hover animation preload
Showing posts with label kisah penulis. Show all posts
Showing posts with label kisah penulis. Show all posts

Insya Allah Empat Tahun
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Semeter baru, maka di saat itu pula akan selalu ada tantangan baru. Tahun ajaran ini (insya Allah) adalah periode terakhirku berada di dunia perkuliahan, dua semester lagi maka genap empat tahun usiaku berada di kampus kuning ini. Pekan pertaama melalui semester baru, banyak hal baru yang ku alami.

Di antara banyak hal baru tersebut adalah, munculnya pertanyaan baru di sekitar ku, pertanyaan pertama adalah “lulus dengan jalur apa?” dengan mudah ku jawab, “pake jalur TAA alias Tanpa Apa-Apa.”

Aku akhirnya memutuskan untuk menempuh kuliah tanpa skripsi ataupu TKA (Tugas Karya Akhir), bukan karena aku tak mau, melainkan karena tak bisa. Salah satu persyaratan mahasiswa tingkat akhir yang ingin mengambil skripsi adalah harus memiliki IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) minimal 3.5 hal ini jelas menutup kemungkinan ku untuk mengambil jarur skripsi mengingat IPK-ku yang memang lebih rendah dari standar tersebut.

Kemudian pertanyaan kedua, “mau lulus kuliah berapa tahun?” Nah, pertanyaan ini masih belum bisa ku jawab dengan mantap, ya karena sebenarnya hatiku juga masih bimbang untuk memutuskannya. Sebenarnya ada kemungkinan bagiku untuk lulus kuliah cepat yakni 3.5 tahun, namun di dalam hati ku, aku berpikir untuk mempersiapkan diri agar lebih siap menyambut dunia pasca kampus.

Terlalu naif memang, di saat yang lain ingin sekali untuk lulus lebih cepat namun aku justru mencoba berpikir sebaliknya. Bukan berarti aku ingin berlama-lama di kampus, aku hanya ingin lebih mematangkan diri saja, bagiku empat tahun itu waktu yang sangat cukup dan tak perlu lebih dari itu. Insya Allah empat tahun.
Comments (3)

Bebas itu Berasal dari Keinginan Hati
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,


"...selama kita menyadari bahwa hal tersebut adalah semata keinginan hati kita maka yang pahit pun akan terasa manis pada akhirnya."

Tinggal di asrama pada awalnya menjadi hal yang begitu diidamkan. Banyak sekali ekspektasi luar biasa yang aku pendam sebelum aku berasakan bagaimana kehidupan berasrama. Di dalam pikiran ku hidup berasrama berarti hidup bersama-sama dan menanggung kesenangan dan kesulitan secara bersama-sama. Saling menularkan keunggulan masing-masing kepada penghuni asrama lain, saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Intinya yang aku pikirkan tentang asrama adalah sebuah tempat tinggal dengan penuh dinamika dan kebersamaan di dalamnya. Kemudian satu alasan terakhir yang membuat ku beranggapan bahwa tinggal dia asrama itu akan menyenangkan adalah seperti kata pepatah “rumput tetangga memang terlihat lebih hijau dari rumput sendiri.”

Dengan segelintir ekspektasi tersebut akhirnya aku memutuskan pidah dari kos-kosan, sebelumnya aku memang sudah hidup bersama-sama, dengan teman-teman seperrmainan saat SMA. Namun dengan keputusan ku berpindah ke asrama aku berharap untuk keluar dari comfort zone dan berproses menjadi diri yang lebih baik lagi. Setelah di fase awal menikmati kehidupan berasrama rasa-rasanya aku sudah mulai kerasan dengan situasi seperti ini, sampai akhirnya…

Aku merasa seperti kehidupanku mulai terbatasi layaknya hidup di sangkar emas, segala hal ada aturannya, mau ini di atur mau itu diatur, jam segini ada agenda itu jam segitu ada agenda ini. Hari ini aku harus piket ini, membersihkan itu dan segala hal lainnya. hingga kemudian aku merasa segala rutinitas tersebut membuat hari-hari ku mulai kacau balau, bangun kesiangan, lupa sarapan, tidak sempat mengerjakan tugas, agenda organisasi bentrok dan segala keluhan hidup lainnya.

Aku mulai berpikir apakah aku cocok untuk hidup berasrama seperti apa yang pada awalnya aku pikirkan. Dalam periode tersebut aku merasakan kerinduan untuk kembali tinggal di kos-kosan, bukan karena aku tidak betah hidup di asrama, tapi karena ada hal yang seperti membuatku ‘terpenjara’. Di saat pikiranku seperti itu, sekali dua kali aku sering ‘kabur’ dari asrama dan mampir ke kosan untuk bersenda gurau dengan teman-teman lama. Dalam kondisi itu aku terus berpikir apakah keinganan ku untuk tinggal di asrama adalah kehendak ku sendiri, apakah aku bahagia di sini, apakah ini memang tempat yang cocok untuk ku. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian mengiringi hari-hari ku di awal kehidupa berasrama.

Aku kemudian mulai berpikir positif, masukan-masukan serta cerita dari beberapa pihak tentang kehidupan berasarama membuatku mulai berpikir positif. Saat itu aku berpikir bahwa paling tidak hidup di asrama bukanlah seperti hidup di sangkar emas. Tingga di asrama ini adalah pilihan hidupku, kalau aku menyesal berarti aku sudah menyiakan potongan hidup ku tersebut untuk hal yang tidak berguna. Aku pun sadar dengan upaya ku mengubah persepsi tersebut saat itu pula aku seperti bebas dari penjara, aku pun mulai menikmati segala hal yang pada awalnya ku anggap bagai hidup di ‘sangkar emas’.

Aku sadar bahwa ketika kita berpikir untuk tidak ingin berada di suatu tempat, maka alam bawah sadar kita akan terus-menerus mencari alasan pendukung dan pembenaran tentang pikiran kita tersebut. Di manapun tempatnya, senyaman apapun fasilitasnya tempat tersebut akan tetap menjadi sebuah penjara bagi diri kita.

Tak hanya tentang tempat tinggal, ‘kondisi di mana kita tidak ingin berada’ ini akan memaksa kita untuk keuar dari sana dan merasa tidak nyaman dengan situasi apapun. Hal ini berlaku juga dengan pekerjaan yang kita kerjakan, hubungan yang kita jalani, organisasi yang kita ikuti, bahkan jurusan kuliah yang kita pelajari. Selama kita merasa tidak ingin berada di sana, maka kita akn seperti berada di dalam penjara sekalipun penjara tersebut seperti sebuah sangar emas, tempat itu tetaplah menjadi penjara bagi kita.

Ketika aku sudah mengubah persepsiku tentang kehidupan berasrama ini, aku pun mulai bisa menjalani dan menikmati kehidupanku di asrama. perlahan-lahan segala rutinitas arama ini jadi mulai menyenangkan, padahal awalnya aku merasa bahwa hal tersebut mengganggu hidup ku, tapi kini tidak lagi aku telah bebas. Aku merasakan kesenangan dan kepuasan tentang apapun yang aku lakukan di asrama ini. Satu hal yang aku dapatkan bahwa selama kita menyadari bahwa hal tersebut adalah semata keinginan hati kita maka yang pahit pun akan terasa manis pada akhirnya.

*tulisan ini terispirasi dari potongan cerita yang berjudul “Dunia Bebas” dalam buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”
Comments (1)

Andai Aku Jadi Presiden
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

"Aku ingin menyatukan rasa kepedulian mereka untuk kemudian bekerja bersama-sama menjadikan Indonesia yang menjadi lebih baik lagi"

Banyak permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini, dan tak mungkin bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Sekalipun satu pihak itu adalah pemerintah dan segala jajarannya. Kalau diibaratkan permasalahan bangsa ini sudah seperti benang kusut yang hanya bisa diperbaiki dengan memotong bagian-bagian yang kusut. Tapi permasalahan negara tidak mungkin diselesaikan dengan semudah memotong bagian benang yang kusut tersebut.

Sekali lagi Aku katakan bahwa permasalahan negara ini tidak akan terselesaikan oleh satu pihak, oleh presiden. Kontribusi yang dilakukan seluruh warga negara itu akan sangat berarti, sekalipun yang dilakukan hanyalah hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Apalagi sampai mampu berkontribusi nyata dalam lingkup yang lebih luas, seperti apa yang telah berhasil dilakukan oleh gerakan Indonesia mengajar, Indonesia Berkebun atau Komunitas Sinjai (FesTik) dengan perkumpulan bloggernya.

Aku memang paham bagaimana beratnya mengemban amanah menjadi seorang presiden, Aku sendiri pernah ingat suatu ketika diangkat menjadi seorang ketua organisasi non formal. Ketika Aku sebagai ketua organisasi tidak mampu berkomunikasi secara baik dengan anggota-anggota di dalamnya maka sebagus apapun program yang Aku rencanakan pada akhirnya tidak membuahkan hasil yang maksimal. Karena begitulah selayaknya seorang pemimpin, ia mampu menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya.

Ketika suatu hari Aku berkhayal menjadi seorang presiden, yang langsung terbersit di pikiran Aku saat itu adalah bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah manusia-manusia yang peduli dengan lingkungan sekitarnya, tapi kadang lingkungan yang menghambat pikiran mereka untuk berkontribusi sampai akhirnya mereka menjadi tak acuh dengan kondisi sekitarnya lagi. Layaknya anak singa yang belum diizinkan untuk berburu oleh induknya, sampai akhirnya ia tidak memiliki kemampuan lagi untuk berburu. Aku ingin mereka bisa berkontribusi, baik secara personal maupun secara berkelompok.

Ketika aku nantinya menjadi presiden aku ingin seluruh masyarakat merasa bahwa mereka semua bisa berkontribusi. Tidak hanya menunggu hasil buruan dari induknya, tapi juga bisa berburu sendiri. Kita bisa melihat bahwa saat ini gerakan-gerakan sosial sudah begitu menjamur dimasyarakat, mereka melakukan hal-hal kebaikan tanpa pamrih. Satu hal yang mampu menggerakan mereka, yaitu rasa kepedulian. Aku pun menginginkan demikian, aku ingin tiap warga negara memiliki rasa kepedulian yang sama dan sebagai presiden aku akan mendukung semua kontribusi mereka sekalipun kontribusi tersebut hanya dalam lingkup yang sempit.

Aku pernah dengar bahwa di Bandung, terdapat banyak komunitas kreatif yang berkreasi dengan caranya masing-masing. Kemudian seorang Ridwan Kamil mampu menyatukan berbagai komunitas kreatif di sana menjadi satu gerakan bersama dalam naungan Bandung Creative City Forum. Di mana masing-masing komunitas tetap bekerja berdasarkan core competence­-nya masing-masing namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadi bermanfaat untuk Bandung yang lebih baik.

Yang luar biasa, hal itu dilakukan oleh seorang Ridwan Kamil ketika dia belum menjadi Walikota Bandung. Kang Emil di sini memberikan gambaran bahwa setiap orang pada dasarnya bisa berkontribusi dengan caranya masing-masing. Kemudian ketika telah diangkat menjadi pemimpin Ia pun tak sungkan untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang memberikan kontribusi untuk Bandung. Selain itu, Ia tak lupa memperhatikan masyarakatnya secara intens, salah satunya memalui media baru yang berkembang saat ini, yaitu lewat media sosial. Aku pun ingin seperti itu.

Jika aku menjadi Presiden, aku ingin mendukung apapun kontribusi dari masyarakat, baik yang sifatnya personal maupun komunitas, aku juga ingin sekali membuat mereka tergabung menjadi satu komunitas yang terintegrasi, seperti halnya Bandung Creative City Forum. Sehingga mereka bukan lagi terpisah-pisah dalam gerakan yang sifatnya kelompok kecil dan cakupannya sempit, melainkan mereka adalah komunitas sosial yang besar dengan kontribusi yang besar juga. Aku ingin menyatukan rasa kepedulian mereka untuk kemudian bekerja bersama-sama menjadikan Indonesia yang menjadi lebih baik lagi dengan cara mereka sendiri sesuai dengan core competence masing-masing komunitas sosial.

Menjadi seorang presiden adalah amanah yang diberikan oleh seluruh warga negara. Seseorang yang diangkat menjadi presiden berarti ia dipercaya oleh rakyat, sehingga siapapun yang menjadi presiden selayaknya juga bisa mempercayai rakyat yang telah mendukungnya. Mereka harus ingat bahwa rakyatnya bukan hanya di Jakarta atau di pulau Jawa, melainkan di seluruh Indonesia.

Andai aku jadi presiden, aku ingin sekali menjadikan Indonesia yang lebih baik lagi karena aku percaya seluruh rakyat Indonesia juga memiliki keinginan yang sama, dan aku percaya hal itu bisa diwujudkan jika dilakukan secara bersama-sama.


images from: http://i.imgur.com/RCnTX8G.png (edited by ridho)
Comments (28)

Lakukan dan Nikmati Sajalah
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Takdir memang tak pernah salah alamat. Lakukan dan nikmati, dua kata ini awalnya hanyalah sebagai mantra dan upayaku untuk menghibur diri atas takdir yang aku terima sekitar sebulan yang lalu. Ya, aku yang ingin sekali mendapatkan kesempatan magang di salah satu media cetak Islam Nasional, seperti Republika. Tetapi justru harus dipaksa rela menerima ‘undian nasib’ untuk megang di perusahaan radio yang pada dasarnya aku hindari.

Sampai akhirnya mantra ‘lakukan dan nikmati sajalah’ ini telah menguatkanku menjalani segala kondisi ini. Semakin banyak yang aku dapatkan ditempat yang pada awalnya tidak aku inginkan ini, semakin banyak aku bersyukur bahwa tidak ada yang salah dari keputusan Allah. Karena terkadang segala hal akan bisa kita lakukan dilakukan dengan senang hati jika ada "sesuatu" di dalamnya. Semoga "sesuatu" itu hanya Allah Swt.

“Bahagia itu sederhana, cukup hargai apa yang kita lakukan. Dan syukuri apa yang sekarang kita miliki.”

Masih tentang mantra ‘lakukan dan nikmati’, saat itu aku baru selesai dari rutinitas magang yang melelahkan. Hari itu di asrama sedang sibuk mendiskusikan tentang agenda bersama ppsdms, yaitu buka bersama warga. Ya, buka bersama warga ini memang rutin di adakan setiap tahunnya oleh rekan-rekan ppsdms saat bulan ramadhan, kali ini kami mengusung tema “Indahnya Berbagi di Bulan yang Suci”. Yang mengagetkan adalah hari itu aku ditunjuk sebagai MC untuk acara tersebut.

Saat itu yang aku pikirkan hanyalah terima, lalui, nikmati dan bersyukur sajalah. Semoga akan ada kejutan indah pada akhirnya. Walaupun sampai menjelang acara aku masih tidak mengerti apa yang harus aku lakukan selama menjadi MC nanti, tapi sudahlah, tinggal lakukan dan nikmati sajalah.

Hari itu, peserta bukber warga ini di dominasi oleh anak-anak, walhasil selama acara riuh suara bocah-bocah terdengar memenuhi ruangan auditorium. Namun, di sinilah letak kebahagiaan hari itu, kapan lagi bisa bercengkrama dan bersenda gurau bersama anak-anak nan berisik seperti ini. Pada akhirnya segala sesuatu dalam hidup ini kenyataannya mampu membuat kita bahagia. Semua tergantung bagaimana kita menghadapinya.

Setelah beberapa hari dari acara bukber warga tersebut, aku kemudian berubah menjadi begitu popular di antara anak-anak tersebut. Saat aku datang ke masjid untuk shalat isya dan tarawih di masjid dekat anak-anak tersebut tinggal, aku disambut hangat oleh mereka.

Sekali lagi aku merasa begitu senang dan bahagia, seakan semua beban itu hilang di tengah tawa dan senyum anak-anak tersebut. Aku belajar, bahwa semua takdir itu pada dasarnya baik, lakukan dan nikmati sajalah dan yakin akan ada kejutan indah dari Allah atas apa yang kita lakukan tersebut.
Comments (0)

Habis Hujan Terbitlah Pelangi
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

“sesuatu keindahan yang muncul setelah selesai dari fase ujian adalah sebuah hal yang akan selalu dinantikan, mungkin seperti itulah pelangi.”

Hujan yang disertai petir yang mengguyur Jakarta sejak waktu ashar mungkin sempat membuat masyarakat enggan untuk keluar rumah, namun sesaat jelang maghrib masyarakat kemudian bergegas keluar rumah bahkan sampai naik ke atas atap rumah mereka untuk menyaksikan fenomena langit berwarna-warni yang membentuk lengkungan setengah lingkaran di ufuk timur.

Namanya pelangi, ia akan selalu membuat takjub siapa saja yang melihatnya, terlebih fenomena ini terjadi di belantara hutan beton kota Jakarta. Saat itu, akupun bertingkah laku seperti masyarakat Jakarta kebanyakan yang keluar rumah untuk melihat betapa indahnya fonomena ciptaan Allah tersebut. Saat aku pertama mengetahui tentang kemunculan pelangi ini bahkan aku sampai tak peduli dengan apa yang sedang ku lakukan. Aku berlari ke atap untuk menikmati langsung pemandangan indah yang tak terprediksikan ini.

Dari pelangi kita belajar bahwa setelah duka setelahnya akan muncul keindahan. ketika langit sedang menangis, maka hujan turun. Saat tangisan itu reda kemudian muncul ala pelangi. Sebuah filosofi sederhana ini mengisyaratkan bahwa tanpa hujan, pelangi tak akan pernah mau muncul. Tanpa ada duka, maka tak akan ada keindahan dan kebahagiaan

Sesuatu keindahan yang muncul setelah selesai dari fase ujian adalah sebuah hal yang akan selalu dinantikan, mungkin seperti itulah pelangi. Pelangi itu muncul disaat yang sangat tepat. Ketika suasana sudah kembali nyaman, ketika segala tak ada lagi air yang menetes, ketika tak masalah tak lagi menggerecoki seseorang.

Maka seberkas pelangi yang muncul itupun akan terlihat jauh lebih indah, dan lebih membahagiakan. Keindahannya seperti lengkung sabit yang mengembang di wajah seseorang seiring meredanya masalah yang Ia hadapi.
Comments (2)