hover animation preload
Showing posts with label Menulis yuk. Show all posts
Showing posts with label Menulis yuk. Show all posts

Menulis itu Think Fast
by Abdushshabur Rasyid Ridha in

Tidak aneh ketika seorang penulis di tengah-tengah produktifitasnya menulis kemudian mengalami writer block. Writer block ini bisa muncul karena berbagai faktor dan alasan. Bisa karena faktor internal atau bahkan karena alasan dari diri sendiri. Tentunya fase ini menjadi hal yang paling mengesalkan bagi seorang penulis. Mungkin sebagian dari mereka seperti sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, namun yang sulit adalah merealisasikannya jadi aksi nyata.

Aku sendiri pernah mengalami fase writer block ini. Maksud hati ingin selalu produktif menulis, apa daya alasan selalu menghalangi. Pada masa ini aku hanya bisa mencari-cari jalan keluarnya dengan mulai menyibukkan diri dengan kegiatan banyak membaca. Kata tips dan trik yang biasa ku baca di blog-blog yang betebaran di dunia maya, writer block dapat diatasi dengan banyak membaca. Karena membaca akan memberikan banyak informasi dan pengetahuan untuk kemudian bisa dituliskan. Namun apa daya satu minggu ku lalui tetap tanpa tulisan, dua minggu, tiga minggu sampai akhirnya aku bingung sendiri apa yang seharusnya ku lakukan untuk menanggulangi writer block ini.

Bagaimana pun menulis pada akhirnya adalah pekerjaan hati dan rasa. Menyalahkan faktor eksternal sama saja dengan halnya terus-menerus memberi excuse pada diri sendiri. Akhirnya dalam kondisi (masih) writer block, aku katakan pada salah seorang temanku, “gw pengen nulis buku nih, Insya Allah awal tahun 2013 bakal diterbitkan.”

Cara ini cukup memberikan tekanan pada diriku sendiri untuk mampu mengatasi writer block ini, namun belum sepenuhya berhasil. Jari-jemari ini memang tidak berproduksi menghasilkan tulisan, namun otak ini akhirnya bisa bekerja menciptakan ide-ide untuk dituliskan. Masalahnya terkadang overthinking justru malah membuat otak semakin bingung dan tidak mampu bersinergisasi dengan jemari karena terhalang perasaan semakin tertekan. Dalam kondisi ini kemudian aku teringat tentang sebuah konsep sederhana yang pada dasanya telah  dianugerahkan Sang Pencipta kepada setiap manusia, yaitu Think Fast.

Think fast ini kemudian mendorong munculnya semangat menulisku. Berawal dari ide sederhana yang kemudian langsung berusaha dicetuskan dalam sebuah tulisan cepat (walau agak berantakan), hal disebut dengan prompt writing. Prompt writing bisa berarti menulis sesuatu yang berangkat dari sebuah ide yang bisa saja berbentuk satu kata atau satu kalimat atau bahkan beberapa kalimat pendek. Prompt dalam hal ini berarti kalimat pemancing ide. Dan seperti dijelaskan sebelumnya butuh kemampuan think fast untuk mengimplementasikan prompt writing ini.

Setelah mempraktekan prompt writing ini aku sendiri sampai terkagum-kagum bahwa sebenarnya ide menulis itu bisa kita petik begitu saja untuk kemudian mumuncukan perasaan tidak tahan untuk segera menuliskannya. Prompt pertama yang menarik perhatian saya adalah ketika saya berhasil menemukan kutipan-kutipan bertemakan inspirasi. Dari satu kata ini saja, aku kemudian berhasil menulis beberapa tulisan.

Lalu kemudian ada juga prompt yang bermula dari sebuah kutipan lagu yang kemudian berhasil ku tuliskan hingga akhirnya tulisan tersebut berhasil menghiasi halaman media cetak. Saat itu aku seperti telah menemukan telaga di tengah gurun pasir dalam upayaku menaklukan writer block. Berkat think fast, kutipan apapun dapan menjadi sebuah ide yang ingin segera dituliskan. Bagi anda yang rajin sekali bermain-main di Facebook atau Twitter, status atau twit teman-teman anda bisa menjadi pencetus ide untuk tulisan anda.

Intinya, ide memang sesuatu yang ‘nakal’ dan dibutuhkan kemampuan think fast untuk mempraktekkan prompt writing untuk menaklukan writer block. Dengan think fast ide sekan mudah sekali muncul dan kemudian mengajak kita untuk segera bermain-main dalam catatan-catatan kecil kita. Mudahnya untuk produktif seorang penulis itu harus bisa think fast.
Comments (0)

Menulis itu Menjernihkan Pikiran
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,


Beberapa hari ini saya mendapatkan pelajaran dari salah seorang teman. Sebuah upaya menjernihkan pikiran dari perasaan galau ternyata tidak melulu harus kita pendam sendiri, atau hanya kita jadikan umpatan-umpatan di status facebook maupun twitter kita. Harusnya kita lebih dapat mengekspresikan kegalauan kita dalam sebuah bentuk yang lebih bermanfaat dan lebih terkonsep, yaitu dengan menuliskannya. Entah menuliskannya menjadi sebuah puisi, menjadi sebuah artikel ringan maupun menjadi sebuah cerpen itu bergantung pada kita sendiri.

Seperti yang dilakukan oleh salah seorang teman saya, yang pada akhirnya menginspirasi saya untuk menuliskan artikel ini, di mana ia mampu melampiaskan perasaan hatinya melalui bait-bait puisi yang tidak hanya menjernihkan pikirannya sendiri melainkan juga menjernihkan pikiran orang lain yang membacanya.

Menulis pada hakekatnya adalah sebuah usaha untuk mengekpresikan berbagai ide, perasaan hati, maupun kepenatan yang ada di pikiran seseorang. Sehingga menulis mampu memberikan perasaan puas bagi siapa saja yang telah berhasil melampiaskan perasaannya dalam selembar tulisan dan bukan tidak mungkin segala kesumpekan maupun suasana hati yang kurang baik itu dapat berkurang bahkan hilang dari dalam pikiran kita.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri, dengan kita banyak menuliskan perasaan hati kita maka kita akan lebih dapat memahami diri kita sendiri. Kita akan jauh lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita, saat kita menulis maka aka nada sebuah koneksi yang terhubung antara pikiran, hati dan jemari kita. Ketika kita mulai merangkai kata-kata yang ingin kita tulisakan maka di saat itulah pikiran dan hati mulai terhubung, saat jemari menuliskan apa yang terjadi pada diri kita maka pikiran akan mulai bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Kemudian layaknya orang bijak yang mendengarkan curhatan dari sahabatnya maka hati akan mulai memberikan solusi dari permasalahan tersebut.

Dan ketika tulisan tersebut kita publish di sebuah ranah publik, semisal notes facebook maupun blog maka kita juga akan mendapatkan masukan dari orang-orang yang membaca tulisan kita tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin apa yang kita tuliskan tersebut tidak hanya mampu menjernihkan pikiran kita sendiri (orang yang menulisnya), melainkan juga mampu menjadi sebuah bahan perenungan bagi orang-orang yang mengalami permasalahan atau situasi yang sama dengan yang kita hadapi.

Mungkin penjelasan di atas memang tidak dapat di buktikan dengan ukuran-ukuran positivis. Namun yakinlah bahwa dengan menuliskan permasalahan yang kita hadapi maka beban yang ada dipikiran kita perlahan akan hilang bersama untaian kata yang tertuang dalam selembar tulisan yang kita buat. Dan dari sinilah akan tumbuh pikiran-pikiran yang jernih yang tidak lagi merasa terbebani.
Comments (0)

Menulis itu dengan hati
by Abdushshabur Rasyid Ridha in

Membaca judul di atas, maka orang-orang yang kritis tapi iseng pasti akan berkomentar "menulis pake hati? Bukannya menulis itu pake tangan ya?" memang betul, jika kita menulis dalam arti yang sebenarnya maka tanganlah yang kita gunakan. Nah, untuk menulis yang mampu membuat tulisannya sampai kepada hati pembacanya maka, diperlukan juga menulis dengan hati. Mengutip perkataan salah seorang teman, "jika tulisan kita ingin menginspirasi dan mengena di hati pembacanya, maka tulislah sebuah tulisan yan menginspirasi tersebut dengan hati juga. Karena sesuatu yang ditulis dengan hati akan sampai ke hati juga."

Lalu apa gunanya menulis dengan hati dan membuat tulisan kita sampai ke hati pembaca? Jelas, salah satunya tentu karena kita ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain kan? Nah, menulis dengan ekspektasi seperti itu menurut saya akan menjadikan kita sebagai sebaik-baiknya penulis. Mengutip sabda Rasulullah, "sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain disekitarnya". Jika setuju dengan alasan di atas maka, mulailah dari sekarang biasakan menulis dengan hati.

Manfaat yang banyak ternyata memiliki hambatan pula, dan menulis dengan hati itu ternyata tidak semudah menulis biasa, karena menulis dengan hati adalah sama dengan menulis sesuatu yang luar biasa. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat menulis dengan melibatkan hati kita dalam sebuah tulisan sehingga tulisan kita juga sampai kepada hati pembacanya? Berikut pendapat saya pribadi perihal cara agar kita mampu menulis dengan hati, pertama mulai tuliskanlah apapun hal yang kita amati, sedang kita pikirkan dan sedang kita rasakan. Mulailah dengan menggunakan kemampuan otak kanan untuk menuliskan hal-hal tadi, maksudnya menggunakan otak kanan adalah dengan kita membiarkan semua hal-hal tadi tertuang dalam tulisan dan jangan dulu pikirkan tentang bagaimana hasil tulisannya, terus lanjutkan sampai semua hal tadi tertuang dalam tulisan setelah itu baru mulai pikirkan untuk mengedit tulisan tadi.

Yang terakhir, menulislah selayaknya kita yang sedang berada di posisi pembaca dan jangan biarkan kita merasa puas dengan apa yang telah kita tuliskan, baca kembali tulisan tersebut dan dalam kondisi seperti inilah unsur keterlibatan hati sangat diperlukan, setelah selesai dengan kedua hal tadi barulah kemudian izinkan teman-teman kita yang lain untuk membaca tulisan kita tersebut.

Cara di atas memang tidak menjamin keberhasilan menulis dengan hati karena cara tersebut hanyalah sekedar bersumber dari pengalaman saya pribadi, tetapi paling tidak dengan begitu kita sudah berhasil mencoba membuat tulisan yang melibatkan hati kita, bukan sekedar dari referensi, atau inspirasi dari orang lain atau bahkan mencontek tulisan orang lain. Intinya jangan biarkan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan tidak kita tuangkan dalam sebuah tulisan. Maka dari itu saran saya pada anda adalah mulai berfikir bahwa kita harus mengasah kemampuan kita dalam menulis, “menulislah atau terlupakan”.
Comments (0)

Ketika Keinginan Bertempur dengan Kemalasan
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,


Jadi begini toh rasanya males sekaligus geregetan untuk nulis.. rasanya jari-jemari ini ingin sekali menekat setiap tuts keybord guna menghasilkan sebuah karya yang kemudian dipost lagi di blog inspirasi yang satu ini. tapi, jangankan untuk nulis di blog, untuk ikutan lomba atau antologi yang diiming-imingi hadiah aja rasanya berat betul. mungkin ini pertama kalinya w rasain kaya gini sejak satu semester ini ketika w mulai menyukai dan hobi di dunia tulis menulis ini.

Ga salah ketika w tulis di atas kalo w geregetan sekaligus males. yap geregetan, karena dengan ke-vakum-an w ini hasilnya adalah target w untuk menyelesaikan naskah buku pertama w terpaksa tertunda entah sampai kapan. padahal rencananya mau rampung Agustus ini, dan ngayal jadi hadiah lebaran yang sangat spesial. walaupun belum sepenuhnya gagal, paling engga kondisi ini membuat hambatan untuk menyelesaikan rencana tersebut semakin susah aja.

Males, ini nih satu kata yang sangat sulit w hindari, apalagi kondisi liburan kaya kini. padahal hampir setiap hari w berkutat di depan laptop, tapi hampir setiap hari ngga ada kegiatan bermanfaat yang w lakukan. jadi inget sebuah kalimat yang sering w hambur-hamburkan ke temen-temen, "kalo hidup ga disibukkan dengan hal-hal baik pasti hidup lu bakalan disibukkan dengan hal-hal yang buruk", dan parahnya hal itu hampir benar-benar terjadi sama w saat ini. Bahkan untuk menangkis statemen tentang ke-vakum-an w dalam menulis, w sampe-sampe bisa aj bikin tulisan kaya gini:
                                                                           ****

                                                                    Menulis itu Hobi

Hidup itu harus seimbang dan proporsional. Mungkin itulah sepenggal kalimat yang sering dikatakan oleh orang-orang bijak. Pertanyaannya bagaimana cara termudah menjaga hidup kita agar tetap seimbang? Mungkin salah satunya adalah dengan memberikan sedikit waktu yang tersedia untuk menekuni sebuah hobi. Menurut KBBI, hobi adalah sebuah kegemaran, kesenangan utama pada waktu senggang dan bukan pekerjaan utama. Mengerjakan suatu hobi ternyata mampu memberikan kepuasan batin tersendiri bagi para pelakunya. Tak terkecuali bagi saya. Dan salah satu hobi yang saya gandrungi adalah hobi dalam hal menulis.

Mengapa menulis itu dikatakan sebagai hobi? Padahal di zaman sekarang sudah banyak orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai penghasilan tambahan atau bahkan penghasilan utama. Saya sendiri menganggap menulis itu sebagai hobi mengingat sampai saat ini belum ada tulisan saya yang berhasil menjadi sebuah penghasilan. Selain itu menulis juga mampu membuat waktu senggang saya menjadi jauh lebih bermanfaat. Dan hal itu menjadi sesuai dengan penjelasan makna hobi itu sendiri berdasarkan KBBI.

Setelah mengetahui mengapa saya beranggapan bahwa menulis itu merupakan sebuah hobi, hal ini membuat saya menjadi bisa lebih tenang menghadapi kendala vakum menulis. Karena walaupun saya memiliki suatu target terkain apa dan kapan saya menulis nyatanya sebuah hobi memang tidak harus selalu dilakukan setiap waktu.

Adakalanya kita akan rehat sejenak dari hobi tersebut. Beda halnya dengan para wartawan ataupun mereka yang menjadikan menulis sebagai penghasilan. Tidak akan ada rehat bagi mereka untuk menulis, dan hal itu yang cukup sulit untuk saya lakukan. Tetapi tak apalah selama menulis masih menjadi sebuah hobi.
                                                                         ******

kalo w baca lagi tulisan w ini benar-benar terkesan hanya berusah menangkis saja dari kenyataan yang ada. dan setelah w pikir-pikir lagi nyatanya kendala apapun yang kita terima saat menekuni bidang ini hanya diri kita sendiri aja yang bisa menghadapi dan mengalahkannya. sudah sering lah nanya-nanya sama para pakar menulis, dan jawabanya normatif dan bahkan w sendiri saja uda tau jawabanya. susah memang kalo males dipelihara terus.

Semoga dengan curahan hati pertama w di blog ini. w bisa ngerestart lagi hobi w yang satu ini. dan mungkin ketika suatu saat w kembali ngerasa jenuh w bisa baca lagi tulisan ini.
Comments (1)

Menulis itu Membaca
by Abdushshabur Rasyid Ridha in

Sebuah keinginan menulis biasanya bermula dari sesuatu ide yang muncul maupun dari pengetahuan yang kita miliki seputar hal yang ingin kita tuliskan. Akan mejadi hal yang sulit bagi seseorang untuk bisa menulis ketika ia tidak memiliki sebuah ide yang muncul dari otaknya dan mana mungkin seseorang akan bisa dan mampu menulis tanpa memiliki suatu pengetahuan  tentang apa yang ingin ditulis. Sehingga dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa yang terpenting untuk memunculkan suatu keinginan untuk menulis adalah adanya ide dan adanya pengetahuan. Dan salah satu hal yang mampu untuk terus dapat memunculkan serta meng-upgrade ide dan pengetahuan adalah dengan membaca.

Saya sendiri mendapatkan hobi menulis ini setelah saya sukses menyelesaikan membaca 2 buah novel yang menurut saya sangat inspiratif. Saat selesai membaca dan menyelesaikan  novel tersebut saya menjadi tertantang untuk mampu menjadi atau mengikuti hal-hal saya baca tersebut, terutama dalam hal menulis. Dan hal ini sedikit membuktikan bahwa dengan membaca maka akan membuat kita menjadi lebih terispirasi untuk menulis.
Percayakah anda dengan kita membaca buku mampu memberikan kita sebuah efek psikologis yang luar biasa, terutama dalam menumbuhkan keinginan menulis. Membaca buku mampu memberikan gambaran kepada kita tentang sebuah rahasia-rahasia yang ada di balik permukaannya. Bahkan seorang penulis dari kolombia peraih nobel sastra di tahun 1982 mengungkapkan tentang keterkaitan menulis dengan membaca: “kita harus membolak-balik buku untuk menemukan lapisan rahasia itu. Dalam satu cara yang tidak mungkin bisa dijelaskan, kita mengurai buku menjadi bagian-bagian penting dan kemudian menyatukannya kembali setelah kita memahami persoalan di dalamnya” (Gabriel Garcia Marquez).

Membaca adalah sebuah amunisi utama yag harus dimiliki oleh seorang penulis ataupu yang mau menulis, tanpa membaca terkadang tulisan yang dihasilkan hanyalah menjadi tulisan yang biasa-biasa saja tidak spektakuler dan memberikan kepercayaan kepada pembacanya. Namun, ketika tulisan diringin dengan pengetahuan-pengetahuan yang baru yang bersumber dan tentunya berdasar dari membaca maka, bisa jadi tulisan yang kita hasilkan akan menjadi lebih berbobot dan memiliki daya tarik tersendiri terutama dari bumbu pengetahuan lebih yang kita sisipkan kedalam tulisan kita.

Dengan sering-sering membaca juga membuat kita semakin mengerti dan memahami tentang kaidah penulisan yang baik. Kita dapat belajar tentang bagaimana cara menulis yang baik dan baku ketika kita sudah terbiasa membaca tulisan yang baik dan baku juga. Maka, untuk mengetahui rahasia menulis janganlah kita sungkan-sungkan untuk membaca karena menulis dan membaca itu adalah dua kata kerja yang maknanya sulit untuk dipisahkan.
Comments (3)

Menulis itu Butuh Waktu
by Abdushshabur Rasyid Ridha in


Seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, di mana di antara mereka tentunya setuju apabila saya katakan bahwa 'waktu' itu adalah hal yang teramat penting. Dan bahkan Allah mengabadikan tentang waktu dalam satu surat di Al Quran (Al Ashr). Bahkan adapula yang mengatakan bahwa waktu adalah pedang, waktu adalah uang dan sebagainya. Terlepas dari tiap-tiap individu memahami dan memaknai hakikat waktu, saya akan coba memaknai waktu sebagai sebuah momentum untuk berkarya.

Pernah mendengar sebuah istilah tentang orang yang sulit membagi waktu, istilah kerennya tidak bisa melakukan time management dengan baik. Sering kali banyak orang menjadikan time management sebagai dalih dari kemalasannya dalam berkarya, khususnya menulis. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan dan apa yang sedang mereka lakukan hanyalah sebuah pengingkaran untuk dirinya sendiri. Mereka merasa terlalu sibuk, atau bahkan mereka tidak ingin disibukan. Padahal, ketahuilah "barangsiapa yang tidak menyibukkan diri dalam kebaikan niscaya ia akan disibukkan dalam keburukan". Dan menulis adalah salah satu cara untuk menyibukkan diri dalam kebaikan tersebut.

Dalam hal menulis, upaya ini juga akan membuat kita lebih fokus dalam menulis. Karena kita sudah berkomitmen untuk memberikan sedikit waktu kita untuk menulis. Berapapun atau bagaimanapun hasilnya tulisan tersebut selama dilakukan secara konsisten, maka itu lebih baik daripada mencari dalih untuk kemudian menjadi malas menulis. Coba kita kalkulasikan, apabila kita berkomitmen untuk menyediakan 1/2-1jam dalam sehari untuk menulis, maka dalam setahun kita sudah berhasil memanfaatkan sekitar 365jam dalam hidup kita untuk kebaikan. 365jam setara dengan 15hari penuh.

Dengan sedikit penjelasan di atas cukuplah untuk membuktikan bahwa menulis itu memang butuh waktu. Mulailah berpikir optimis, dan katakanlah "ini memang sulit, tetapi mungkin" dan jangan anggap ini mungkin tetapi sulit. Mulai berdayakan waktu kita untuk kegiatan yang positif, konsisten dengan itu, kerja keras dan hasilkan karya besar kita.
Comments (0)

Menulis itu Gampang
by Abdushshabur Rasyid Ridha in

menulis yuk!! tuh, anak kecil aja bisa.
Mungkin bagi teman-teman yang sudah membaca tulisan di label "menulis yuk" sebelum-sebelumnya, tentunya telah mengetahui bahwa menulis itu merupakan sebuah proses tidak instan dan berproses tetapi nyatanya penulis sendiri sudah merasakan kenikmatan dan kemudahan menulis walaupun belum melalui proses yang panjang. Memang hasilnya sama sekali belum memuaskan apalagi membanggakan tetapi nyatanya hal tersebut sudah mampu membuktikan kepada sebagian orang yang beranggapan bahwa menulis itu sulit bahwa anggapan mereka ternyata terbantahkan. Dan penulis sendiri, yang notabene baru mulai hobi ini sejak akhir semester 1 tahun lalu, mengganggap bahwa menulis itu gampang dan menyenangkan.

Jangan dulu menganggap bahwa penulis sombong, ucapan penulis ini sangat bisa dibuktikan dengan memberikan sebuah contoh unik yang memang sudah biasa kita lakukan setiap hari bahkan setiap jam atau mungkin setiap menit, hal itu adalah menulis sms. Yap, contoh yang unik kan?,  bayangkan jika kita kumpulkan sms-sms yang kita kirimkan ke teman-teman kita, mungkin dalam sehari kita mampu mengumpulkan 1 halaman A4 dari semua sms tersebut.

Begitu juga dengan menulis, perlu adanya sebuah pembiasaan di mana hal ini nantinya membuat kita tidak lagi merasa berat hati untuk mulai menulis tetapi justu menunggu-nunggu kapan bisa punya waktu untuk menulis, dengan begitu bukan tidak mungkin kita mampu menulis minimal 1 halaman per hari seperti halnya contoh di atas. Ingat, kuncinya pembiasaan dan kebiasaan.

Ternyata masih belum gampang, saran dari penulis selanjutnya adalah jangan dulu memulai untuk menulis hal-hal yang berat-berat. Mulai dari hal-hal yang ringan-ringan dulu, tuangkan semua ide-ide ataupun yang kita pikirkan dan bayangkan di otak kita, mungkin nantinya hasil tulisan berupa keluh-kesah, diari sukur-sukur bisa berbentuk sebuah narasi. Intinya tak perlu memaksakan diri, pembiasaan dan kebiasaan itu tidak bisa dipaksakan.

Jangan lupa menulis itu dapat dilakukan di mana saja, tidak perlu menunggu di rumah, di kosan atau tempat-tempat yang nyaman bahkan penulis sendiri pernah mencoba menulis di dalam sebuah bus dalam perjalanan dari depok-jakarta. Atau tidak perlu harus menunggu kesempatan di depan laptop dulu untuk menulis, dengan catatan kecil di tangan ataupun dengan bermodalkan notes handphone saja kita sudah bisa menuangkan ide kita dalam sebuah tulisan. Pernaha ada yang mencobanya?

Nah, masih ragu untuk mencoba menulis, apa lagi yang ditunggu? Ide itu tidak muncul hanya untuk dipikirkan dan mengendap di dalam otak saja, menulislah sebagai sarana kita dalam menuangkan ide-ide tersebut. Menulislah atau terlupakan, dan tentunya kita ingin suatu saat kita dapat kembali mereview ingatan kita ke sebuah masa-masa lampau yang telah kita lewati, maka dari itu menulislah. Menulis itu gampang kan?!
Comments (0)

Menulis itu butuh motivasi
by Abdushshabur Rasyid Ridha in

Sebelumnya penulis pernah mendengar kisah dari salah seseorang teman yang juga memiliki hobi menulis, sebut saja “A”, disaat masa SMA-nya ternyata yang sangat memacu ia untuk terus menulis saat itu adalah motivasinya untuk menuangkan ide-ide dan gagasan tentang pendidikan dan goalnya adalah agar tulisannya dimuat di media dan dibaca banyak orang, entah lewat media cetak, ataupun media online seperti blog dan notes facebook dan setelah itu semua tercapai seakan keinginannya untuk menulis mulai mengendur sampai akhirnya dia menemukan sebuah motivasi yang baru untuk menulis.

Dapat digambarkan dalam prolog di atas bahwa motivasi serta goal yang diinginkan sangat dibutuhkan bagi siapa saja untuk menulis. Banyak motivasi mengapa seseorang ingin menulis, dan menurut salah satu teman juga ia memberikan pendapat bahwa menurutnya dengan menulis kita dapat memberi informasi kepada orang lain. Singkat memang jawabannya, karena kenyataannya memang seperti itu. Lewat tulisan, kita bisa mengaktualisasikan diri kita mengenai pandangan  terhadap sesuatu atau pun hanya ingin memberi informasi mengenai suatu hal yang dirasa bermanfaat untuk orang banyak.

Selain beberapa pendapat dari teman penulis di atas, masih sangat banyak motivasi-motivasi lain agar seseorang mau untuk mulai menulis. Diataranya adalah menulis karena ingin keberadaannya sebagai penulis diakui dengan memenangkan lomba esai atau memuat tulisannya di media cetak dan yang lainnya. Motivasi lainnya mungkin ingin suatu saat dapat menghasilkan sebuah buku yang bestseller dan dibaca oleh banyak orang, ataupun ingin menyebarkan kebaikan dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain lewat tulisan yang dibuat dan segala bentuk motivasi lainnya.

Sedangkan bagi penulis sendiri, penulis merasa sudah terlanjur mau untuk menulis. Alasannya sangat sederhana, "menulis atau terlupakan". Motivasi utama penulis untuk tetap menulis adalah karena penulis sangat ingin mengabadikan ide-ide yang banyak menyeruak di dalam otaknya, jadi tanpa menulis semua akan terlupakan saja. Guna meralisasikan motivasi ini, penulis tidak segan-segan untuk mencatat ide-ide yang tiba-tiba muncul di dalam sebuah catatan kecil atau di note handphone. Kemudian motivasi yang satu ini juga diikuti dengan motivasi-motivasi pendukung lainnya yang mungkin merupakan motivasi kebanyakan penulis juga, yaitu seperti berbagai motivasi yang telah disebutkan di atas.

Dapat diibaratkan bahwa motivasi bagi seorang penulis adalah bagaikan sebuah sumber energi tersendiri. Untuk mendapatkan motivasi terbaik, maka munculkanlah motivasi-motivasi yang layaknya seperti energi matahari yang selalu dan tidak akan pernah habis walaupun telah memberikan energinya bagi siapa saja yang membutuhkannya. Sebuah motivasi yang tiada habis, tiada padam dan tiada luntur walau apapun yang terjadi kepada penulis tersebut. Saran penulis munculkan seluruh motivasi menulis hanya untuk Allah, gabungkan dan ikhlaskan semua motivasi di atas dengan motivasi utama untuk Allah niscaya motivasi itu tidak akan pernah padam dan luntur. Selain itu, insyaAllah semua ide-ide brilian akan mengalir bagaikan air di dalam otak kita. Mau mencoba? Maka dari itu, menulis yuk!!


Comments (0)

Menulis itu Memperpanjang Usia
by Abdushshabur Rasyid Ridha in

Dari sekian banyak manfaat dari menulis, diantaranya adalah dengan menulis, kita dapat merekam secara utuh kejadian-kejadian yang kita anggap menarik untuk kemudian kita baca kembali suaktu-waktu, lalu menulis juga mampu mengembangkan kualitas otak kanan dan menyeimbangkan otak kiri yang selalu kita gunakan saat belajar, apalagi bagi para mahasiswa. Adalagi, dengan menulis kita dapat menjadi orang yang dikenal oleh para pembacanya atau bahkan kita bisa mendapatkan hadiah atau honor dari apa yang dituliskan, jika tulisan tersebut kita lombakan atau kita kirim ke media. Namun, dari sekian banyak manfaat menulis yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu yang mungkin jumlahnya akan sangat banyak. Maka, manfaat menulis yang kini sangat terngiang di pikiran penulis saat ini adalah "dengan menulis maka akan memperpanjang usia".

Apa maksudnya memperpanjang usia? Mungkin sebagian pembaca sudah dapat menebak inti bahasan tulisan kali ini, lalu apakah tulisan ini akan penulis sudahi begitu saja, tentunya tidak. Karena penulis akan coba membahas tema ini dari sudut pandang penulis sendiri. Kita mulai dari perkataan Sahabat sekaligus khulafaur rasyidin, yaitu Ali Bin Abi Thalib Ra.

"Semua penulis akan mati.
Hanya karyanya lah yang akan abadi.
Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti."

Yap, dari sinilah mungkin akhirnya saat ini kita mengetahui bahwa menulis itu dapat memperpanjang umur sekaligus mengumpulkan kebaikan ketika tulisan-tulisan yang kita buat mampu memberikan pemahaman kepada pembaca atau bahkan menginspirasi para pembaca tersebut untuk bersikap dan berprilaku seperti apa yang kita tuliskan, itung-itung amal jariyah juga kan.

Nah, nah berbicara tentang usia. Pernah dengar yang namanya usia sejarah? Usia sejarah ini pastinya selalu melebihi usia manusia itu sendiri, jika usia manusia itu rata-rata sekitar hanya 63tahun saja, maka usia sejarah manusia masih mungkin menembus angka 100tahun atau bahkan lebih dari itu. Usia sejarah ini biasanya baru diperhatikan ketika pemilik usia sejarah ini telah meninggal, namun orang yang meninggal ini meninggalkan sesuatu hal yang terus dapat di rasakan manfaatnya atau dikenang oleh banyak orang.

Usia sejarah ini bisa kita miliki dengan cara kita menulis. Pernah berpikir bahwa para penulis, yang mungkin sekarang bukunya sedang kita baca, bahwa umur mereka mungkin pada dasarnya telah berakhir berapa puluh atau beberapa ratus tahun yang lalu. Namun hebatnya kita tetap dapat mengenalnya serta merasakan manfaat keberadaannya di dunia seakan mereka belum mati. Itulah fungsi menulis sebagai memperpanjang usia sejarah, bukan memperpanjang usia dalam arti yang sebenarnya.

Maka dari itu mulailah menulis, manfaatkan waktu kita dengan kegiatan-kegiatan yang berguna, dan menulis adalah salah satu pilihan kegiatan berguna tersebut. Mulailah menulis, tuliskan apa yang mau kita tuliskan jangan sampai kejadian-kejadian menarik yang terjadi pada kita terlupa begitu saja. Jadikan momentum menulis sebagai sarana mencari sekaligus berbagi ilmu. Sukur-sukur kita bisa seperti tokoh-tokoh yang sering bukunya kita baca. Atau minimal kita dapat memperpanjang usia sejarah untuk orang-orang terdekat kita.

Karena pada dasarnya setiap yang bernyawa pasti akan mati, dan dengan menulis (beramal jariyah) ini kita mampu memperpanjang usia sejarah kita sekaligus mengumpulkan kebaikan untuk bekal kebahagiaan di akhirat kelak seperti apa yang dikatakan oleh sahabat Ali Ra.
Comments (0)

Menulis itu Tentang Sebuah Proses
by Abdushshabur Rasyid Ridha in





Kita pasti pernah beranggapan bahwa menulis itu adalah pekerjaan para intelektual saja kan? atau menulis itu hanya pekerjaan mereka orang-orang pintar? namun apakah orang-orang pintar itu menulis? Ternyata tidak juga, masih banyak orang-orang pintar yang tidak mau menulis. Ketidakinginan ini ditutupi dengan berbagai alasan, mereka beralasan bahwa mereka ingin membuat sebuah tulisan yang baik dan perfect, disertai dengan data fakta yang valid, atau mereka ingin dengan tulisan yang dibuatnya mampu menjadikannya dinilai hebat dimata orang lain yang membacanya ataupun dengan segala motivasi yang menuntut kesempurnaan lainnya.

Menurut saya bukan seperti itulah penulis yang pintar. penulis yang pintar menurut saya tidak sama dengan orang pintar atau intelektual. Ketika membicarakan tentang menulis, maka menulis adalah kita bicara tentang sebuah proses, bukan membicarakan tentang orang pintar ataupun hasil serta tanggapan orang lain tentang tulisan yang kita dibuat. Kebanyakan kita hanya membicarakan hasil yang hanya bernilai 1%, dan hanya sedikit orang membicarakan proses yang bernilai 99% dari sebuah kesuksesan dalam menulis.

Maka penulis pintar adalah mereka yang mau belajar, mau mencoba serta lebih membicarakan proses daripada hasil. Mereka tidak memikirkan kesempurnaan dalam tulisannya. Karena tuntutan kesempurnaan dalam proses menulis telah membuat kebanyakan orang untuk mencari zona aman, mereka menganggap lebih baik tidak menulis dari pada dicerca orang lain. Padahal menulis adalah cara kita mengekspresikan gagasan, pendapat, serta pandangan tertentu yang ada dalam pikiran kita. Kalaupun ada yang menolak gagasan kita tidaklah masalah karena hal itu justru menjadi sebuah dinamika untuk membuat tulisan dan pikiran kita lebih berkembang.

Lalu jalur apakah yang ingin kita lalui, Menulis karena pintar atau menulis untuk menjadi pintar? Pilihan yang tidak sulit. Maka, menurut saya untuk mulai menulis poin utama adalah keinginan, sebuah keinginan akan menghasilkan sebuah gagasan atau ide yang kita implementasikan dalam sebuah tulisan, kapanpun, dimanapun, oleh siapapun. Jadi, tunggu apa lagi kawan? Menulislah atau terlupakan.

Comments (0)