hover animation preload
Showing posts with label kisah inspirasi. Show all posts
Showing posts with label kisah inspirasi. Show all posts

Bahagianya Ketika Kita Tiba di Puncak
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,


"Bahagia itu sederhana, ketika kita bisa menyelesaikan sesuatu dan sampai di tujuan dengan hasil kerja keras dan pengorbanan secara bersama-sama itulah bahagia."


Seseorang tak akan tahu bahagianya seseorang yang berhasil mencapai puncak gunung kalau ia tidak mencobanya sendiri. Aku ingin sekali merasakan hal yang seperti itu. Merasakan bahagia setelah berlelah-lelah menggerakkan kaki ribuan langkah untuk mencapai puncak, yang sampai sekarang belum pernah ku lakukan.

Sampai sekarang aku masih berkeinginan mewujudkan hal tersebut sebelum aku benar-benar tidak punya kesempatan lagi. Sebelum ini aku sudah pernah melakukan perjalanan gunung, tapi itu belum seberapa aku belum pernah menyentuh puncak. Namun, walaupun hanya mencapai kawah nya saja perasaan bahagia itu begitu luar biasa, dan aku bisa membayangkan betapa lebih bahagianya ketika aku benar-benar sampai di puncak gunung.

Seperti itu pula yang juga aku rasakan di kehidupanku saat ini. Aku seperti baru saja menyelesaikan pendakianku menuju puncak. Ya, setelah melakukan berbagai kerja keras dan pengorbanan, akhirnya aku berhasil menyelesaikan salah satu tugas berat sebagai mahasiswa yaitu magang. Rasanya sungguh luar biasa. Ada perasaan lega, dan bahagia. Bagaimana tidak, aku berhasil melalui perjalanan dua bulan dengan susah payah, perasaan senang dan bosan menjadi kisah sepanjang dua bulan ini. Sampai akhirnya hani ini aku bisa bernapas lega karena semuanya telah berhasil aku lalui.

Mungkin apa yang aku lalui selama magang ini bisa ku analogikan seperti perjalanan mendaki gunung. Segala perasaan itu dimulai dengan antusiasme besar untuk mendapatkan pengalaman berharaga, kemudian awal perjalanan akan begitu menyenangkan, sampai di separuh jalan akan muncul kebosanan sampai ada hal yang membuatku akhirnya bersemangat lagi mencapai tujuan akhir dari pendakian ini. Di bagian akhir aku pun bersemangat lagi karena ingin segera sampai di puncak. Ya begitulah, dan ketika sampai di puncak rasanya begitu luar biasa dan sangat ingin aku membagi kebahagiaan itu kepada orang-orang sekitarku.

Seperti itu pula perjalanan hidup, dan aku pun menyadari segala kesulitan itu tak mungkin bisa ku lalui sendirian. Selalu ada orang yang bisa ku ajak berbagi selama perjalanan mencapai tujuan itu, saat mendaki gunung maupun menyelesaikan magang teman-teman lah yang memberiku semangat untuk tetap menlanjutkan perjalanan sampai akhir, tanpa mereka mungkin aku tak akan sampai di puncak.

Bagiku bahagia itu sederhana, ketika kita bisa menyelesaikan sesuatu dan sampai di tujuan dengan hasil kerja keras dan pengorbanan secara bersama-sama itulah bahagia. Setelah ini, masih banyak tantangan hidup yang harus ku lalui. Masih ada tantangan semester akhir, kemudian pilihan hidup tentang melanjutkan ke jenjang pasca kampus, entah kerja ataupun melanjutkan kuliah. Saat ini aku selalu berharap bahwa di setiap masanya akan ada teman-teman yang selalu membersamaiku di setiap potongan kisah hidupku.
Comments (1)

Lakukan dan Nikmati Sajalah
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Takdir memang tak pernah salah alamat. Lakukan dan nikmati, dua kata ini awalnya hanyalah sebagai mantra dan upayaku untuk menghibur diri atas takdir yang aku terima sekitar sebulan yang lalu. Ya, aku yang ingin sekali mendapatkan kesempatan magang di salah satu media cetak Islam Nasional, seperti Republika. Tetapi justru harus dipaksa rela menerima ‘undian nasib’ untuk megang di perusahaan radio yang pada dasarnya aku hindari.

Sampai akhirnya mantra ‘lakukan dan nikmati sajalah’ ini telah menguatkanku menjalani segala kondisi ini. Semakin banyak yang aku dapatkan ditempat yang pada awalnya tidak aku inginkan ini, semakin banyak aku bersyukur bahwa tidak ada yang salah dari keputusan Allah. Karena terkadang segala hal akan bisa kita lakukan dilakukan dengan senang hati jika ada "sesuatu" di dalamnya. Semoga "sesuatu" itu hanya Allah Swt.

“Bahagia itu sederhana, cukup hargai apa yang kita lakukan. Dan syukuri apa yang sekarang kita miliki.”

Masih tentang mantra ‘lakukan dan nikmati’, saat itu aku baru selesai dari rutinitas magang yang melelahkan. Hari itu di asrama sedang sibuk mendiskusikan tentang agenda bersama ppsdms, yaitu buka bersama warga. Ya, buka bersama warga ini memang rutin di adakan setiap tahunnya oleh rekan-rekan ppsdms saat bulan ramadhan, kali ini kami mengusung tema “Indahnya Berbagi di Bulan yang Suci”. Yang mengagetkan adalah hari itu aku ditunjuk sebagai MC untuk acara tersebut.

Saat itu yang aku pikirkan hanyalah terima, lalui, nikmati dan bersyukur sajalah. Semoga akan ada kejutan indah pada akhirnya. Walaupun sampai menjelang acara aku masih tidak mengerti apa yang harus aku lakukan selama menjadi MC nanti, tapi sudahlah, tinggal lakukan dan nikmati sajalah.

Hari itu, peserta bukber warga ini di dominasi oleh anak-anak, walhasil selama acara riuh suara bocah-bocah terdengar memenuhi ruangan auditorium. Namun, di sinilah letak kebahagiaan hari itu, kapan lagi bisa bercengkrama dan bersenda gurau bersama anak-anak nan berisik seperti ini. Pada akhirnya segala sesuatu dalam hidup ini kenyataannya mampu membuat kita bahagia. Semua tergantung bagaimana kita menghadapinya.

Setelah beberapa hari dari acara bukber warga tersebut, aku kemudian berubah menjadi begitu popular di antara anak-anak tersebut. Saat aku datang ke masjid untuk shalat isya dan tarawih di masjid dekat anak-anak tersebut tinggal, aku disambut hangat oleh mereka.

Sekali lagi aku merasa begitu senang dan bahagia, seakan semua beban itu hilang di tengah tawa dan senyum anak-anak tersebut. Aku belajar, bahwa semua takdir itu pada dasarnya baik, lakukan dan nikmati sajalah dan yakin akan ada kejutan indah dari Allah atas apa yang kita lakukan tersebut.
Comments (0)

Buatlah Hari ini Bermakna
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Awalnya aku terbiasa mengeluh terkait apa yang sedang menjadi tanggung jawabku, ku anggap itu semua sebagai beban. Pada saat itu aku berpikir semua hal ini membuat hari-hari ku sangat sulit. Padahal aku sendiri yang memilih untuk berada di posisi itu. Aku seperti orang yang tidak menghargai kehidupan ku yang bermula dari keputusan ku sendiri.

Di saat-saat seperti ini, aku justru berpikir untuk sejenak melupakan semua beban tersebut dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan untuk membuat hidup ku lebih berwarna dan tidak monoton. Awalnya memang akan terasa indah dan menyenangkan, sampai akhirnya aku terpaksa harus kembali kepada realitas bahwa aku masih memiliki setumpuk beban yang belum terselesaikan. Kemudian aku pun menyadari bahwa hidup memang membutuhkan percikan kisah yang bisa menjadikan hidup ini tidak sekedar flat saja, namun pada akhirnya kita sendiri lah yang bisa mengatur bagaimana respon kita dalam menanggapi permasalahan hidup kita tersebut.

Setelah refresing singkat aku kembali mengingat-ingat terkait sikap seperti apa yang seharusnya aku pilih di saat kondisi seperti ini. Nikmati saja, mungkin kata ini cukup menjadi sebuah penyikapan yang paling ideal di saat-saat seperti ini. Apapun yang terjadi hadapilah dengan senyum. Aku pun kemudian benar-benar mencoba mempraktekkan sikap tersebut selama seharian ini. Hal tersebut semata-mata untuk mencoba menjadikan hariku lebih bermakna.

Ketika aku harus bangun dengan beban tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk, aku mencoba tersenyum. Ketika aku harus melakukan rutinitas pagi untuk hadir diagenda mingguan taekwondo ppsdms, meski kaki ku sedang terkilir, aku tetap tersenyum. Kemudian ketika aku harus kehilangan peralatan mandi menjelang berangkat kuliah, aku tetap tersenyum.

Ketika aku harus menempuh waktu 15 menit menuju kampus dari yang biasanya hanya 5 menit saja karena ada penggusuran di stasiun UI, aku tersenyum. Ketika belum menyiapkan slide presentasi padahal waktu presentasi sudah di depan mata, aku masih tetap bisa tersenyum. Ketika di saat presentasi, aku belum memberikan sesuatu yang maksimal, aku tersenyum. Di saat aku harus menyelesaikan tugas lainnya (membuat CG-PBTV) setelah satu tugas (pengsosmed) telah diselesaikan aku tersenyum.

Kemudian di saat aku berbuat kesalahan dalam sebuah tugas praktek kelompok (PBTV), aku masih bisa tersenyum. Bahkan di saat aku harus menguras tenaga dan waktu selama kurang lebih 10 jam, hampir nonstop di depan laptop sekali lagi aku tak sungkan untuk tetap tersenyum.

Sampai akhirnya aku harus membantu teman pun, aku hanya bisa tersenyum. Hari ini terasa lebih bermakna dengan untaian senyum. Maka, seandainya anda ingin menghargai hidup, tersenyumlah. Karena senyum akan membuat hari-hari anda jauh lebih bermakna.
Comments (2)

Bergantung Bagaimana Kita Menyikapinya
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Gak pernah ada hujan terburuk sepanjang masa, yang ada sikap terburuk kita terhadap hujan sepanjang masa.” (Harishmawan)

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang bagaimana saya memaknai diri saya menikmati hujan. Karena walau bagaimana pun hujan bagi saya adalah tetap sebuah berkah dan anugrah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Namun, saat ini mungkin saya sendiri dihadapkan pada kondisi yang berbeda, di mana hujan ini kini seakan berubah menjadi sebuah musibah, lebih tepatnya menjadi musibah bagi sebagian orang yang menganggapnya demikian.

Hujan sepagi (17/01) kemarin memang sekali lagi telah berhasil menenggelamkan sebagian wilayah Jakarta, bahkan genangan air ini juga mengisi sebagian dalam rumahku.  Tidak ada yang baru menurutku tetapi menurut apa yang disampaikan oleh orang tua ku saat ia menerima telepon dari salah seorang sahabatnya  yang menanyakan kondisi rumah kami saat itu, “Di sini baru saya kebagian berkah, alhamdulillah sudah sekitar 60 centimeter di dalam rumah.”

Awalnya saya menganggap bahwa, tidak ada yang spesial dari anggapan seperti itu, sampai saya coba praktikan sendiri apa yang dilakukan oleh ayah saya tersebut kepada sahabat-sabat yang menanyakan kondisi rumah saya. Saya katakan pada mereka bahwa disini seru-seru saja, sudah banjir di dalam rumah sudah setinggi betis lumayanlah bisa untuk berenang. Ada perasaan lega dan menerima dengan apa yang terjadi membuat saya begitu menikmati kondisi seperti ini. Kondisi yang mungkin bagi sebagian orang menjadi celah mereka untuk mengeluh dan merutuki nasib mereka.

Mungkin sebelumnya saya sempat  menanggapi kondisi ini seperti sebagian orang tadi, kita menolak kondisi yang terlanjurr terjadi pada diri kita. Akibatnya mungkin kita jadi lebih emosional, mudah mengeluh, berandai-andai ketika kita bisa mencegah kondisi seperti ini. Atau bahkan yang lebih parahnya lagi kita bisa saja melakukan hal-hal yang bisa membuat kondisinya lebih buruk lagi.

Dalam kondisi seperti  ini saya belajar bahwa dalam hidup kita akan mengalami kondisi di mana kita tidak bisa menerima hal tersebut namun kita tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengubah  hal tersebut. Maka yang paling mungkin untuk bisa dilakukan adalah dengan menerimanya bahkan yang lebih ekstrim adalah dengan berusaha menikmatinya. Seperti saya berusaha menikmati hujan dan banjir ini.

Dengan cara seperti itu, mungkin saja perasaan menderita kita terhadap suatu hal bisa saja bisa akan hilang seketika. Karena pada dasarnya setiap orang memiliki kendali penuh akan perasaannya masing-masing. Dan perasaan itu akan mengikuti apa yang dipikirkan oleh tuannya.

Kita mungkin saja tidak akan bisa membuat banjir yang terjadi untuk bisa surut dengan seketika tetapi kita selalu bisa melepas, serta membiarkan pikiran-pikiran buruk dalam diri kita untuk pergi dan tidak mengganggu perasaan kita. Sehingga kita bisa menikmati segala musibah yang menghampiri kita dengan peraasaan yang lebih lega dan menerima hal tersebut. Karena gak pernah ada hujan terburuk sepanjang masa, yang ada sikap terburuk kita terhadap hujan sepanjang masa.
Comments (0)

Persahabatan ala Kukel Rangers
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Kukel Ranggers mungkin hanyalah kumpulan depalan orang yang suka saling mengejek satu sama lain. Tetapi mereka adalah sahabat terbaikku saat ini. Mereka adalah sahabat-sahabat yang mampu memberikan sebuah nasihat dengan ‘caranya sendiri’.
*****
Akmal, Furqon, Zulfikar, Ridho, Ary, Alfi, Rifki dan *Aid

Saat itu aku hanyalah seorang remaja labil yang belum memahami bagaiman rasanya hidup jauh dari rumah, dan jauh dari kedua orang tua. Saat itu aku sudah harus tidak lagi tinggal di rumah karena konsekuensi menjadi seorang mahasiswa yang berkuliah jauh dari rumah. Aku adalah seorang mahasiswa Universitas Indonesia, Depok jurusan Ilmu Komunikasi. Kini aku nge-kos, dan inilah momen pertama dalam hidupku tinggal jauh dari orang tua. Awalnya aku ragu apakah aku akan betah hidup jauh dari orang tua, karena sebelumnya aku hampir selalu menjadikan orang tua sebagai tempat untuk mencurahkan keluh kesahku. Dan memikirkan bahwa aku harus hidup jauh dari orang tua membuatku cukup sulit beradaptasi dengan lingkungan baru ini.

Aku jadi teringat tentang sebuah kalimat bijak, entah dari siapa kalimat ini terlontar, tapi kira-kira isi pesannya menyatakan bahwa, “Setiap kondisi pasti ada masalahnya dan setiap masalah pasti punya kisah manis dibaliknya”. Aku pun mulai berpikir positif, inilah salah satu kondisi dalam hidupku yang nantinya akan membuat diriku menjadi manusia yang lebih kuat lagi, menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. karena aku meyakini bahwa di setiap manusia dalam hidupnya tentu akan selalu menghadapi sebuah masalah, dan disetiap masalah pasti akan ada sebuah cerita yang akan memberikan sebuah hikmah bagi setiap orang yang berhasil melewatinya. Maka, mulai saat itu aku sudah dapat kembali menatap hidupku ke depan dan mulai menjalani kehidupan ku yang baru.

Kukel Rangers -Atas Dasar Ukhuwah-
Seperti kebanyakan mahasiswa baru, tentunya akan selektif dalam memilih tempat kos. Karena tempat kos adalah tempat yang akan menjadi tempat tinggal dan tempat beristirahat mereka setelah lelah menjalani hari-hari di kampus. Salah satu kriteria tempat kos yang aku inginkan adalah “yang peting bareng teman-teman”, intinya aku ingin di tempa kos ku nantinya aku akan tinggal bersama orang-orang terdekatku dan ada orang yang dapat ku ajak bicara selama aku berada di tinggalku yang baru nanti.
Teman kos-ku saat ini adalah mereka yang telah menemani hari-hariku saat masa SMA dulu. Di tempat kos tersebut kami memulai bersama kehidupan baru sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan bukan lagi sebagai murid SMA. Sebuah tempat tinggal baru dengan suasana baru namun dengan teman-teman lama, menurutku hal itu tidak buruk. Dan akhirnya kami pun berkumpul bersama dalam satu lingkungan yang sama, namun dengan kamar-kamar yang berbeda.

Hal yang kami lakukan di hari pertama kami berkumpul di tempat tinggal baru ini adalah kami membuat sebuah janji bersama. Pada hari itu kami berjanji bahwa kami akan menjadikan  perkumpulan ini menuju ke arah yang positif, dimana masing-masing dari kami memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan satu sama lain, khususnya dalam nilai-nilai keislaman. Kami meyakini bahwa mulai saat itu kami semua adalah saudara dan kami harus terus saling mengingatkan dan menasihati satu sama lain tentang kebaikan. Ukhuwah kecil ini kami beri nama perkumpulan Kukel Rangers.

Kukel Rangers memang merupakan sebuah nama yang terdengar agak norak. Namun, nama tersebut memiliki arti tersendiri bagi kami. Alasan kami memakai nama tersebut adalah karena tempat tinggal kami memang berada di wilayah kukusan kelurahan di mana masyarakat sekitar sering menyingkatnya menjadi ‘kukel’, sedangkan rangers kami ibaratkan sebagai pahlawan penumpas kedzaliman, dan kami berharap masing-masing dari kami pun dapat memegang teguh filosofi tersebut.

Persahabatan yang Unik
Sejak kami tinggal bersama -walaupun berbeda kamar- kami mulai merasakan hubungan keterikatan yang lebih erat dari sebelumnya. Mungkin sebuah kata ‘persahabatan’ terdengar masih belum cukup untuk mendefinisikan hubungan kami saat ini. Ada hal yang unik yang aku rasakan dari persahabatan ini, dimana aku mulai menyadari bahwa hidup itu tidak lengkap jika kita lalui semuanya sendirian. Biasanya disetiap awal semester perkuliahan, kami hampir selalu menyempatkan diri untuk melakukan berbagai kegiatan harian bersama-sama. Mulai dari shalat subuh berjamaah di mushola, olahraga pagi bersama, ngobrol-ngobrol bersama disalah satu kamar diantara kami, maen game bersama, sampai dinner party bersama. Dan setiap pekannya kami selalu berupaya menyediakan waktu untuk berkumpul bersama dan sekedar untuk berbagi bercerita tentang impian-impian kami dan tentang masa depan kami.

Aku memang sudah ‘kecanduan’ dengan kebersamaan ini, dengan persahabatan yang unik ini. Hampir setiap aktivitas ku tidak pernah terlepas dari salah seorang diantara mereka. Saat itu aku benar-benar yakin bahwa mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku, sabahat yang akan selalu ada di sekitarku saat aku senang ataupun susah. Sahabat yang rela dan melakukan segalanya bahkan tanpa ada yang memintanya, dan dari sinilah aku belajar tentang makna berbagi yang sesungguhnya.

Mereka selalu memberikan sesuatu hal yang positif bagiku, bahkan sindiran dan ejekan mereka kuanggap sebuah nilai positif, yang menuntunku ke arah yang lebih baik. Merekalah yang paling banyak berperan dalan memberikan motivasi dan semangat hidup untukku. Kukel Ranggers mungkin hanyalah kumpulan depalan orang yang suka saling mengejek satu sama lain. Tetapi mereka adalah sahabat terbaikku saat ini. Mereka adalah sahabat-sahabat yang mampu memberikan sebuah nasihat dan motivasi bagiku dengan ‘caranya tersendiri’. Bagiku dalam bersahabat kita harus selalu mampu mengambil sisi positif dari setiap interaksi dengan sahabat kita.

Indahnya Ukhuwah
Kenyataannya kukel rangers tidak melulu tentang segala sesuatu yang menyenang saja. Pernah suatu ketika di antara kami ada yang mengalami musibah berupa kamarnya kebobolan maling. Kamar yang dihuni oleh salah dua personil kukel rangers itu terpaksa harus kehilangan laptop dan handphone yang berada di kamarnya saat ditinggal shalat subuh di mushola. Saat itu seluruh kukel rangers turut berduka, kami sempat berusaha mencari maling tersebut dengan mencoba menggeledah seluruh kamar yang di kosan tempat kami tinggal. Namun hasil akhirnya adalah nihil. Dan yang kami bisa lakukan hanyalah berusaha memberikan semangat kepada mereka serta mendukung semampu kami atas segala kebutuhan mereka, terutama terkait kebutuhan mahasiswa akan laptop.

Indahnya ukhuwah semakin kami rasakan disaat tiba momen terbaik ku selama bersama dengan kukel rangers. Saat itu adalah hari ketika salah seorang personil kukel rangers berinisatif mengajak kami dinner party di salah satu restoran mewah di wilayah Depok. Bagiku momen mala mini begitu special karena, dinner kali ini terjadi di tengah kesibukan yang luar biasa dari masing-masing personil kukel rangers. Dan malam itu kami kembali bercengkrama mengisi ruang-ruang kosong di dalam hati kami yang sempat habis karena beban kesibukan kami selama di kampus.

Banyak sekali hal-hal tak terlupakan yang terjadi hari itu. Momen terbaik itu kami mulai dengan sesi berbagi cerita saat dinner. Kemudian kami lanjutkan dengan sesi jalan-jalan malam mengendarai motor mengitari kampus UI, dan momen malam itu kami tutup dengan duduk-duduk sambil bersenda gurau pinggir danau yang ada di areal kampus UI. Saat itulah aku semakin merasakan betapa indahnya persahabatan kami, betapa indahnya ukhuwah yang telah kami rangkai selama ini. Aku sangat berterima kasih karena momen malam itu, telah menjadi sebuah momen yang tak terlupakan dalam hidupku. Tak lupa aku juga begitu bersyukur telah dipertemukan dengan sahabat-sahabat seperti mereka, seperti kukel rangers.

Bersama mereka aku semakin sadar bahwa sebuah persahabatan akan terasa jauh lebih bemakna ketika kita merasa telah mampu merindukan ataupun menjadi yang dirindukan oleh sahabat kita, sehingga saat-saat bertemu mereka merupakan sebuah istimewa yang begitu berharga dan sayang sekali untuk terlewatkan begitu saja.

Oleh Abdushshabur Rasyid Ridha
Dipersembahkan untuk para sahabat sejati.
Comments (0)

Bukan Kesetaraan, tapi Keserasian
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

Suatu hari terjadi keributan kecil di sebuah sarang semut. Padahal biasanya tidak pernah ada kejadian seperti. Para semut memang sudah terbiasa bekerja bersama-sama sehingga jarang sekali terjadi keributan seperti ini.

Namun hari itu, adalah lain cerita. Ada seekor semut jantan yang merasa bosan dengan pekerjaan yang ia lakukan setiap hari. Mulai dari membetulkan sarang, pergi mencari makanan atau bahkan hanya sekedar menjaga telur-telur semut yang ada di dalam sarang. Semut yang satu ini merasa bahwa apa yang terjadi padanya adalah sebuah ketidakadilan.

Ia merasa bahwa pekerjaannya jauh lebih berat dibandingkan pekerjaan yang dilakukan oleh semut-semut betina yang ada di koloni mereka. Ia mengaggap bahwa kerja semut betina hanyalah sekedar melahirkan dan kemudian menjadi ratu, sedangkan dirinya harus bekerja keras untuk koloni tersebut.

Sampai akhirnya hari itu semut ini benar-benar merasa harus melakukan sesuatu, dan yang ia lakukan adalah mencoba memberontak dengan sistem yang sudah ada di koloni semut dan berusaha mencari ‘keadilan’.
Setelah berdebat di dalam koloni tersebut, ternyata tidak ada satupun semut yang merasa sependapat dengan dirinya. Akhirnya semut jantan itu pun pergi meninggalkan koloni semut tersebut.

Di tengah perjalanannya, semut jantan tersebut terus-menerus berpikir tentang apa yang terjadi padanya. Ia kemudian berusaha berpikir ulang mengenai apa yang sudah ia lakukan.
Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seekor lebah yang tengah beristirahat di sekitar taman bunga dekat sarang semut tersebut. Semut jantan itupun berusaha mencari pembenaran dengan bertanya pada lebah tersebut.

“Wahai lebah, bolehkah aku bertanya satu pertanyaan kepadamu?” tanya semut.
“Tentu saja boleh tuan semut,” jawab lebah tersebut. “Apa yang hendak kau tanyakan?” lebah tersebut balik bertanya kepada semut”.

“Begini, apakah aku salah ketika aku merasa diperlakukan secara tidak adil di dalam koloni semut? Tanya semut. “Aku merasa bahwa beban kerja para betina hanyalah melahirkan dan kemudian menjadi ratu yang diperlakukan sangat baik, sedangkan kami para jantan terus menerus dipaksa bekerja keras.” Kata semut menjelaskan.

“Oh, jadi begitu, memang apa yang kau inginkan wahai semut?” Tanya lebah.
“Aku ingin adanya kesetaraan serta kesamaan peran”, jawab semut dengan lantang.
“Oh begitu, baiklah akan sedikit aku jelaskan padamu wahai semut,” kata lebah dengan nada yang lembut. “Kita ini diciptakan oleh Allah secara berpasang-pasangan. Dan setiap dari kita, baik jantan ataupun betina, diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain”, kata lebah.

“Akan aku berikan sedikit contoh”, kata lebah berusaha menjelaskan. “Misalnya, di dalam koloni lebah, masing-masing memiliki perannya masing-masing; Lebah Ratu berperan sebagai penghasil keturunan, kemudian lebah pekerja tugasnya mencari makanan, serta lebah tentara bertugas untuk menjaga keamanan sekitar sarang tempat tinggal koloninya. Dan setiap peran dijalani dengan penuh tanggung jawab” lebah berusaha memberi penjelasan. “bukankah di koloni semut juga terjadi pembagian peran yang serupa?” kata lebah balik bertanya pada semut.

“Apa yang akan terjadi ketika tidak ada seekor ratu yang bekerja sebagai penghasil keturunan? Tentu koloni kita lama-kelamaan akan punah, iya kan semut?” kata lebah sambil melontarkan pertanyaan.

Semut pun terdiam, dan berpikir. Semut mulai merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Namun ia masih merasakan ada sesuatu yang janggal, “lalu bagaimana dengan kesetaraan peran yang aku tanyakan dia awal tadi wahai lebah?” tanya semut berusaha mencari kebenaran.

Kemudian lebah pun berusaha menjawab, “begini wahai semut, tidak ada yang namanya kesetaraan peran antara jantan dan betina, yang ada adalah sebuah keserasian peran antara jantan dan betina. Tanpa keserasian peran, maka yang muncul hanyalah perasaan saling cemburu antara peran-masing-masing.”.

Akhirnya semut kembali terdiam, setelah merenung sejenak, semut itu pun berpamitan kepada lebah untuk kembali pulang ke sarang. Di tengah perjalanan semut itu terus-menerus melamun, ia masih ragu tentang apa yang ia lakukan, mencari pembenaran atau ‘kebenaran’.
*****

Pada dasarnya bagi setiap muslim tidak ada baginya kesetaraan gender (peran yang sama), karena Allah telah memberikan setiap peran kepada masing-masing makhuk secara adil (adil disini bukan berarti sama). Tinggal bagaimana setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk dapat menjaga keserasian peran tersebut sehingga terjadi keharmonisan antar hubungan Adam dan Hawan ini. Salah satunya dengan berusaha menjalankan perannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. 
Comments (0)

Berkontribusi ala Mahasiswa Biasa
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Suatu hari seorang teman datang mengunjungi ke kediaman saya. Pada awalnya saya pikir kedatangannya hanyalah untuk ber-silaturahmi biasa saja. Sampai akhirnya ia akhirnya mengungkapkan maksud kedatangannya berkunjung, yaitu untuk mengajak saya ikut serta dalam rencananya membuat sebuah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang bertemakan tentang pengolahan dan daur ulang sampah, yang dalam pelaksanaannya akan melibatkan anak-anak jalanan di sekitar lingkungan Universitas Indonesia. Awalnya saya sangat menyetujui dan menyukai gagasan teman saya ini, namun dengan berat hati saya menolaknya lantaran saya sendiri saat itu sedang berada di posisi yang sangat menyibukan waktu dan pikiran saya. Dalam hati saya bergumam, “sepertinya ini bukan ranah kontribusi saya.”

Banyak sekali alasan yang melatarbelakangi saya berpikiran seperti itu, dan mungkin alasan saya ini tidak jauh berbeda dari mahasiswa-mahasiswa lainnya, yaitu kesibukan organisasi. Kegiatan yang satu ini nyatanya telah menguras waktu, pikiran serta tenaga saya dalam beberapa bulan ini.  Bukan berarti dengan kondisi yang seperti itu membuat saya tidak dapat berkontribusi. Karena menurut saya berkontribusi adalah bersedia melakukan suatu kegiatan atau aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran untuk kepentingan publik. Sehingga berkontribusi juga dapat dilakukan di organisasi tempat saya berada sekarang. Bahkan oleh siapa saja dan di mana saja.

Berkontribusi bagi Mahasiswa Biasa

Pada tulisan kali ini bukan tentang PKM atau tentang organisasi yang akan saya ulas, melainkan saya akan membahas kontribusi dari sudut pandang mahasiswa biasa (bukan mahasiswa organisatoris ataupun aktivis). Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung, melainkan mengajak bersama-sama untuk memberikan sesuatu hal yang terbaik untuk FISIP UI. Mahasiswa biasa pada dasarnya tidak memiliki kapabilitas yang jauh berbeda dari mereka yang aktif organisasi, yang membedakan hanyalah dari ‘kemauan’ saja.

Lalu apa yang mampu diberikan oleh mahasiswa biasa yang cenderung pasif dan tidak memiliki suatu wadah nyata untuk berkontribusi? Yang harusnya dilakukan adalah memulainya dari hal-hal yang kecil. Saya jadi teringat tentang ilmu yang saya dapat dari mata kuliah MPKT (Mata kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi), di dalam mata kuliah tersebut telah banyak dijelaskan hal-hal kecil yang bermanfaat yang dapat kita lakukan untuk kepentingan banyak pihak. Memungut sampah yang tercecer di jalan misalnya. Bukankah hal tersebut merupakan salah satu wujud konkrit dari sebuah kontribusi?

Sebuah bentuk kontribusi nyatanya dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak peduli apakah dia seorang aktivis ataupun seorang organisatoris. Layaknya kita tidak terpaku pada anggapan bahwa sebuah bentuk kontribusi hanya dapat dilakukan oleh mereka yang berada dalam wadah-wadah organisasi tertentu atau mereka yang duduk di lembaga-lembaga tertentu. Sadarilah bahwa pada dasarnya setiap orang, setiap mahasiswa, memiliki potensi dan kompetensinya masing-masing.

Kontribusi Kecil untuk Perubahan Besar

Intinya tak perlu muluk-muluk untuk memulai berkontribusi. Tak perlu berkecimpung terlebih dahulu di lembaga mahasiwa untuk memulai berkontribusi, atau untuk berkontribusi kita juga tidak harus berkutat membuat sebuah PKM tentang pengabdian masyarakat yang justru malah menyulitkan diri kita sendiri. Cukuplah dengan kita bersedia melakukan kebaikan-kebaikan kecil untuk kepentingan sekitar kita. Karena suatu hal kecil yang kita lakukan mungkin tak berarti di mata masyarakat sekitar, namun bukan tidak mungkin sesuatu hal kecil tersebut dapat menjadi contoh bagi orang lain yang memperhatikan prilaku kita tersebut. Dan yang terpenting dari semua itu, lakukanlah setiap halnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Pesan saya yang terakhir, jangan sampai nantinya kita hanya bisa menjadi penonton di tengah arus perubahan yang terjadi di sekitar kita tetapi jadilah bagian dari golongan tersebut. Karena perlu disadari bahwa sebuah bentuk kontribusi yang dilakukan oleh mahasiswa tidak akan menjadi penting apabila tidak ada kesadaran dalam individu mahasiswa itu sendiri. Serta kesadaran segelintir pihak juga tidak cukup mampu menghasilkan sebuah perubahan.

Karena tidak dapat dipungkiri bahwa suatu perubahan akan menjadi lebih cepat dan lebih baik manakala dilakukan secara bersama-sama. Kesamaan kesadaran yang dimiliki oleh masing-masing pihak yang dilandasi dengan satu hati ini menjadi lebih konsisten serta lebih mudah dalam bergerak, konkrit untuk berkontribusi dan berpartisipasi.

Nb:
Alhamdulillah ketika saya menuliskan tulisan ini, saya telah melaksanakan apa yang saya tuliskan tersebut. Saya telah berhasil mengirimkan PKM GT untuk PIMNAS 2012 dan Alhamdulillah lagi saya juga sudah dapa memberikan gagasan-gagasan dan ide saya melalui tulisan untuk dipublikasikan di media cetak nasional.
Comments (2)

Jaga Sikap, Komunikasi itu Irreversibel
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

"Banyak yang tidak menyadari, bahwa hampir segala hal yang manusia lakukan pasti akan membekas di hati manusia lainnya. Hal tersebut hampir sama dengan asap yang tidak akan hilang baunya sebelum benar-benar ingin dihilangkan. Begitupun dengan sikap dan prilaku kita, apa yang sudah kita lakukan dan kita sampaikan kepada orang lain dan kemudian membekas di hatinya, tidak akan bisa diperbaiki sebelum benar-benar muncul keinginan dari kita sendiri untuk memperbaikinya (meminta maaf)"

"Dho, ko kamu malah maenan laptop di sini sih? Bukannya bantuin ayah sama ibu sana ngipasin sate kambing!" perintah kakak ku sore itu.
Segera otak ku berpikir tentang apa yang harus ku lakukan setelah ini. Setelah menimbang-nimbang tentang baik dan buruknya, lekas aku beranjak dari kasur. Mana mungkin aku membiarkan kedua orang tua ku sibuk mengipas sate kambing, sedangkan aku bersantai di kasur dengan laptop ku tersebut, itulah yang kupikirkan saat itu.

Di halaman rumah ku lihat kedua orangtua ku kepayahan menghadapi asap mengepul yang memedihkan mata. Aku langsung berinisitif menggantikan peran ibuku sebagai pengipas sate, dan sebelum mengipas yang ku lakukan pertama kali adalah mencari kaca mata dengan tujuan meminimalisasi rasa pedih di mata. Dengan tenaga secukupnya aku sudah mampu mematangkan 2 kloter sate, yang masing-masing kloter berisi sekitar 10 tusuk sate. Walaupun awalnya terkesan tidak peduli, tetapi akhirnya aku merasa senang juga bisa membantu orangtua.

Ngipas sate uda, makan satenya juga uda, yang belum sempat ku lakukan adalah mandi dan ganti baju. Hal tersebut baru ku sadari saat ayah ku berkata, "ko dari tadi bau asapnya belum ilang-ilang sih". Jleeeb... Seketika itu juga aku merasa tersindir. Setelah itu aku langsung pergi ke kamar untuk mengganti pakaian disaat semua orang di rumah tidak menyadarinya. Namun tetap saja ada yang berceletuk, "ko masih bau asap sih yah?" kata adik ku polos. Lagi-lagi aku tersindir, "yasudahlah mau bagaimana lagi, kalau begini lebih baik aku mandi dan melenyapkan bau asap ini dari tubuh ku" pikir ku dalam hati.

Sebenarnya inti tulisan ini bukanlah kisah yang aku sampaikan di atas. Pesan yang aku coba sampaikan adalah tentang sebuah hal yang tertinggal dari suatu perbuatan baik ataupun perbuatan yang buruk. Banyak yang tidak menyadari, bahwa hampir segala hal yang manusia lakukan pasti akan membekas di hati manusia lainnya. Hal tersebut hampir sama dengan asap yang tidak akan hilang baunya sebelum benar-benar ingin dihilangkan. Begitupun dengan sikap dan prilaku kita, apa yang sudah kita lakukan dan kita sampaikan kepada orang lain dan kemudian membekas di hatinya, tidak akan bisa diperbaiki sebelum benar-benar muncul keinginan dari kita sendiri untuk memperbaikinya (meminta maaf). Dalam ilmu komunikasi dikenal dengan konsep bahwa komunikasi itu bersifat irreversibel (komunikasi tidak dapat ditarik kembali).

Jika kita memahami makna dari konsep tersebut, maka layaknya kita mulai untuk berusaha menjaga sikap kita dalam berinteraksi dengan orang-orang terdekat (keluarga dan sahabat). Mungkin tanpa kita sadari kita telah sering menyinggung perasaan orang lain, dan tentunya hal itu takkan mudah hilang tanpa adanya permohonan maaf langsung dari kita. Artikel ini juga ku tulis untuk menasihati diri sendiri, karena aku pun menyadari bahwa pastinya aku pun pernah melakukan sebuah kesalahan yang disadari ataupun tidak telah menyinggung hati orang-orang terdekat ku (aku meminta maaf).

Sebaliknya, analogi bau asap ini juga dapat dikaitkan dengan apapun kebaikan yang kita lakukan dan berikan kepada orang lain. Karena sebuah kebaikan yang kita lakukan ataupun berikan kepada orang lain tentunya juga akan membekas di hati orang yang menerima kebaikan tersebut. Bukan tidak mungkin apa yang kita lakukan justru akan membuat bau asap dari tubuh kita akan terus tercium. karena bau asap yang dapat tercium oleh banyak orang menandakan bahwa kebaikan yang kita lakukan ternyata mampu dirasakan oleh banyak orang. Semakin banyak kita berbuat baik maka baunya akan mampu dinikmati oleh lebih banyak orang lagi.
Comments (1)

Talk less Do more
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , , ,

“Mana mungkin aku bisa menyelesaikannya?” sepenggal mantra apabila telah diucapkan oleh seseorang maka hal itu mampu membuat orang yang mengucapkannya menjadi seorang yang lemah dan tidak bisa berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalahnya. Padahal bukan tidak mungkin seseorang itu memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, namun setelah ia mengucapkan mantra tadi, kemampuannya seakan tertutupi oleh lisannya yang terlanjur mengucap mantra tersebut.

Memikirkan hal tersebut aku jadi teringat bahwa aku pernah membaca sebuah kisah inspiratif yang mungkin mampu menggambarkan betapa sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dan hal yang harus kita hindari pertama kali adalah mengucapkan mantra tersebut saat mendapatkan suatu tanggung jawab ataupun permasalahan.
*****
Sepenggal cerita tentang seorang pembuat jam yang sedang meanantang jam tangan buatannya, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” “Hah, yang benar saja?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” “Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?” “Naaaah, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
*****
Mungkin kita akan bertanya-tanya apakah selama ini kita pernah berpikir tentang hal yang sama dengan hal yang dipikirkan oleh si jam tangan? Selalu berpikiran negatif kepada diri sendir, beranggapan bahwa diri ini tidak mampu menanggung beban yang padahal ketika beban itu berani kita terima dan kita pikul pada akhirnya akan selesai dengan baik.
Mungkin kisah di atas hanyalah sebuah analogi sederhana yang menggambarkan betapa sebuah alasan yang kita lontarkan (talk) tidak lebih baik dari pada kita berani melakukan (do) sesuatu terlebih dahulu.
Yakinlah bahwa Allah tidak akan sekali-sekali memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan kaumnya, dan mengeluh atau beralasan sebelum mencoba adalah tanda-tanda kita tidak meyakini firman Allah tersebut. Jadi, ketika suatu saat kita merasa bahwa diri kita sepintas mirip dengan apa yang dipikirkan oleh jam tangan di atas, maka cepat-cepatlah beristighfar dan mengingat Allah.
Sekarang pikirkanlah mantra baru yang lebih mujarab, “Mana mungkin aku tidak bisa menyelesaikannya?”. Lakukan dulu baru beralasan, Talk less Do more. Dan jangan sekali-sekali berkata ‘tidak’ sebelum kita ‘mencoba’ untuk melakukannya.
Comments (0)

Semut pun Dapat Menjadi Contoh yang Baik
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

 Mampukah kita bersikap seperti semut yang tidak kenal lelah dan putus asa walaupun telah berkali-kali mereka terjatuh, entah karena tertiup angina ataupun hal lainnya. Sungguh semut akan terus mencoba sebanyak apapun mereka gagal sampai mereka berhasil mencapai keinginannya.

Semut termasuk hewan serangga kecil dan lemah di mata manusia. Namun yang unik adalah ketika kita melihat kenyataan bahwa semut termasuk salah satu binatang yang dapat survive di tengah seleksi alam yang terus terjadi. Tidak ada yang memungkiri bahwa itu semua karena semut adalah jenis hewan serangga yang hidupnya selalu berkoloni. Kehidupan berkoloninya bahkan berhasil menguasai dan memakai sebuah daerah yang cukup luas untuk mendukung kegiatan mereka. Semut telah menguasai hampir seluruh bagian tanah di Bumi kecuali beberapa tempat seperti di Islandia, Greenland dan Hawaii, mereka tidak menguasai daerah tersebut.

Sebuah Perkolonian yang Unik
Kehidupan koloni semut dapat dicirikan dari perilakunya yang selalu menyempatkan diri untuk saling bersentuhan saat bertemu dengan sesamanya, mungkin dalam dunia manusia kegiatan seperti itu biasa kita sebut bersalaman Sesungguhnya mereka bukanlah bersalaman, melainkan saling menyentuh antena sebagai cara mereka berkomunikasi. Semut akan memberitahu semut lainnya apabila disuatu tempat terdapat makanan.

Ciri lainnya adalah ketika kita melihat sarang semut yang  biasa berada di dalam tanah atau tembok-tembok yang lapuk, kita akan bedecak kagum dan memuji Sang Pencipta karena begitu tertata dengan baiknya sarang itu. Menurut penelitian, sarang semut mempunyai banyak ruang dan terowongan serta memiliki berbagai fungsi. Ada sarang yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan telur, kepompong atau larva, juga tempat tinggal Sang Ratu Semut, gudang makanan, bahkan ada ruangan khusus untuk menyimpan sampah.

Dan dalam setiap koloni juga sudah memiliki pembagian tugas masing-masing, ada yang bertugas menjaga tiap ruangan. Selain itu, ada juga semut yang bertugas mencari dan mengumpulkan makanan serta membuat ruangan baru. Tentunya semua hal tersebut tidak mungkin dilakukan dengan sendirian saja. 

Tidak hanya Baik dalam Koloni
Selain kehebatan dan segala kelebihan mereka saat berkoloni, semut juga memiliki berbagai kelebihan dari segi individunya. Kita mengenal semut dari berbagai kisah, dongeng cerita dari film dan bahkan dari Al Qur’an yang, baik secara langsung maupun tidak langsung, mengisyaratkan bahwa semut adalah hewan pekerja yang ulet.

Dari bagian tubuhnya, semut merupakan jenis hewan yang memiliki antena sehingga mampu membaui sesuatu dari jarak yang cukup jauh. Dengan begitu, ia dapat mengetahui di mana tempat makananya berada. Kemudian ia akan menginformasikan temuannya tersebut kepada teman-temannya. Dan lagi-lagi ia tidak melupakan keunggulan utamanya yaitu dalam hal kerja sama, bahkan ketika menemukan makanan yang terlalu besar atau berat bagi dirnya sendiri, mereka juga siap untuk mengangkutnya secara gotong royong.

Seperti yang kita ketahui, semut memang memiliki ukuran fisik yang sangat kecil. Namun, mungkin kita belum sampai berpikir bahwa Allah memberikannya kelebihan lainnya berupa kekuatan yang luar biasa kepadanya, terbukti mulut semut yang kecil ternyata mampu mengangkat benda 50 kali lebih berat dari tubuhnya. Dan hal itu membuatnya menjadi hewan kedua terkuat setelah gajah.

Semua bagian dari koloni semut belum akan berhenti bekerja selama persediaan makanan di sarangnya belum penuh. Kalaupun sudah penuh, semut pekerja yang lainnya siap membuatkan ruangan baru untuk menyimpan makanannya. Di antara keistimewaan semut tersebut bahkan diabadikan dalam Kitab suci.

Semut pun Layak dicontoh
Melihat segala kelebihan tersebut maka semakin membuat hewan kecil ini terjamin layak untuk kita jadikan sebagai cerminan sekaligus contoh dalam kehidupan kita. Sudahkan kita mampu memunculkan kebiasaan gotong royong  di dalam kelompok, mampukah kita bersikap seperti semut saat berada dalam sebuah organisasi? Ataukah kita sudah bisa menyempatkan diri untuk peduli kepada saudara kita dengan sekedar bersalaman dan bertukar informasi dengan teman-teman kita? Jika belum maka mulai saat ini janganlah sungkan untuk mencari ilmu dari prilaku semut tadi.

Kita sudah memahami bahwa kunci sukses semut dalam menjalani kehidupannya adalah karena faktor kebersamaan dan solidaritas yang mereka miliki bersama koloninya, itulah indahnya ukhuwah. Bersama koloni dengan ukhuwahnya, mereka mampu mengajarkan kepada kita tentang sikap gotong royong, sifat kedermawanan, kepedulian serta kerja keras dan kerapihan dalam berorganisasi.

Selain itu, semut juga telah memberikan gambaran penting kepada kita tentang bagaimana kehidupan mereka yang sangat teratur. Mereka berhasil menjadi ahli tata ruang yang sangat baik, di mana mereka mampu melakukan pemetaan antar ruang dengan baik dan tepat. Layaknya seorang arsitek, semut mampu menyiapkan dan membagi ruang pada sarangnya sesuai dengan fungsinya. Pembagian tugas yang rapih dan jelas juga semakin mecerminkan keteraturan mereka.

Sifat rajin dan suka menabung yang sangat sering didengung-dengungkan oleh para pengusaha sukses di dunia manusia nyatanya juga dimiliki oleh semut kecil ini. Dalam hal ini langkah konkrit yang mereka lakukan adalah dengan mengumpulkan cadangan makanan untuk koloninya dan menimbunnya di dalam sarang. Kebiasaan mereka menimbun makanan nyatanya justru juga mampu memberikan efek manfaat bagi alam yaitu, kumpulan makanan yang mereka timbun dapat menyuburkan dan menggemburkan tanah di sekitarnya.

Semut saja Tidak Menyerah
Ini yang terakhir, pernahkah melihat kegigihan dan ketekunan seekor semut saat mereka mencoba untuk merambat mencapai atas pohon atau dinding-dinding di rumah kita? Mampukah kita bersikap seperti semut yang tidak kenal lelah dan putus asa walaupun telah berkali-kali mereka terjatuh, entah karena tertiup angina ataupun hal lainnya. Sungguh semut akan terus mencoba sebanyak apapun mereka gagal sampai mereka berhasil mencapai keinginannya. Sehingga hal ini bisa menjadi sebuah hikmah bagi kita bahwa kita hanyalah manusia dan tantangan bukanlah sesuatu hal yang membatasi kreatifitas dan keinginan kita. Sebanyak apapun kita mengalami kegagalan, jangan sekali-kali kita menyerah dan jangan bosan untuk mencobanya.

Adakah kita menginginkan menjadi pribadi yang rajin, pekerja keras, tidak mudah putus asa, dan suka menabung layaknya pengusaha sukses. Menginginkan kesuksesan dalam sebuah organisasi layaknya para pemimpin besar. Ingin hidup teratur dan memiliki kemampuan tentang tata ruang hebat layaknya arsitek. Serta sekaligus dapat menjadi pribadi yang mampu bermanfaat bagi orang lain. Maka janganlah kita sungkan untuk belajar dari makhluk kecil yang satu ini. Semut mampu memberikan sebuah role model kehidupan yang baik bagi kita manusia. Jadilah manusia yang seperti semut.
Comments (2)

Berbuat Baik itu tak Perlu Momen
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , , ,

 “harusnya kita dapat berbuat baik kapan saja dan di mana saja, entah ada yang menilai atau tidak”. dan ketahuilah bahwa “peluang untuk berbuat baik itu selalu terbuka lebar, dan kita tidak perlu menunggu sebuah memon tertentu untuk melakukan sebuah kebaikan”.

Suatu ketika saya pernah mengikuti suatu kegiatan pelatihan yang diadakan oleh sebuah organisasi di kampus Universitas Indonesi. Sebuah kegiatan yang memang dirancang untuk meng-uprade kemampuan anggotanya, baik secara mental maupun secara skills organisasinya. Para peserta pelatihan tersebut kemudian dibentuk mejadi beberapa kelompok kecil. Acara ini memang sengaja diadakan di luar kampus, hal itu sendiri memiliki beberapa maksud tertentu salah satunya adalah dengan begitu dalam kelompok, kami dapat lebih berinteraksi dan bekerja sama dengan baik. Hal tersebut dikarenakan kelompok-kelompok kecil kemudian ditugaskan untuk mencapai tempat tujuan bersama-sama dengan menggunakan angkutan umum.

Tidak hanya diminta berangkat ke tempat tujuan secara berkelompok, selama diperjalanan kami pun diberikan beberapa tugas yang harus kami laksanakan sebagai tiket untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Diantara sekian banyak tugas yang diberikan sewaktu diperjalanan, ada satu tugas yang hikmahnya masih saya rasakan dan saya aplikasikan sampai saat ini. Yaitu, tentang berbuat baik kapan saja dan di mana saja. Di dalam tugas tersebut dijelaskan bahwa kami saat itu diminta untuk mencatat perbuatan baik apa saja yang telah kami lakukan selama diperjalanan menuju tempat tujuan.

“Berbuat baik itu jangan ditung-itung”, itulah pernyataan yang saat itu saya pikirkan ketika pertama kali mendengar tugas seperti itu. “selain itu saya juga tidak ingin berbuat baik ketika diminta melainkan atas kesadaran sendiri”, tetapi nyatanya walaupun sudah tahu akan dinilai dan dihitung apa saja perbuatan baik yang dilakukan tetap saja pada akhirnya tidak banyak yang bisa saya catat dari apa yang saya lakukan selama di perjalanan. Sampai akhirnya kami sampai ditujuan akhir dan kemudian saat itu pulalah waktunya penyampaian hikmah dan maksud dari tugas tadi.

Ketika saya ditanya tentang hikmah apa yang dapat saya petik dari tugas tadi, pernytaan saya di ataslah yang menjadi jawabannya. Namun ternyata, apa yang saya pikirkan tidak sepenuhnya tepat. Menurut panitia memang benar meakukan kebaikan itu tidak perlu dihitung-hitung, namun poin utama yang dapat dipetik adalah “harusnya kita dapat berbuat baik kapan saja dan di mana saja, entah ada yang menilai atau tidak” selain itu dengan tugas tadi kita belajar bahwa “peluang untuk berbuat baik itu selalu terbuka lebar, dan kita tidak perlu menunggu sebuah memon tertentu untuk melakukan sebuah kebaikan”.

Setelah mendengar penjelasan dari panitia akhirnya saya menjadi sadar bahwa selama ini saya banyak sekali melewatkan peluang-peluang emas untuk berbuat baik. Saya masih suka merasa ragu ketika hendak menolong orang lain, saya masih suka bertanya-tanya dalam hati sebelum berbuat baik. Padahal, andaikan saya sudah menyadari hal itu sebelum-sebelumnya mungkin saya tak perlu lagi ragu untuk menolong orang lain. Dan andaikan pula hikmah ini dapat dibaca dan diterapkan oleh banyak orang, maka kita tidak akan lagi merasa asing ketika melihat banyak orang yang melakukan perbuatan baik secara mereka sadari. Dan lingkungan sekitar akan terbiasa dengan budaya tolong-menolong serta prilaku positif lainnya.

Karena memikirkan perbuatan baik itu saja ternyata termasuk ke dalam kategori  suatu perbuatan yang baik, apalagi kita mampu menyampaikan serta mengaplikasikan hal-hal yang baik yang ada di dalam pikiran kita tadi ke dalam dunia nyata, di kehidupan kita sehari-hari. Maka dari itu mualailah berpikiran tentang hal-hal baik apa yang dapat kita lakukan hari ini, dan jangan sia-siakan peluang kebaikan sekecil apapun.
Comments (0)

Social Exchange saat Berbuat Baik
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Entah tepat atau tidak, rasanya seakan apa yang saya lakukan akan berbalik lagi pada diri saya sendiri. Bagaiamana tidak beberapa kejadian dalam seminggu ke belakang membuat saya semakin menyadari tentang makna berbuat baik. Berbuat baik identik dengan prilaku hubungan kita dengan manusia lainnya namun tidak akan terlepas pula dengan hubungan kita dengan Sang Khalik, terlebih ketika kita meniatkan perbuatan tersebut hanya untuk-Nya. Allah tidak hanya memberikan balasan terkait perbuatan kita di akhirat nanti saja, nyatanya saya mengalami berbagai kejadian yang seakan hal itu adalah sebuah balasan tunai atas perbuatan baik yang pernah saya lakukan.

Sedikit pengantar di atas juga membuat saya menjadi teringat dengan pernyataan salah seorang dosen ilmu komunikasi UI, beliau mengatakan bahwa di dalam ilmu komunikasi dikenal sebuah teori yang dimana dalam teori ini dijelaskan dalam hidup tentunya kita akan mengalami sebuah pertukaran hidup yang terjadi dalam beberapa bentuk dalam matriks, anatara lain, pertukaran langsung, pertukaran tergeneralisasi dan pertukaran produktif yang melibatkan timbal balik yang bersifat tidak langsung. Dimana seseorang memberikan kepada orang lain, dan penerima merespon tetapi tidak kepada orang pertama. Secara tidak langsung kita akan mendapatkan hal yang sama atas apa yang telah kita lakukan kepada orang lain, namun hal itu tidak langsung kita dapatkan dari orang pertama melainkan dari orang lain. Teori ini dalam bidang komunikasi dikenal dengan istilah teori “social exchange” atau teori pertukaran sosial.
                                                                        #####

Suatu hari, seperti biasa ketika berkesempatan membawa motor ke kampus saya tidak akan pernah sungkan untuk memberikan tumpangan kepada teman-teman saya yang kebetulan memiliki tujuan yang sama atau searah. Dan hal ini seperti sudah menjadi sebuah rutinitas, dan apa yang saya lakukan ini semata hanya diniatkan untuk menolong teman dan agar dibalaskan oleh Allah nantinya. Namun, balasan yang diberikan oleh Allah jauh melebihi ekspektasi yang ada di dalam pikiran saya. Peristiwa ini terjadi ketika suatu hari saya hendak berangkat menuju masjid UI untuk i’tikaf. Hari itu saya keluar kosan sekitar pukul setengah dua belas malam, dikarenakan saya harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu sebelum berangkat menuju masjid. Awalnya saya pikir akan naik ojek menuju masjid yang jaraknya mungkin sekitar 2 kilometer lebih dari kosan, terlebih suasana tengah malam yang saat itu mungkin sedikit membuat saya ngeri mengingat UI memiliki banyak cerita kriminal dan bahkan mistis.

Tanpa diduga, ternyata ojek yang awalnya saya pikir akan dapat mengantar saya menuju masjid UI ternyata sudah tidak ada dipangkalannya. Bingung, itulah yang ada dipikiran saya saat itu. Antara kembali lagi ke kosan lantaran “ngeri” berjalan kaki sendirian menuju masjid UI di tengah malam nan sunyi, atau tetap memenuhi kehendak sendiri untuk datang ke masjid untuk i’tikaf. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat, dan mengambil konsekuensi harus menantang suasana tengah malam di lingkungan UI.

Seperempat perjalanan menuju masjid UI saya lalui dengan dzikir mengingat Allah. Terus-terusan bibir ini mengucap asma-Nya. Sampai beberapa saat kemudian, seakan Allah memberikan keajaiban kecilnya pada saya. Saat itu saya melihat segerombolan mahasiswa pengendara motor yang mungkin baru saja selesai dengan urusannya dikampus, entah urusan apa yang membuat mereka baru dapat pulang saat tengah malam seperti saat itu, tetapi hal itu seakan menjadi sebuah pertolongan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya melancarkan jurus ‘SKSD’ kepada salah seorang diantara mereka.
“Mas, pada mau kemana? Ada yang kea rah MUI ga?” Tanya saya saat itu dengan sedikit ragu.
“oh, iya mas kami emang mau pulang dan lewat gerbatama UI kok.” Jawab salah seorang diantara mereka.
Alhamdulillah, pertolongan Allah memang datang dengan cara yang tidak diduga-duga”, gumam saya dalam hati.
                                                                       #####

Seperintil kisah di atas, ternyata cukup menjadikan sebuah pencerahan bagi saya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala rencanakan-Nya.
Comments (0)