hover animation preload
Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Memaknai Filosofi Pagi
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Siapa yang tidak bisa menikmati pagi mungkin ia juga tidak bisa menikmati hidupnya.”

Pagi itu bukan hanya tentang waktu terbitnya matahari. Pagi bukanlah sekedar pertanda dimulainya aktivitas manusia. Hadirnya Pagi ini juga seakan mengabarkan bahwa dunia dimulai lagi, kehidupan berputar lagi.

Pagi datang setiap hari, tapi hanya sedikit yang mampu memaknai setiap fase kehadiran Pagi. Tidak semua orang sadar bahwa pagi hanya datang sebentar kemudian pergi lagi. Indahnya pagi hanya akan dirasakan oleh mereka yang sangat bersemangat ingin melihat sunrise hidupnya. Mereka ingin harinya di awali dengan hal yang indah untuk kemudian menutup harinya dengan kepuasan setelah melihat sunset di akhir harinya.

Mungkin hanya ada satu kata “menyesal” bagi mereka yang tidak memanfaatkan waktu paginya, tidak bergegas mempersiapkan aktivitasnya, tidak berani mengambil keputusan besar di pagi harinya. Mereka tidak sempat menikmati sunrise dan mereka juga melewatkan segala keindahan pagi.

Bersemangatlah menyambut pagi. Karena tidak ada waktu seramah pagi, Ia datang membawa embun, mengundang kicauan burung. Saat pagi, keheningannya menenangkan, segarnya seakan menggairahkankan, pagi datang diantara cerianya wajah manusia, pagi selalu datang mencurahkan kesejukan, pagi pun selalu datang dengan membawa harapan-harapan baru.

Dengan memaknai pagi maka kita akan mulai bisa mengawali hari dengan hal positif. Dengan memaknai pagi maka kita akan selalu bersyukur dengan adanya kesempatan dan harapan baru tentang hidup lebih baik. Karena pagi adalah awal kehidupan. Syukurilah, hargailah, dan maknailah pagi. SEMANGAT PAGI!
Comments (5)

Bebas itu Berasal dari Keinginan Hati
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,


"...selama kita menyadari bahwa hal tersebut adalah semata keinginan hati kita maka yang pahit pun akan terasa manis pada akhirnya."

Tinggal di asrama pada awalnya menjadi hal yang begitu diidamkan. Banyak sekali ekspektasi luar biasa yang aku pendam sebelum aku berasakan bagaimana kehidupan berasrama. Di dalam pikiran ku hidup berasrama berarti hidup bersama-sama dan menanggung kesenangan dan kesulitan secara bersama-sama. Saling menularkan keunggulan masing-masing kepada penghuni asrama lain, saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Intinya yang aku pikirkan tentang asrama adalah sebuah tempat tinggal dengan penuh dinamika dan kebersamaan di dalamnya. Kemudian satu alasan terakhir yang membuat ku beranggapan bahwa tinggal dia asrama itu akan menyenangkan adalah seperti kata pepatah “rumput tetangga memang terlihat lebih hijau dari rumput sendiri.”

Dengan segelintir ekspektasi tersebut akhirnya aku memutuskan pidah dari kos-kosan, sebelumnya aku memang sudah hidup bersama-sama, dengan teman-teman seperrmainan saat SMA. Namun dengan keputusan ku berpindah ke asrama aku berharap untuk keluar dari comfort zone dan berproses menjadi diri yang lebih baik lagi. Setelah di fase awal menikmati kehidupan berasrama rasa-rasanya aku sudah mulai kerasan dengan situasi seperti ini, sampai akhirnya…

Aku merasa seperti kehidupanku mulai terbatasi layaknya hidup di sangkar emas, segala hal ada aturannya, mau ini di atur mau itu diatur, jam segini ada agenda itu jam segitu ada agenda ini. Hari ini aku harus piket ini, membersihkan itu dan segala hal lainnya. hingga kemudian aku merasa segala rutinitas tersebut membuat hari-hari ku mulai kacau balau, bangun kesiangan, lupa sarapan, tidak sempat mengerjakan tugas, agenda organisasi bentrok dan segala keluhan hidup lainnya.

Aku mulai berpikir apakah aku cocok untuk hidup berasrama seperti apa yang pada awalnya aku pikirkan. Dalam periode tersebut aku merasakan kerinduan untuk kembali tinggal di kos-kosan, bukan karena aku tidak betah hidup di asrama, tapi karena ada hal yang seperti membuatku ‘terpenjara’. Di saat pikiranku seperti itu, sekali dua kali aku sering ‘kabur’ dari asrama dan mampir ke kosan untuk bersenda gurau dengan teman-teman lama. Dalam kondisi itu aku terus berpikir apakah keinganan ku untuk tinggal di asrama adalah kehendak ku sendiri, apakah aku bahagia di sini, apakah ini memang tempat yang cocok untuk ku. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian mengiringi hari-hari ku di awal kehidupa berasrama.

Aku kemudian mulai berpikir positif, masukan-masukan serta cerita dari beberapa pihak tentang kehidupan berasarama membuatku mulai berpikir positif. Saat itu aku berpikir bahwa paling tidak hidup di asrama bukanlah seperti hidup di sangkar emas. Tingga di asrama ini adalah pilihan hidupku, kalau aku menyesal berarti aku sudah menyiakan potongan hidup ku tersebut untuk hal yang tidak berguna. Aku pun sadar dengan upaya ku mengubah persepsi tersebut saat itu pula aku seperti bebas dari penjara, aku pun mulai menikmati segala hal yang pada awalnya ku anggap bagai hidup di ‘sangkar emas’.

Aku sadar bahwa ketika kita berpikir untuk tidak ingin berada di suatu tempat, maka alam bawah sadar kita akan terus-menerus mencari alasan pendukung dan pembenaran tentang pikiran kita tersebut. Di manapun tempatnya, senyaman apapun fasilitasnya tempat tersebut akan tetap menjadi sebuah penjara bagi diri kita.

Tak hanya tentang tempat tinggal, ‘kondisi di mana kita tidak ingin berada’ ini akan memaksa kita untuk keuar dari sana dan merasa tidak nyaman dengan situasi apapun. Hal ini berlaku juga dengan pekerjaan yang kita kerjakan, hubungan yang kita jalani, organisasi yang kita ikuti, bahkan jurusan kuliah yang kita pelajari. Selama kita merasa tidak ingin berada di sana, maka kita akn seperti berada di dalam penjara sekalipun penjara tersebut seperti sebuah sangar emas, tempat itu tetaplah menjadi penjara bagi kita.

Ketika aku sudah mengubah persepsiku tentang kehidupan berasrama ini, aku pun mulai bisa menjalani dan menikmati kehidupanku di asrama. perlahan-lahan segala rutinitas arama ini jadi mulai menyenangkan, padahal awalnya aku merasa bahwa hal tersebut mengganggu hidup ku, tapi kini tidak lagi aku telah bebas. Aku merasakan kesenangan dan kepuasan tentang apapun yang aku lakukan di asrama ini. Satu hal yang aku dapatkan bahwa selama kita menyadari bahwa hal tersebut adalah semata keinginan hati kita maka yang pahit pun akan terasa manis pada akhirnya.

*tulisan ini terispirasi dari potongan cerita yang berjudul “Dunia Bebas” dalam buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”
Comments (1)

Buatlah Hari ini Bermakna
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Awalnya aku terbiasa mengeluh terkait apa yang sedang menjadi tanggung jawabku, ku anggap itu semua sebagai beban. Pada saat itu aku berpikir semua hal ini membuat hari-hari ku sangat sulit. Padahal aku sendiri yang memilih untuk berada di posisi itu. Aku seperti orang yang tidak menghargai kehidupan ku yang bermula dari keputusan ku sendiri.

Di saat-saat seperti ini, aku justru berpikir untuk sejenak melupakan semua beban tersebut dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan untuk membuat hidup ku lebih berwarna dan tidak monoton. Awalnya memang akan terasa indah dan menyenangkan, sampai akhirnya aku terpaksa harus kembali kepada realitas bahwa aku masih memiliki setumpuk beban yang belum terselesaikan. Kemudian aku pun menyadari bahwa hidup memang membutuhkan percikan kisah yang bisa menjadikan hidup ini tidak sekedar flat saja, namun pada akhirnya kita sendiri lah yang bisa mengatur bagaimana respon kita dalam menanggapi permasalahan hidup kita tersebut.

Setelah refresing singkat aku kembali mengingat-ingat terkait sikap seperti apa yang seharusnya aku pilih di saat kondisi seperti ini. Nikmati saja, mungkin kata ini cukup menjadi sebuah penyikapan yang paling ideal di saat-saat seperti ini. Apapun yang terjadi hadapilah dengan senyum. Aku pun kemudian benar-benar mencoba mempraktekkan sikap tersebut selama seharian ini. Hal tersebut semata-mata untuk mencoba menjadikan hariku lebih bermakna.

Ketika aku harus bangun dengan beban tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk, aku mencoba tersenyum. Ketika aku harus melakukan rutinitas pagi untuk hadir diagenda mingguan taekwondo ppsdms, meski kaki ku sedang terkilir, aku tetap tersenyum. Kemudian ketika aku harus kehilangan peralatan mandi menjelang berangkat kuliah, aku tetap tersenyum.

Ketika aku harus menempuh waktu 15 menit menuju kampus dari yang biasanya hanya 5 menit saja karena ada penggusuran di stasiun UI, aku tersenyum. Ketika belum menyiapkan slide presentasi padahal waktu presentasi sudah di depan mata, aku masih tetap bisa tersenyum. Ketika di saat presentasi, aku belum memberikan sesuatu yang maksimal, aku tersenyum. Di saat aku harus menyelesaikan tugas lainnya (membuat CG-PBTV) setelah satu tugas (pengsosmed) telah diselesaikan aku tersenyum.

Kemudian di saat aku berbuat kesalahan dalam sebuah tugas praktek kelompok (PBTV), aku masih bisa tersenyum. Bahkan di saat aku harus menguras tenaga dan waktu selama kurang lebih 10 jam, hampir nonstop di depan laptop sekali lagi aku tak sungkan untuk tetap tersenyum.

Sampai akhirnya aku harus membantu teman pun, aku hanya bisa tersenyum. Hari ini terasa lebih bermakna dengan untaian senyum. Maka, seandainya anda ingin menghargai hidup, tersenyumlah. Karena senyum akan membuat hari-hari anda jauh lebih bermakna.
Comments (2)

Menjaga Kata Maaf
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

Mungkin ada banyak hal yang telah kita lakukan. Mungkin dari sekian banyak hal itu terdapat banyak kesalahan yang akhirnya membuat kita harus meminta maaf kepada orang lain. Karena bagi sebagian orang dengan meminta maaf maka separuh beban dari kesalahan tersebut seperti hilang bersama untaian kata maaf tersebut.

Namun di lain sisi terlalu sering menyampaikan permohonan maaf pun terkadang akan membuat makna dan esensi dari kata maaf itu semakin berkurang. Atau mungkin saja ketika seseorang terlalu mudah mengumbar kata maaf dapat membuat respek orang lain kepada mereka yang mengumbar permintaan maaf tersebut menjadi lebih rendah bahkan hilang sama sekali.

Padahal jika seseorang itu benar-benar merasa menyesal karena telah melakukan kesalahan, tidaklah mungkin ia akan melakukan kesalahan tersebut sampai lebih dari tiga kali. Sehingga orang tersebut juga tak perlu mengumbar permohonan maaf untuk orang lain.

Coba bayangkan jika ada orang yang terus menerus mengumbar permohonan maaf kepada kita, awalnya mungkin akan kita maafkan namun jika hal itu berlangsung terus menerus bukankan hal tersebut justru cuma menjadi gangguan bagi kita saja. Ketika kita telah memahami bagaimana rasanya diposisi orang yang harus menerima maaf terus menerus maka yang harusnya kita lakukan tidak bersikap demikian.

Cara terbaik adalah dengan berusaha untuk tidak terlalu mudah mengumbar permintaan maaf. Karena minta maaf itu sesungguhnya sama sekali tidak memperbaiki kondisi yang sudah lewat. Namun bukan berarti kita menjadi egois dan menolak untuk meminta maaf kepada orang lain.

Setidaknya yang bisa kita lakukan adalah berusaha sebisa mungkin tidak melakukan kesalahan, sehingga kita sendiri pun jadi lebih bisa menghargai esensi dari kata maaf itu sendiri. Karena kecenderungannya permintaan maaf dari orang yang jarang meminta maaf itu jauh lebih bernilai dan lebih dihargai oleh orang yang memberi maaf.

Pada akhirnya aku sendiri memohon maaf jika dalam tulisan ini sedikit menyinggung bahkan mengusik perasaan pembaca sekalian. Sekali lagi saya mohon maaf.
Comments (0)

Peminjam yang (Kini) Meminjamkan
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Transformasi pola pikir itu secara langsung memengaruhi perubahan tingkah laku. Orang yang tadinya suka meminjam buku dari orang lain kini sudah bisa untuk menjadi orang yang meminjamkan bukunya kepada orang lain.”

Pola pikir seseorang tentu diatur oleh kemauan seseorang itu sendiri. Ia dapat menentukan apa yang  ia yakini berdasarkan apa yang ia anggap baik dan apa yang ia anggap buruk. Namun bukan berarti kita tidak bisa terbuka dengan perubahan pola pikir pada diri kita.

Pola pikir seseorang itu juga dapat terbentuk menyesuaikan lingkungan di mana ia berada. Ketika seseorang hidup di lingkungan terpelajar, maka ia cenderung akan lebih suka kegiatan-kegiatan yang sifatnya dialektis dibandingkan kegiatan yang sifatnya hura-hura. Secara umum ketika seseorang berada di lingkungan yang positif maka ia akan tertular pola pikir positif dan jika ia berada di lingkungan negatif maka pila pikirnya cenderung negatif juga.

Adapun hal yang dapat melatarbelakangi mengapa pada akhirnya seseorang dapat mengalami perubahan pola pikir adalah ketika Ia begitu banyak bersentuhan dengan pemikiran dan kepentingan lain di luar dirinya. Seseorang mungkin dapat lari serta meninggalkan pergolakan pemikiran dan kepentingan tersebut selama tidak bersesuaian dengan dirinya. Padahal dengan kita mengenal berbagai pemikiran tersebut wawasan kita akan lebih terbuka, dan kita dapat menentukan sikap dengan lebih yakin.

Salah satu contoh yang aku alami adalah terkait kegiatan membaca dan membeli buku. Awalnya aku berpikir bahwa membeli buku itu tidak lebih baik dari pada meminjam buku. Aku merasa bahwa aku akan tetap mendapatkan manfaat yang sama dari sebuah buku ketika aku meminjam buku tersebut dari orang lain. Sehingga tanpa aku harus membeli buku tersebut aku sama sekali tidak merasa kehilangan manfaat dari pada harus membelinya sendiri.

Namun dengan adanya berbagai obrolan tentang pro-kontra antara lebih baik meminjam atau memiliki buku dengan beberapa teman akhirnya pikiranku mulai terusik. Meminjam buku memang akan menghemat pengeluaran dan kita juga tetap bisa mendapatkan ilmu dari buku yang kita pinjam.

Namun aku kemudian terusik dengan analogi sederhana dari salah seorang teman ku tersebut yang mengatakan bahwa buku itu ibarat harta, dengan buku kita bisa mewariskan ilmu yang bermanfaat kepada generasi yang akan datang. Sedangkan kalau kita hanya meminjam buku sama saja seperti kita meminjam ilmu. Ketika kita lupa dengan ilmu yang telah kita baca kita tidak dapat membuka kembali ilmu tersebut.

Sampai akhirnya saat ini aku mulai memikirkan hal itu dan berusaha mengubah pola pikir meminjam buku menjadi pemilik buku bahkan sekarang (sering) menjadi orang yang meminjamkan buku. Pada akhirnya perubahan pola pikir ini dapat terjadi ketika aku mulai bisa menerima berbagai informasi dan pendapat dari lingkungan ku sekalipun itu kadang bertentangan dengan apa yang aku pikirkan. Bila jutaan bahkan miliran manusia saja mau menerima informasi tertentu dan juga memiliki pola pikir seperti itu berarti informasi tersebut pantas dipelajari.

Kemudian aku berusaha untuk mengambil pelajaran dari informasi itu baik-baik sebelum memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Sehingga apa yang menjadi pola pikirku itu bukanlah semata-mata pengaruh dari lingkungan melainkan ditentukan berdasarkan keinginan pribadi menyesuaikan dengan apa yang ia anggap baik dan apa yang ia anggap buruk.
Comments (2)

Melihat dari Perspektif Orang Lain
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

"kadang kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika kita sudah berusaha mengerti orang lain. namun di sisi lain mereka tidak mencoba untuk mengerti kita."

Membiasakan diri untuk menempatkan diri kita pada perspektif orang lain itu tidak mudah. Namun mencoba untuk melakukan hal yang demikian itu tidak lah sulit. Bagi ku tindakan seperti ini ku sebut dengan mengerti (memahami) orang lain. Terkadang akan terjadi sedikit pertentangan di dalam diri seandainya apa yang kita ekspektasikan namun pada akhirnya tidak sama dengan kenyataan. Di sinilah perlunya sebuah kerelaan untuk mengalah demi kepentingan orang lain.

Sekali lagi ku katakan bahwa mencoba mengerti orang lain adalah sebuah kegiatan yang tidak mudah. Karena dengan kita mencoba mengerti orang lain berarti kita harus terbisa mengesampingkan perspektif pribadi terhadap suatu hal untuk kemudian menyesuaikan diri dengan perspektif orang lain yang berbeda dalam melihat hal tersebut. Karena dengan berusaha mengerti orang lain kita terkesan berada pada posisi di bawah orang yang berusaha kita mengerti. Padahal sebenarnya tidak juga.

Tantangan terbesar bagi kita yang sedang berusaha mengerti orang lain adalah cenderung tidak lagi diperhatikan perspektifnya. Orang lain akan menganggap kita sebagai pihak yang lemah bahkan cenderung perceiver atau hanya mengikuti pendapat orang lain. Kita juga dianggap sebagai pihak yang selalu terkalahkan oleh kepentingan orang lain. Jika kita masih ingin berusaha untuk mengerti orang lain maka lebih baik kita tetap berusaha memandang dari perspektif orang lain juga.

Terkadang kita memang tidak bisa berbuat apa-apa ketika kita sudah berusaha mengerti orang lain. namun di sisi lain mereka tidak mencoba untuk mengerti kita. Bukan berarti dengan kita berusaha mengerti orang lain kita sama sekali tidak memperoleh keuntungan. Idealnya orang yang selalu mencoba mengerti akan terlihat seperti orang yang bijaksana. Orang ini selalu bisa memposisikan dirinya dalam diri orang yang sedang minta dimengerti. Kemudian orang yang dianggap bijaksana ini tentu cenderung akan lebih mudah mendapatkan simpati dari orang-orang di sekitarnya.

Sehingga pada akhirnya tidak lah salah jika kita terus mencoba menjadi orang yang berusaha mengerti dan mengorbankan diri bagi mereka yang minta dimengerti? Jika kita berhasil menyelesaikan ujian ini maka otomatis kita akan naik drajat menjadi orang-orang yang bijaksana. Sekali lagi ku katakana, orang yang mengalah bukanlah orang yang kalah. Bedanya adalah orang kalah akan menjadi pengertian karena terpaksa. Sedangkan orang bijak menjadi pengertian karena ia memilih untuk itu dengan melihat dari sudut pandang orang lain. Pada intinya mencobanya itu mudah namun membiasakan diri lah yang sulit.
Comments (1)

Memenangkan Komitmen
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,



Semangat mungkin akan mudah naik dan turun, hal ini lumrah terjadi dan mungkin akan menimpa siapa saja. Hanya mereka yang berkomitmen yang mampu melalui periode jenuh serta saat-saat ia kehilangan semangat untuk kemudian bangkit dan menjalani kehidupannya kembali seperti biasa. Karena di saat kita ingin melepaskan apa yang tengah kita jalani, komitmen dalam diri lah akan membimbing kita untuk mengingat kembali saat-saat kita hendak mendapatkannya apa yang sedang kita jalani tersebut. Dengan komitmen, rasa bosan dan jenuh dalam diri akan kalah dengan ingatan kita akan saat-saat indah dalam menjalani kehidupan tersebut.

Perlu kita pahami bahwa menjalani proses untuk mencapai apa yang kita impikan itu tidaklah mudah. Kecenderungan kita memang selalu mendorong kita untuk mengindar dari tantangan dan mendatangi kesenangan. Padahal yang indah itu hanya sementara sedangkan kesenangan yang sebenarnya adalah saat kita mampu melalui rintangan untuk menjaga komitmen kita dalam mewujudkan apa yang kita impikan tersebut. Saat komitmen itu perlahan mulai luntur dari dalam diri kita, ketahuilah bahwa akan sulit untuk mencarinya kembali.

Dua paragraf di atas merupakan unek-unek yang bisa aku tuliskan saat ini. Di saat komitmen ku sendiri sedang diuji. Aku memang selalu meyakinkan kepada diriku sendiri bahwa aku adalah orang yang tidak ingin kalah oleh diriku sendiri. Aku hanya ingin mengakui kekalahan jika memang keadaannya yang memaksa demikian. Sampai akhir aku berusaha untuk tidak mengalah dengan keadaan sampai keadaan lah yang benar-benar mengalahkanku. Itulah komitmenku, bukan tentang komitmen ala kadarnya. Karena aku ingin semua yang telah aku putuskan di awal harus bisa aku jalani tanpa ada penyesalan di akhirnya.

Bagiku berkomitmen adalah seperti kita sedang berjanji dengan diri sendiri. Kita tentu akan merasa kesal dan jengkel ketika ada seseorang yang telah berjanji kepada kita kemudian kita ingkari begitu saja. Maka semestinya kita pun akan merasa jengkel bahkan sakit hati ketika diri kita ditipu oleh diri kita yang lain. Seperti itulah komitmen, ia mungkin bisa dengan mudah kita lupakan dalam ingatan kita, namun hati kita akan selalu tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan. Karena hati kita cenderung akan mengikuti komitmen yang telah kita putuskan di awal saat hendak menempuh sebuah perjalanan hidup.

Di dalam menempuh perjalanan hidup, komitmen sangatlah berperan penting. Karena pentingnya komitmen ini, maka sebelum menjalankan komitmen, setiap langkah yang akan dijalani di dalam mencapai tujuan tersebut, harus benar-benar direncanakan dengan matang. Dan setelah anda yakin dengan langkah-langkah tersebut, barulah anda dapat berkomitmen. Hingga akhirnya kita mampu memutuskan untuk memenangkan komitmen dan nantinya kita akan berhasil sampai garis akhir perjalanan dengan perasaan senang dan penuh kebanggaan.
Comments (0)

Bergantung Bagaimana Kita Menyikapinya
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Gak pernah ada hujan terburuk sepanjang masa, yang ada sikap terburuk kita terhadap hujan sepanjang masa.” (Harishmawan)

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang bagaimana saya memaknai diri saya menikmati hujan. Karena walau bagaimana pun hujan bagi saya adalah tetap sebuah berkah dan anugrah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Namun, saat ini mungkin saya sendiri dihadapkan pada kondisi yang berbeda, di mana hujan ini kini seakan berubah menjadi sebuah musibah, lebih tepatnya menjadi musibah bagi sebagian orang yang menganggapnya demikian.

Hujan sepagi (17/01) kemarin memang sekali lagi telah berhasil menenggelamkan sebagian wilayah Jakarta, bahkan genangan air ini juga mengisi sebagian dalam rumahku.  Tidak ada yang baru menurutku tetapi menurut apa yang disampaikan oleh orang tua ku saat ia menerima telepon dari salah seorang sahabatnya  yang menanyakan kondisi rumah kami saat itu, “Di sini baru saya kebagian berkah, alhamdulillah sudah sekitar 60 centimeter di dalam rumah.”

Awalnya saya menganggap bahwa, tidak ada yang spesial dari anggapan seperti itu, sampai saya coba praktikan sendiri apa yang dilakukan oleh ayah saya tersebut kepada sahabat-sabat yang menanyakan kondisi rumah saya. Saya katakan pada mereka bahwa disini seru-seru saja, sudah banjir di dalam rumah sudah setinggi betis lumayanlah bisa untuk berenang. Ada perasaan lega dan menerima dengan apa yang terjadi membuat saya begitu menikmati kondisi seperti ini. Kondisi yang mungkin bagi sebagian orang menjadi celah mereka untuk mengeluh dan merutuki nasib mereka.

Mungkin sebelumnya saya sempat  menanggapi kondisi ini seperti sebagian orang tadi, kita menolak kondisi yang terlanjurr terjadi pada diri kita. Akibatnya mungkin kita jadi lebih emosional, mudah mengeluh, berandai-andai ketika kita bisa mencegah kondisi seperti ini. Atau bahkan yang lebih parahnya lagi kita bisa saja melakukan hal-hal yang bisa membuat kondisinya lebih buruk lagi.

Dalam kondisi seperti  ini saya belajar bahwa dalam hidup kita akan mengalami kondisi di mana kita tidak bisa menerima hal tersebut namun kita tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengubah  hal tersebut. Maka yang paling mungkin untuk bisa dilakukan adalah dengan menerimanya bahkan yang lebih ekstrim adalah dengan berusaha menikmatinya. Seperti saya berusaha menikmati hujan dan banjir ini.

Dengan cara seperti itu, mungkin saja perasaan menderita kita terhadap suatu hal bisa saja bisa akan hilang seketika. Karena pada dasarnya setiap orang memiliki kendali penuh akan perasaannya masing-masing. Dan perasaan itu akan mengikuti apa yang dipikirkan oleh tuannya.

Kita mungkin saja tidak akan bisa membuat banjir yang terjadi untuk bisa surut dengan seketika tetapi kita selalu bisa melepas, serta membiarkan pikiran-pikiran buruk dalam diri kita untuk pergi dan tidak mengganggu perasaan kita. Sehingga kita bisa menikmati segala musibah yang menghampiri kita dengan peraasaan yang lebih lega dan menerima hal tersebut. Karena gak pernah ada hujan terburuk sepanjang masa, yang ada sikap terburuk kita terhadap hujan sepanjang masa.
Comments (0)