hover animation preload
Showing posts with label self development. Show all posts
Showing posts with label self development. Show all posts

Insya Allah Empat Tahun
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Semeter baru, maka di saat itu pula akan selalu ada tantangan baru. Tahun ajaran ini (insya Allah) adalah periode terakhirku berada di dunia perkuliahan, dua semester lagi maka genap empat tahun usiaku berada di kampus kuning ini. Pekan pertaama melalui semester baru, banyak hal baru yang ku alami.

Di antara banyak hal baru tersebut adalah, munculnya pertanyaan baru di sekitar ku, pertanyaan pertama adalah “lulus dengan jalur apa?” dengan mudah ku jawab, “pake jalur TAA alias Tanpa Apa-Apa.”

Aku akhirnya memutuskan untuk menempuh kuliah tanpa skripsi ataupu TKA (Tugas Karya Akhir), bukan karena aku tak mau, melainkan karena tak bisa. Salah satu persyaratan mahasiswa tingkat akhir yang ingin mengambil skripsi adalah harus memiliki IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) minimal 3.5 hal ini jelas menutup kemungkinan ku untuk mengambil jarur skripsi mengingat IPK-ku yang memang lebih rendah dari standar tersebut.

Kemudian pertanyaan kedua, “mau lulus kuliah berapa tahun?” Nah, pertanyaan ini masih belum bisa ku jawab dengan mantap, ya karena sebenarnya hatiku juga masih bimbang untuk memutuskannya. Sebenarnya ada kemungkinan bagiku untuk lulus kuliah cepat yakni 3.5 tahun, namun di dalam hati ku, aku berpikir untuk mempersiapkan diri agar lebih siap menyambut dunia pasca kampus.

Terlalu naif memang, di saat yang lain ingin sekali untuk lulus lebih cepat namun aku justru mencoba berpikir sebaliknya. Bukan berarti aku ingin berlama-lama di kampus, aku hanya ingin lebih mematangkan diri saja, bagiku empat tahun itu waktu yang sangat cukup dan tak perlu lebih dari itu. Insya Allah empat tahun.
Comments (3)

Melihat dari Perspektif Orang Lain
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

"kadang kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika kita sudah berusaha mengerti orang lain. namun di sisi lain mereka tidak mencoba untuk mengerti kita."

Membiasakan diri untuk menempatkan diri kita pada perspektif orang lain itu tidak mudah. Namun mencoba untuk melakukan hal yang demikian itu tidak lah sulit. Bagi ku tindakan seperti ini ku sebut dengan mengerti (memahami) orang lain. Terkadang akan terjadi sedikit pertentangan di dalam diri seandainya apa yang kita ekspektasikan namun pada akhirnya tidak sama dengan kenyataan. Di sinilah perlunya sebuah kerelaan untuk mengalah demi kepentingan orang lain.

Sekali lagi ku katakan bahwa mencoba mengerti orang lain adalah sebuah kegiatan yang tidak mudah. Karena dengan kita mencoba mengerti orang lain berarti kita harus terbisa mengesampingkan perspektif pribadi terhadap suatu hal untuk kemudian menyesuaikan diri dengan perspektif orang lain yang berbeda dalam melihat hal tersebut. Karena dengan berusaha mengerti orang lain kita terkesan berada pada posisi di bawah orang yang berusaha kita mengerti. Padahal sebenarnya tidak juga.

Tantangan terbesar bagi kita yang sedang berusaha mengerti orang lain adalah cenderung tidak lagi diperhatikan perspektifnya. Orang lain akan menganggap kita sebagai pihak yang lemah bahkan cenderung perceiver atau hanya mengikuti pendapat orang lain. Kita juga dianggap sebagai pihak yang selalu terkalahkan oleh kepentingan orang lain. Jika kita masih ingin berusaha untuk mengerti orang lain maka lebih baik kita tetap berusaha memandang dari perspektif orang lain juga.

Terkadang kita memang tidak bisa berbuat apa-apa ketika kita sudah berusaha mengerti orang lain. namun di sisi lain mereka tidak mencoba untuk mengerti kita. Bukan berarti dengan kita berusaha mengerti orang lain kita sama sekali tidak memperoleh keuntungan. Idealnya orang yang selalu mencoba mengerti akan terlihat seperti orang yang bijaksana. Orang ini selalu bisa memposisikan dirinya dalam diri orang yang sedang minta dimengerti. Kemudian orang yang dianggap bijaksana ini tentu cenderung akan lebih mudah mendapatkan simpati dari orang-orang di sekitarnya.

Sehingga pada akhirnya tidak lah salah jika kita terus mencoba menjadi orang yang berusaha mengerti dan mengorbankan diri bagi mereka yang minta dimengerti? Jika kita berhasil menyelesaikan ujian ini maka otomatis kita akan naik drajat menjadi orang-orang yang bijaksana. Sekali lagi ku katakana, orang yang mengalah bukanlah orang yang kalah. Bedanya adalah orang kalah akan menjadi pengertian karena terpaksa. Sedangkan orang bijak menjadi pengertian karena ia memilih untuk itu dengan melihat dari sudut pandang orang lain. Pada intinya mencobanya itu mudah namun membiasakan diri lah yang sulit.
Comments (1)

Lakukan Seperti yang Kita Inginkan
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari saat ini juga”.

Mungkin hampir semua orang memahami maksud dari kata-kata di atas, dan saya yakin semua orang bisa mencoba mengimplementasikannya. Bagian tersulitnya mungkin pada saat mencoba untuk berkomitmen atas segala tindakan positif yang telah dilakukan, kenyataannya tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut.

Masalahnya, banyak orang ingin sesuatu namun terkadang berat melakukan sesuatu tersebut untuk orang lain. Katakanlah sesuatu tersebut tentang kebersihan. Semua orang tentunya ingin hidup bersih, ingin lingkungan sekitarnya bersih. Banyak orang tidak mau lingkungannya dikotori oleh orang lain, tapi terkadang ia tidak memikirkan bahwa ketika ia membuang sampah sembarang sama saja dengan mengotori wilayah orang lain.

Bahkan seseorang terkadang rela berkeringat untuk menjaga kebersihkan halaman rumah miliknya sendiri. Tapi tidak semua orang mau menjaga kebersihkan lingkungan untuk orang lain (kerja bakti). Disini terdapat egoisme yang tak bisa terhindarkan di kalangan masyarakat, khususnya di dalam konteks warga metropolitan. Jika benar hal itu tentang keegoisan, maka tak bisakan hal tersebut sedikit dilenyapkan dari hati masyarakat ibukota untuk Jakarta yang lebih bersih.

Orang yang egois cenderung tidak akan acuh terhadap ocehan atau sindirian dari orang lain, dari tetangganya. Perlu teladan untuk mengubah kondisi masyarakat yang seperti ini. Dan setiap orang bisa memulai untuk menjadi seorang tauladan, kita hanya tinggal menjawab pertanyaan, mau atau tidak?

Jika mau, kita cukup memulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini juga. Sadari bahwa diri kita tentu ingin hidup bersih, maka janganlah membuang sampah sembarangan. Lakukan dari hal kecil seperti memungut sampah-sampah ringan yang terserak sembarangan dari tempat seharusnya. Dan jangan tunggu ada banjir untuk memulainya. Lakukan pencegahan, bukan lagi penanggulangan. Maka mulailah melakukan sesuatu seperti apa yang kita inginkan.
Comments (0)

Tentang Si Pembuat Kehidupan
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Setiap manusia yang menjadi poros dalam kehidupan manusia lainnya adalah seorang pembuat kehidupan. Layaknya proton terhadap neutron, seorang pembuat kehidupan mampu memberikan energi-energi positif kepada sekitarnya. Hal ini mampu membuat lingkungan sekitarnya memberikan sebuah loyalitas kepada mereka, para pembuat kehidupan ini.

Dalam konteks kehidupan kita sebagai umat manusia, loyalitas adalah suatu hal yang muncul dalam diri seseorang dengan alami. Ketika bersama dengan seseorang yang lebih cerdas, berwibawa, kaya, dan  hebat dari yang lainnya, maka secara tidak langsung orang seperti ini akan menjadi poros perputaran bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Lalu orang-orang seperti apa yang dapat dikategorikan sebagai si pembuat kehidupan tersebut? Tentunya mereka merupakan seorang yang kreatif, serta memiliki ide besar dan mampu berfikir ringkas dan out of the box. Mereka adalah seseorang yang berani berijtihad serta memiliki kemauan untuk melakukan segala sesuatu setingkat diatas rata-rata kebanyanyakan orang.

Tidak semua orang dapat menjadi si pembuat kehidupan. Menjadi seorang pembuat kehidupan merupakan sesuatu kemampuan yang dibentuk dan dipersiapkan dalam hidup bukan  karena kebetulan semata (by design not by accident). Mereka begitu loyal dengan tujuan yang ingin dicapainya serta sanggup melakukan apapun untuk mengejar mimpinya tersebut.

Bagi seorang aktivis dakwah  menjadi si pembuat kehidupan seakan menjadi kewajiban bagi dirinya dan bagi lingkungan sekitarnya. Bagaimana seorang da’i mampu menjadi seorang yang diikuti oleh lingkungannya jika ia sendiri tidak memiliki kecakapan-kecakapan, baik prilaku maupun pengetahuan umum yang mampu menjadikannya lebih baik dari orang-orang lain di sekitarnya.

Maka dari itu untuk mengemban misi ini (menjadi si pembuat kehidupan), seorang aktivis dakwah harus dapat menguasai core competence bidang yang ia geluti. Tidak hanya itu, seorang aktivis dakwah juga harus mampu menghasilkan sebuah karya yang memberikan inspirasi untuk lingkungan di sekitarnya. Hingga akhirnya lingkungan sekitanya secara alami memberikan loyalitas kepada dirinya sehingga apa yang ia kerjakan mampu menginspirasi sekitarnya untuk memberikan perbaikan di mana pun ia berada.
Comments (0)

Kritik itu (de)Konstruktif
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

“Seseorang tentunya ingin mendapatkan apresiasi dan seseorang juga tentunya sangat ingin menghindari kritik” –Abdushshabur-

Kritik, sebuah kata unik yang sangat menarik untuk dibahas. Setiap orang tentunya pernah mendapatkan kritik dari orang lainnya, dan terkadang orang yang dikritik akan menempatkan dirinya sebagai pihak defensif yang akan melakukan berbagai cara untuk melindungi dirinya dengan pembenaran-pembenaran yang rasional. Apakah itu tujuan dari kritik? Tentunya ada maksud yang terselip dibalik kritik yang diberikan oleh seseorang kepada orang lainnya. Mungkin bagian terpentingnya adalah bagaimana hubungan antar dua orang tersebut, hubungan yang baik akan membangun persepsi -orang yang dikritik- konstruktif terhadap kritikan yang ia terima. Sebaliknya hubungan yang buruk akan menimbulkan persepsi ingin dijatuhkan atau dekonstruktif dari orang yang menerima kritik. Benar atau tidak pengalaman anda sendiri yang bisa menjawabnya.

Dan ada hal penting yang harus dipahami oleh orang-orang yang suka memberikan kritik (mungkin juga masukan untuk diri penulis pribadi), yaitu “berpikir sebelum berbicara (mengkritik)”. Coba awali dengan berpikir, apa yang akan terjadi setelah seseorang menerima kritik dari anda. Apakah akan menimbulkan dampak yang positif ataukan justru akan menimbulkan sebuah perselisihan atau bahkan permusuhan, kalau hasilnya adalah yang kedua, lebih baik kita menahan hasrat untuk memberikan kritik tersebut.

Sebaik-baiknya cara orang memberi kritik, tidak lebih baik dari pada memberikan sebuah apresiasi dan nasihat. Ingat kritik tidak sama dengan nasihat, dalam kesehariannya nasihat lebih cenderung berupaya mencari solusi dari masalah sedangkan kritik justru memunculkan masalah-masalah yang baru.

Sedikit mengulas kembali tentang bagaimana gambaran seseorang yang menerima kritik. Seseorang yang menerima kritik cenderung akan bersifat defensif dan memungkinkan dirinya untuk mencari-cari kambing hitam dari apa yang ia lakukan, mungkin mereka akan mengakui kesalahannya tapi mereka akan berusaha mencari kesalahan dari orang-orang di luar dirinya sendiri. Yang mungkin akan mereka katakana saat membela dirinya adalah, “ya saya memang telah melakukan kesalahan tersebut, tapi…”

Dan bahkan untuk orang-orang yang ‘hatinya lemah’, ketika ia mendapatkan kritik mungkin mereka akan menjadi sedikit phobia atas apa yang dilakukan, dan yang berbahaya adalah mungkin di lain waktu ia tidak akan mau lagi untuk melakukan sesuatu tersebut. Disaat seperti itu secara tidak sadar kita telah mematikan potensi yang dimiliki oleh orang yang kita kritik, -padahal tujuan kritik kita adalah untuk ‘membangun’ ternyata kita justru merusaknya-.

Pernah dengar analogi ‘uang receh’ untuk mereka yang suka mengkritik? Coba simak sedikit penjelasan ini. Uang receh itu tentunya memiliki nilai nominal yang kecil kan? Namun apa yang dilakukan uang receh saat mereka ada di saku baju dan celana anda, atau bahkan saat uang receh itu ada dicelengan anda? Mereka akan terus mengeluarkan bunyi-bunyi nyaring yang berisik dan tentu saja mengganggu. Begitupula orang-orang yang suka mengkritik, tentunya mereka juga telah mengganggu orang-orang yang mereka kritik.

Inti dari tulisan ini sebenarnya bukan tidak setuju dengan kritik, tetapi hanya berupaya menghindarinya. Karena mencegah dari hal yang negartif lebih baik dari pada mengambil sedikit manfaat. Solusinya mungkin akan lebih baik jika kita menunggu seseorang meminta kritik tersebut dari kita, sehingga yang kita lakukan adalah atas dasar persetujuan orang tersebut. Cobalah menahan diri untuk melakukan hal tersebut (mengkritik), dan mulailah untuk mengerti dan memahami mengapa mereka melakukan hal tersebut. Dan untuk anda yang –sudah terlanjur- pernah menerima kritik, berusahalah untuk lapang dada menerimanya. Karena tidak ada makluk yang sempurna dan kita semu tahu hal itu.

“Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui, setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati, hanya yang berjiwa satria yang mau memaafkan” –Sherina-
Comments (0)

Lakukan dengan Manajemen Waktu
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

"Andaikan saja tidak terjadi hal ini mungkin aku akan begitu... kalau saja tidak begini maka aku akan begitu... dst"

Sebuah penyesalan selalu datang di belakang. Jika setiap orang tersadar akan kesalahannya lebih awal dan kemudian bisa memperbaikinya, maka namanya bukan penyesalan tapi introspeksi diri. Sekarang tinggal bagaimana setiap orang dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri, ingin menyesal atau ingin segera mengintrospeksi dirinya sebelum penyesalan itu datang?

Setiap orang tentu mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya sendiri, namun banyak juga orang yang tidak dapat melakukan apa yang seharusnya dapat ia lakukan untuk dirinya sendiri. Permasalahan utamanya adalah karena di antara mereka ada orang-orang yang menyepelekan waktu. Walaupun mereka sendiri mengetahui bahwasannya setiap detik yang telah berlalu tidak akan dapat terulang kembali, setelah itu yang bisa mereka lakukan hanyalah menyesal. Apakah anda ingin menjadi bagian dari orang-orang yang demikian? Jawabannya kembali kepada diri anda masing-masing.

Coba anda ingat-ingat kembali apa yang biasa anda lakukan ketika anda bangun di pagi hari, ingat apa yang anda lakukan pada waktu malamnya. Itulah kebiasaan anda. Sekarang coba jawab pertanyaan ini untuk menetukan anda itu tipe orang yang seperti apa, Apakah anda adalah orang berusaha menyelesaikan suatu pekerjaan sesegera mungkin atau anda baru akan menyelesaikannya sampai pekerjaan tersebut akan mendekati deadline-nya? Biasanya tipe yang kedua ini biasa disebut dengan istilah procrastinator, yaitu sebuah istilah yang sering diungkapkan oleh orang-orang yang bergelut di dunia psikologi, secara arti mengandung pengertian orang yang suka menunda-nunda pekerjaan.

Tipe yang manapun anda, yakinlah bahwa apa yang anda lakukan akan lebih baik ketika memiliki manajemen waktu yang baik. Tak hanya dalam hal menyelesaikan suatu pekerjaan, dalam hal apapun yang berkaitan dengan hidup, entah untuk impian-impian anda maupun pilihan-pilihan hidup yang ada di depan anda. Lakukanlah dengan manajemen waktu yang baik.
Bentuk sebuah menajemen waktu yang baik adalah dengan mengubah persepsi kita dan meyakini bahwa waktu adalah sebuah kenikmatan yang tidak bisa dibeli bahkan dengan uang sebanyak apapun. Waktu adalah sebuah nikmat yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang menghargainya.

Setelah kita menyimpan persepsi tersebut dalam diri kita maka otomatis kita akan menjaga setiap detik yang berganti dengan berusaha melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan positif di setiap detik dalam hidup kita. Dengan begitu, secara otomatis kita akan mampu mengurutkan prioritas tentang apa yang seharusnya kita lakukan dan yang seharusnya kita dahulukan. Sehingga pada akhirnya akan terbangun sebuah manajemen waktu yang baik pada diri kita. Yakinlah ketika setiap hal anda lakukan dengan manajemen waktu yang baik maka tidak akan ada istilah penyesalan dalam kamus hidup anda.
Comments (1)

Kesuksesan Berawal dari Menghargai Diri Sendiri
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

 “Aku ingin menjadi seperti dia. Bisa melakukan ini, bisa melakukan itu… Bisa mendapatkan penghargaan ini, dan bisa mendapatkan penghargaan itu…
Aku ingin sekali bisa seperti dia…”

Tidak dapat disangkal bahwa pada dasarnya setiap orang tentu ingin menjadi orang yang sukses. Ingin menjadi seperti orang yang dikaguminya, dan mungkin juga setiap orang pernah merasakan iri dengan kesuksesan serta kemampuan yang dimiliki oleh orang lain, entah sahabat, teman maupun rekan kerjanya. Namun yakinlah jika perasaan tersebut ada pada diri anda, itu terjadi hanya karena anda ingin menjadi seorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Dan jangan sampai anda memaksakan diri untuk menjadi apa yang sebenarnya “bukan diri anda” atau memaksakan kegiatan yang pada dasarnya bukan passion anda. Dan setiap orang tentunya mempunyai passion serta pilihan jalur perjalanan hidup mereka masing-masing.

Manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya keraguan, seyakin apapun ia terhadap dirinya sendiri, tentunya akan ada suat masa di mana manusia akan melihat bagaimana keberhasilan orang lain akan mempengaruhi pilihan dan kepribadiannya. Mulanya ia hendak ke kanan, lalu karena pikiran dan kesuksesan orang lain di jalur lainnya, akhirnya ia ragu akan pilihannya dan ia pun mencoba memilih jalur lain tersebut. (pengalaman pribadi)

Bila anda mengalami hal seperti ini, cobalah untuk berhenti sejenak, merenung, dan mulailah untuk mempertimbangkannya secara lebih mendalam. Bisa jadi, apa yang kita pikirkan saat mengubah jalur tersebut hanyalah sebuah keputusan emosional belaka, hanya karena rasa iri kita melihat orang lain merasakan kebahagiaan di jalur lainnya tersebut. Padahal belum tentu nantinya anda akan berhasil seperti orang lain tersebut yang berbeda arah perjalanan dengan anda tersebut.

Maka berhentilah sejenak, pikirkanlah kembali! tunda keputusan untuk mengambil jalur lain. Coba tanyakan kembali pada diri kita masing-masing, seserius apa keinginan kita untuk pindah jalur? Apakah semua resiko sudah dihitung dengan baik? Penulis sendiri pernah mengalami situasi seperti ilustrasi tersebut dan pada akhirnya penulis memutuskan untuk tetap bertahan di jalur milik sendiri walaupun hampir berpaling ke jalur lain.

“Menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya itu jauh lebih baik dari pada memaksakan untuk menjadi seperti orang lain.”

Kutipan di atas menggambarkan betapa lebih baiknya mensyukuri perkembangan yang dialami oleh diri kita, dibandingkan dengan memaksakan diri untuk menjadi lebih baik dengan cara menjadi orang lain. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dalam menjalani kehidupannya, setiap orang itu tentunya mempunyai banyak sekali role model yang ia jadikan acuan baginya untuk mengembangkan diri. Namun bukan berari dengan begitu kita musti meniru sepenuhnya apa yang dilakukan oleh role model kita. Akan lebih baik jika kita mampu mem-filter dan terlebih dahulu kita sesuaikan dengan passion kita. Karena mau bagaimanapun juga kita tidak akan mampu menjadi orang yang sama dengan role model yang kita ikuti.

“Hargailah setiap jengkal perkembangan yang terjadi pada diri kita dari waktu ke waktu, itu jauh lebih baik daripada kita harus disibukkan dengan membandingkan diri kita dengan orang lain yang mengambil jalur yang berbeda dengan kita.”
Comments (3)

Optimalkan Waktumu Untuk Berkembang
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Beberapa hari belakangan ini, tanpa sungkan aku sering sekali menanyakan tentang bagaimana rencana teman-teman dekatku di semester selanjutnya. Dengan bermodal pertanyaan "semester depan mau aktif dimana?", aku memberanikan diri untuk tahu rencana masa depan mereka. Ternyata separuh dari teman-teman yang aku ajukan pertanyaan tersebut hanya menjawab dengan sekenannya saja, "belum tau do...", atau "masih bingung nih do, mau aktif di mana. soalnya ada dua pilihan organisasi, jadi masih galau...". Kedua jawaban tersebut jelas berbeda makna dan bertolak belakang bukan?

Jawaban yang pertama seakan menunjukkan kalau dirinya sama sekali belum memiliki gambaran terkait masa depan jangka pendeknya, tentunya akan lebih sulit pula untuk menentukan rencana jangka panjangnya. Sedangkan jawaban yang satunya lagi, sekan menggambarkan bahwa ia sudah memiliki sebuah gambaran terkait apa yang akan ia lakukan di semester mendatang walaupun masih bingung untuk menetapkan sebuah pilihan.

Padahal menjadi mahasiswa adalah sebuah anugrah yang tidak seharusnya disia-siakan, menjadi mahasiswa adalah sebuah batu loncatan bagi kita untuk menimba ilmu dari orang-orang hebat, bahkan menjadi mahasiswa juga merupakan saat yang tepat untuk membangun relasi sebanyak-banyaknya. Pernahkan kita, sebagai mahasiswa, berpikir bahwa seorang mahasiswa adalah makhluk yang memiliki waktu luang dan kesempatan terbanyak dibandingkan dengan mahkluk di usia produktif lainnya? (walaupun ga ada datanya.. hhe..) Coba deh bayangkan, di saat manusia diusia produktif sedang sibuk-sibuknya mencari uang, kita sebagai mahasiswa biasanya hanya disibukkan dengan kegiatan bolak-balik kampus dan hanya terbebani kewajiban 24 SKS dalam 6 bulan.

Jika dihitung-hitung kita sebenarnya memiliki keluangan waktu yang sangat berlebihan, bahkan jika dibandingkan dengan siswa SMA, kita memiliki jumlah waktu luang lebih dibandingkan mereka. Jika 1 mata kuliah dibebani dengan 3 SKS, maka dalam satu minggu maksimal kita akan dibebani dengan 8 mata kuliah yang masing-masing dibebani 2,5 jam/minggu. Maka, dalam 6 bulan (180 hari), kita hanya terbebani dengan rutinitas kuliah hanya 20 jam/minggu. Jadi dalam satu semester kurang lebih kita hanya terbebani dengan 480 jam untuk kuliah saja. Kemudian ditambah dengan waktu mengerjakan tugas atau belajar di luar kelas kira-kira 2 jam untuk setiap mata kuliah, maka didapat waktu belajar diluar kelas hanya 16 jam/minggu. Totalnya kita hanya terbebani 16 hari dari 180 hari saja dalam satu semester.

Dengan estimasi waktu kuliah dan belajar di luar kelas saja, maka kita masih memiliki sisa waktu 144 hari dalam satu semester kedepan. lalu apa yang kita lakukan dengan sisa waktu tersebut? Jika dihitung-hitung kita ternyata masih memiliki waktu 5 bulan untuk melakukan berbagai aktivitas lainnya. Dari ilustrasi di atas kita jadi dapat membayangkan betapa kita memiliki waktu luang yang cukup leluasa, maka kita musti bersyukur atas karunia tersebut. Dan akan sangat merugi jika waktu tersebut terlewat hanya karena kita melakukan berbagai kegiatan yang kurang bermanfaat untuk saat tersebut ataupun untuk masa depan kita nanti.

Kembali ke bahasan sebelumnya tentang kegiatan apa yang bisa seharusnya bisa kita lakukan untuk mengisi keluangan waktu kita yang 5 bulan tadi. Menjadi seorang mahasiswa adalah saat yang tepat untuk berkembang layaknya seekor kerang yang tengah bertumbuh untuk menghasikan sebutir mutiara, atau layaknya sebuah seekor ulat yang terkurung dalam kepompong dan saat keluar nantinya ia akan berubah menjadi seekor kupu-kupu. Manfaatkanlah mementum saat dimana kita diberikan karunia untuk menjadi seorang mahasiswa. Karena dengan menjadi mahasiswa kita akan dapat mengembangkan diri menjadi makhluk yang lebih baik lagi dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, sebagaimana yang Rasulullah katakan dalam hadits-nya.

Maka mulai dari sekarang temukanlah passion yang ada dalam dirimu, kembangkanlah kemampuan tersebut di sebuah organisasi, berikan kesempatan kepada dirimu untuk menunjukkan kemampuanmu terbaikmu dihadapan orang lain. Caranya antara lain melalui kegiatan berorganisasi. Karena untuk mencapai sebuah tujuan, dan untuk meningkatkan kemampuannya, setiap orang membutuhkan bantuan dari orang lainnya. Agar orang lain dapat membantumu, maka organisasi adalah sarana yang paling tepat.

Yang perlu diingat, perjalanan di organisasi tidak akan selalu dihiasi dengan jalan yang lurus dan bertabur bunga, terkadang jalan yang akan kita lalui di organisasi akan berkelok-kelok dan bertaburan duri. Dan bahkan akan ada suatu masa dimana akan tertutup pintu bagi kita untuk berkembang, namun yakinlah ketika satu pintu menuju kesuksesan tertutup, maka pintu-pintu lainnya akan terbuka. dan jangan biarkan kita berdiam diri di depan pintu yang tertutup tersebut.

Maka, optimalkanlah waktu luang yang ada pada dirimu dan jangan kaget jika dalam satu semester atau satu tahun kedepan anda akan berubah menjadi seseorang yang berbeda dari yang sekarang dan jauh berkembang melebihi apa yang anda bayangkan saat ini.
Comments (2)

“Jadilah Karet, Jangan Jadi Besi”
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Pernah menonton serial kartun manga ‘Onepiece’? Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan karakter dari tokoh Luffy kan? Luffy adalah seorang manusia karet yang dapat membuat tubuhnya menjadi melar dan dapat bergerak sesuka hatinya. Tapi di sini tidak akan diceritakan tentang karakter ataupun jalan cerita dari manga Onepiece ini, melainkan tentang filosofi dari sebuah karet.

Karet adalah sebuah benda yang dapat melar dan fleksibel. Sedangkan besi adalah benda yang padat dan keras serta sulit untuk diubah bentuknya kecuali dengan dibakar dan dipanaskan terlebih dahulu. Lalu mengapa harus menjadi karet dan jangan menjadi besi? secara fisik besi memang merupakan benda yang lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan karet. Tetapi secara filosofis karet memiliki arti yang jauh lebih bermakna, dalam konteks ini akan coba kita kaitkan dengan konsep ‘adaptasi’.

Bagaimana kemampuan sebuah karet yang mampu menjadi melar serta menyesuaikan bentuknya sesuai dengan kondisi dan bentuk dari wadah atau sesuatu benda sesuai dengan apa yang diinginkan. Bandingkan dengan besi, apakah besi dapat melakukan hal tersebut. Tentunya butuh usahanya yang super ekstra untuk membuat besi dapat menyesuaikan dengan bentuknya yang kita inginkan.

Belajarlah menjadi sebuah karet yang mampu beradaptasi dilingkungan seperi apapun, berlatihlah mengubah kebiasaan diri dalam situasi-situasi yang berbeda. Jangan bersikap layaknya besi, yang terus menerus mempertahankan gaya lama disituasi yang berbeda dan mungkin hanya dapat berubah dengan terlebih dahulu dipaksa serta ditempa dulu dengan api yang bertubi-tubi.

Adaptasi dan Mahasiswa
Manusia adalah makhluk sosial, manusia tak akan dapat hidup tanpa ada campur tangan orang lain dalam kehidupannya. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Lalu apa yang kita lakukan untuk dapat berinteraksi dan melakukan proses sosialisasi tersebut? Salah satu caranya adalah dengan menjadi seperti karet tadi dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Kemampuan adaptasi ini pula lah yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk dapat merealisasikan mimpinya menyelesaikan kuliah dan mendapatkan kesuksesannya setelah lulus.

Tidak dapat dipungkiri, setiap mahasiswa tentunya memiliki perbedaan. Perbedaan ini meliputi berbagai aspek kehidupan, mulai dari perbedaan latar belakang, perbedaan gaya hidup sampai perbedaan pola pikirnya terhadap suatu permasalahan. perbedaan ini bisanya diawali dengan sebuah kecenderungan seseorang untuk bergaul dengan sebuah komunitas yang sama dengan dirinya. Kemudian diikuti oleh individu-individu lain yang juga memiliki kecendrungan yang sama untuk bergaul dengan lingkungan lainnya yang sama dengan diri mereka. Sehingga muncullah berbagai komunitas-komunitas dengan kecenderungan yang berbeda-beda.

Setiap perbedaan-perbedaan ini ketika tidak dapat menyikapinya dengan bijak maka akan cenderung mampu menimbulkan sebuah konflik. Boro-boro mau interaksi, yang ada malah konflik. Karena pada dasarnya setiap kita (individu mahasiswa) adalah bagian dari masyarakat kampus, yang mana di dalamnya terdiri dari berbagai macam komunitas, maka dari itu dibutuhkan sebuah kemampuan untuk beradaptasi agar kita mampu menghargai perbedaan. Sehingga dengan begitu, kita akan menjadi seseorang yang dapat diterima di dalam setiap komunitas tersebut.

Dengan kemampuan adaptasi ini kita juga akan mampu bersikap lebih tenang saat-saat kita sedang menghadapi suatu keadaan sulit dan keadaan itu mungkin sesuatu hal yang tidak dapat kita terima. Ditambah lagi kondisi tersebut juga tak mudah untuk diubah. Maka dengan kemampuan untuk dapat menjadi karet ini kita akan mampu bersikap lebih bijak dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang kita hadapi tersebut. Dan bahkan bukan tidak mungkin dengan itu kita mampu menjadikan kondisi negatif menjadi peluang untuk lebih dapat mengembangkan diri sehingga kita akan mendapatkan efek positif dari kondisi tersebut.
Comments (1)