisa terbang, maka ia pun meyakini bahwa suatu saat ia juga bisa terbang seperti apa yang sekarang dilakukan oleh ibunya. Namun Saat itu ia tetap saja belum mengetahui bagaimana cara untuk terbang, maka yang ia lakukan adalah mulai mencoba, mencoba dan mencoba.

Tak peduli berapa kalipun terjatuh ia tetap mencoba untuk terbang, mencoba mengepakkan sayap kecil miliknya. Sampai percobaan ke sekian ia masih saja belum bisa terbang. Ia tetap tidak putus asa. Hari demi hari ia lalui dengan memperhatikan dan mencoba (learning by doing).

Sampai tiba suatu saat, bulu-bulu di sayapnya mulai tumbuh, otot-otot miliknya mulai kuat dan saat itu tiba ia sudah terbiasa dengan (percobaan) terbang. Sampai akhirnya ia pun dapat terbang dan mengepakkan sayapnya di udara. Dan keberhasilan tersebut telah membayar keyakinan serta usahanya selama ini. Burung kecil itupun terbang.

“Sebuah pekerjaan sesulit apapun jika kita kerjakan dengan tekun dan berulang-ulang pastilah suatu saat kita akan menguasainya juga.”

Mungkin ada orang yang merasa tidak menguasai sesuatu dalam suatu bidang. Entah karena ia tidak menyukainya atau karena ia tidak pernah berinteraksi dengan suatu bidang tersebut. Namun, banyak orang yang meyakini bahwa keahlian yang didapat oleh seseorang merupakan buah dari kerja keras dan latihan berulang-ulang.

karena kita lakukan beberapa kali tersebut yang tadinya tidak bisa dengan membiasakan diri untuk melakukannya atau latihan rutin maka akhirnya menjadi bisa dan disinilah yang disebut Bisa Karena terbiasa, sehingga tidak ada pekerjaan atau sesuatu yang sulit kalau kita mau mencoba melakukan pekerjaan itu dengan konsisten.

Terlebih lagi manusia. Manusia itu merupakan makhluk pembelajar, yang mana jika dia mau mempelajari akan suatu hal maka dia akan bisa melakukan hal tersebut di masa depan nanti. Semakin hal tersebut dilatih, maka akan semakin baik pula suatu hal tersebut.

Jadi maksud dari ungkapan “Bisa Karena Terbiasa” pada intinya memberikan dorongan agar kita siap menjalani suatu proses dan tidak menyerah ditengah jalan. Proses apakah itu? Tentu saja proses mempelajari atau membiasakan diri dengan hal yang hendak ingin kita kuasai.
Comments (0)

Skenario Allah untuk Aku dan Ibu
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

Membuka kenangan lama bagiku sama saja dengan mencari sepercik hikmah dan seperti menyusuri lorong-lorong kehidupanku untuk menemukan sebuah makna baru bagi hidupku saat ini. Terlebih ketika membuka kenangan yang membahagiakankan, hal itu dapat menjadi secuil apresiasi bagi diriku untuk kembali menatap masa depan. Aku akan mencoba menceritakan seuntai kisah dengan salah seorang wanita yang memiliki tempat yang teramat khusus di dalam hatiku.

Ia adalah malaikat yang selalu menetramkan jiwaku. Pengorbanan tanpa pamrihnya tidak akan pernah bisa aku balas bahkan sekeras apapun aku berusaha. Ia adalah sebuah gambaran wujud kesederhanaan seorang wanita. Kesabarannya membuat siapa saja tak akan mampu mengukur seberapa dalam rasa sayangnya untukku, untuk anak-anaknya. Dialah Ibuku, Dan akan aku ceritakan penggalan kisahku dengan orang terbaik dalam hidupku ini.

Di pagi hari yang cerah, matahari menampakkan wujudnya yang menentramkan bagi siapa saja yang menatapnya, matahari pagi itu seakan mengetahui perasaanku yang begitu bersemangat untuk menyambut datangnya pagi itu. Karena hari itu adalah hari pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi yang aku inginkan. Dan momen itu menjadi saat-saat menegangkan bagiku, bagi masa depanku. Bahkan saat malam harinya aku tak kuasa menahan perasaan ini sendirian dan malam itu dekapan cinta ibu membuatku tak ragu untuk berbagi perasaan dengannya, dengan orang yang sangat mengerti kondisiku saat itu, dengan ibuku.

Sebelum aku beranjak untuk membeli Koran pagi dan mencoba menggapai takdirku menuju perguruan tinggi, ibu kemudian mengejutkanku, dengan nada sedikit bercanda ibu menceritakan bahwa pada malam setelah aku membagi perasaanku padanya ia bermimpi. Ia bercerita pada ku, “Dho, semalam ibu bermimpi memancing, dan ibu mendapatkan tangkapan seekor ikan besar. Semoga ini pertanda bahwa hari ini ibu akan mendapatkan kabar baik, khususnya dari anak laki-laki ibu satu-satunya ini”. Mendengar hal tersebut dalam hati aku hanya bisa mengamini cerita ibuku tersebut.

Ternyata aku tak melihat nomor ujianku di antara ribuan angka yang memenuhi halaman utama pengumuman ujian seleksi masuk tersebut. Namun beberapa menit setelah itu perlahan ibu menghampiriku. Ditengah syahdu tatapan matanya, serta diiringi dengan senyum kecil kepadaku, saat itulah aku merasa hanya ibu lah yang mampu menenangkan jiwaku. Dan diluar dugaan ia memberikan sebuah kabar gembira yang bahkan aku sendiri tidak akan langsung percaya jika hal tersebut bukan dikatakan langsung oleh ibuku sendiri.

Dengan tenang ia berkata, “Dho, ternyata kamu kurang teliti, nih nomor ujian kamu ada di deretan nomor-nomor yang lulus di jurusan Ilmu Komunikasi, bukan di deretan nomor jurusan Arsitektur”. Saat itu aku diam, menunggu ucapan selanjutnya yang mungkin akan keluar dari mulut ibuku. Kemudian ibu menyodorkan lembaran koran tersebut tepat dihadapanku sambil menunjuk ke arah deretan nomor ujian yang tertera di sana. Ternyata aku memang kurang teliti. Aku pun tidak mampu menyembunyikan kebahagiaanku hari itu. Aku peluk orang terbaik dalam hidupku itu, mencoba membagi kebahagiaanku pada hari itu. Dan hari itu ibuku telah berhasil memberikan sebuah keajaiban kecil yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku.

Jauh Membuat Semakin 'Dekat'
Kini, ketika telah lebih dari satu setengah tahun tidak lagi selalu tinggal bersama, aku baru menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah merasakan kehilangan seperti ini. Perasaan ini memaksaku untuk rutin mengunjungi ibuku di rumah, untuk menemukan sesuatu yang hilang dalam diriku ataupun untuk sekedar berbagi kisah pengalaman hidupku selama di kampus. Walaupun kini aku sudah tinggal mandiri di kosan, aku berjanji untuk tetap melaksanakan rutinitas tersebut setiap akhir pekan.

Perasaan kehilangan yang aku rasakan saat tinggal jauh dari ibuku seperti sat ini telah menyadarkanku bahwa Allah telah menyusun skenario terbaik-Nya yang membuatku mengetahui bahwa Ibu adalah seorang yang takkan pernah tergantikan dalam hidupku. Dan jika suatu saat aku benar-benar akan kehilangannya, kehilangan ibuku, aku sendiri bahkan tidak berani membayangkannya.

Kini, tidak akan ada lagi aku yang suka membentak-bentak ibuku, tidak ada lagi aku yang selalu menghindari permintaan dari ibuku, dan tidak ada lagi aku yang mencoba durhaka kepadanya. Aku ingin menjadi seorang anak yang mampu membuatnya bahagia dan bangga bahwa ia telah melahirkan aku. Walaupun aku tidak akan mampu membalas pengorbanannya untukku, namun aku akan tetap berusaha memberikan yang terbaik untuknya.

Aku merasakan betapa dekapan cinta ibu selama inilah yang telah menuntunku menjadi seseorang yang seperti sekarang. Aku tak akan mungkin mendapatkan kesuksesan-kesuksesan kecil ini tanpa adanya iringan doa yang menyertaiku di dalam setiap shalat dan sujud ibuku. Kini bagiku. Apapun yang kini tengah aku rasakan, sesulit apapun beban hidup yang sekarang atau nantinya akan kuhadapi, yang aku tahu aku akan selalu membaginya dengan orang yang sangat mengerti diriku. Dan apapun tanggapan darinya, itu aku yakini sebagai sebuah bentuk rasa perhatian dan sayangnya padaku. Dan bagaimanapun caranya, mulai saat ini akupun akan berusaha untuk menuruti apapun keinginannya.
Comments (0)

Kehilangan adalah Inspirasi untuk Memberi
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,


"kalau saja Allah tidak menimpakan kehilangan kepada hamba-Nya, tentu manusia tidak akan mengenal arti memberi."

Suatu ketika seorang temanku kehilangan salah satu benda berharga miliknya, sebut saja handphone. Ia sedikit terpukul dengan kejadian tersebut. Namun yang bisa Ia lakukan hanyalah mencoba memetik hikmah dari kejadian tersebut.

Esoknya, puluhan simpati muncul menghampiri dia, ucapan untuk sekedar memberi semangat dan menyelipkan doa untuknya. Diantara doa yang di sampaikan orang lain kepadanya saat itu adalah "Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik".

Yap, kehilangan bukan harus kita sikapi dengan mengeluh. Kita perlu menyesal, tetapi tidak sampai mengeluh dan meratapinya. Karena kehilangan adalah sebuah keniscayaan maka, terimalah dengan lapang dada.

Kehilangan secara tidak langsung mengingatkan kita tentang makna memberi. Kehilangan mengajarkan kita bahwa setiap yang kita miliki adalah pinjaman, dan memberi adalah salah satu bentuk investasi kita dihadapan Allah.

Diantara kita banyak yang meyakini bahwa ketika sesuatu hal hilang dari diri kita, maka itu berarti Allah tengah menyiapkan ganti yang lebih baik. Lalu apakah kita juga meyakini bahwa sesungguhnya hakikat memberi juga demikian.


Saat kita memberi, itu sama halnya kita tengah menabung untuk mendapatkan yang leih baik di masa depan, atau bahkan tabungan untuk di akhirat kelak. Dan Allah tidak akan sungkan untuk menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Memberi adalah perbuatan mereka yang ikhlas. Mereka yang menanamkan sebuah dalam diri mereka bahwa "siapa yang meninggalkan kebaikan (memberi) karena Allah, maka ia akan mendapatkan balasan terbaik dari apa yang telah ia tinggalkan (berikan).


"kalau saja Allah tidak menimpakan kehilangan kepada hamba-Nya, tentu manusia tidak akan mengenal arti memberi."

Memberi adalah sebuah seni menghidupkan kehidupan. Memberi tidak hanya dengan materi. Asalkan ikhlas, memberi dapat berupa sebuah nasihat, perhatian, kontribusi bahkan cinta. Dan memberi tetap akan bernilai amal bahkan walau hanya.
Comments (0)