hover animation preload
Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Memaknai Filosofi Pagi
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Siapa yang tidak bisa menikmati pagi mungkin ia juga tidak bisa menikmati hidupnya.”

Pagi itu bukan hanya tentang waktu terbitnya matahari. Pagi bukanlah sekedar pertanda dimulainya aktivitas manusia. Hadirnya Pagi ini juga seakan mengabarkan bahwa dunia dimulai lagi, kehidupan berputar lagi.

Pagi datang setiap hari, tapi hanya sedikit yang mampu memaknai setiap fase kehadiran Pagi. Tidak semua orang sadar bahwa pagi hanya datang sebentar kemudian pergi lagi. Indahnya pagi hanya akan dirasakan oleh mereka yang sangat bersemangat ingin melihat sunrise hidupnya. Mereka ingin harinya di awali dengan hal yang indah untuk kemudian menutup harinya dengan kepuasan setelah melihat sunset di akhir harinya.

Mungkin hanya ada satu kata “menyesal” bagi mereka yang tidak memanfaatkan waktu paginya, tidak bergegas mempersiapkan aktivitasnya, tidak berani mengambil keputusan besar di pagi harinya. Mereka tidak sempat menikmati sunrise dan mereka juga melewatkan segala keindahan pagi.

Bersemangatlah menyambut pagi. Karena tidak ada waktu seramah pagi, Ia datang membawa embun, mengundang kicauan burung. Saat pagi, keheningannya menenangkan, segarnya seakan menggairahkankan, pagi datang diantara cerianya wajah manusia, pagi selalu datang mencurahkan kesejukan, pagi pun selalu datang dengan membawa harapan-harapan baru.

Dengan memaknai pagi maka kita akan mulai bisa mengawali hari dengan hal positif. Dengan memaknai pagi maka kita akan selalu bersyukur dengan adanya kesempatan dan harapan baru tentang hidup lebih baik. Karena pagi adalah awal kehidupan. Syukurilah, hargailah, dan maknailah pagi. SEMANGAT PAGI!
Comments (5)

Bahagianya Ketika Kita Tiba di Puncak
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,


"Bahagia itu sederhana, ketika kita bisa menyelesaikan sesuatu dan sampai di tujuan dengan hasil kerja keras dan pengorbanan secara bersama-sama itulah bahagia."


Seseorang tak akan tahu bahagianya seseorang yang berhasil mencapai puncak gunung kalau ia tidak mencobanya sendiri. Aku ingin sekali merasakan hal yang seperti itu. Merasakan bahagia setelah berlelah-lelah menggerakkan kaki ribuan langkah untuk mencapai puncak, yang sampai sekarang belum pernah ku lakukan.

Sampai sekarang aku masih berkeinginan mewujudkan hal tersebut sebelum aku benar-benar tidak punya kesempatan lagi. Sebelum ini aku sudah pernah melakukan perjalanan gunung, tapi itu belum seberapa aku belum pernah menyentuh puncak. Namun, walaupun hanya mencapai kawah nya saja perasaan bahagia itu begitu luar biasa, dan aku bisa membayangkan betapa lebih bahagianya ketika aku benar-benar sampai di puncak gunung.

Seperti itu pula yang juga aku rasakan di kehidupanku saat ini. Aku seperti baru saja menyelesaikan pendakianku menuju puncak. Ya, setelah melakukan berbagai kerja keras dan pengorbanan, akhirnya aku berhasil menyelesaikan salah satu tugas berat sebagai mahasiswa yaitu magang. Rasanya sungguh luar biasa. Ada perasaan lega, dan bahagia. Bagaimana tidak, aku berhasil melalui perjalanan dua bulan dengan susah payah, perasaan senang dan bosan menjadi kisah sepanjang dua bulan ini. Sampai akhirnya hani ini aku bisa bernapas lega karena semuanya telah berhasil aku lalui.

Mungkin apa yang aku lalui selama magang ini bisa ku analogikan seperti perjalanan mendaki gunung. Segala perasaan itu dimulai dengan antusiasme besar untuk mendapatkan pengalaman berharaga, kemudian awal perjalanan akan begitu menyenangkan, sampai di separuh jalan akan muncul kebosanan sampai ada hal yang membuatku akhirnya bersemangat lagi mencapai tujuan akhir dari pendakian ini. Di bagian akhir aku pun bersemangat lagi karena ingin segera sampai di puncak. Ya begitulah, dan ketika sampai di puncak rasanya begitu luar biasa dan sangat ingin aku membagi kebahagiaan itu kepada orang-orang sekitarku.

Seperti itu pula perjalanan hidup, dan aku pun menyadari segala kesulitan itu tak mungkin bisa ku lalui sendirian. Selalu ada orang yang bisa ku ajak berbagi selama perjalanan mencapai tujuan itu, saat mendaki gunung maupun menyelesaikan magang teman-teman lah yang memberiku semangat untuk tetap menlanjutkan perjalanan sampai akhir, tanpa mereka mungkin aku tak akan sampai di puncak.

Bagiku bahagia itu sederhana, ketika kita bisa menyelesaikan sesuatu dan sampai di tujuan dengan hasil kerja keras dan pengorbanan secara bersama-sama itulah bahagia. Setelah ini, masih banyak tantangan hidup yang harus ku lalui. Masih ada tantangan semester akhir, kemudian pilihan hidup tentang melanjutkan ke jenjang pasca kampus, entah kerja ataupun melanjutkan kuliah. Saat ini aku selalu berharap bahwa di setiap masanya akan ada teman-teman yang selalu membersamaiku di setiap potongan kisah hidupku.
Comments (1)

Peminjam yang (Kini) Meminjamkan
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Transformasi pola pikir itu secara langsung memengaruhi perubahan tingkah laku. Orang yang tadinya suka meminjam buku dari orang lain kini sudah bisa untuk menjadi orang yang meminjamkan bukunya kepada orang lain.”

Pola pikir seseorang tentu diatur oleh kemauan seseorang itu sendiri. Ia dapat menentukan apa yang  ia yakini berdasarkan apa yang ia anggap baik dan apa yang ia anggap buruk. Namun bukan berarti kita tidak bisa terbuka dengan perubahan pola pikir pada diri kita.

Pola pikir seseorang itu juga dapat terbentuk menyesuaikan lingkungan di mana ia berada. Ketika seseorang hidup di lingkungan terpelajar, maka ia cenderung akan lebih suka kegiatan-kegiatan yang sifatnya dialektis dibandingkan kegiatan yang sifatnya hura-hura. Secara umum ketika seseorang berada di lingkungan yang positif maka ia akan tertular pola pikir positif dan jika ia berada di lingkungan negatif maka pila pikirnya cenderung negatif juga.

Adapun hal yang dapat melatarbelakangi mengapa pada akhirnya seseorang dapat mengalami perubahan pola pikir adalah ketika Ia begitu banyak bersentuhan dengan pemikiran dan kepentingan lain di luar dirinya. Seseorang mungkin dapat lari serta meninggalkan pergolakan pemikiran dan kepentingan tersebut selama tidak bersesuaian dengan dirinya. Padahal dengan kita mengenal berbagai pemikiran tersebut wawasan kita akan lebih terbuka, dan kita dapat menentukan sikap dengan lebih yakin.

Salah satu contoh yang aku alami adalah terkait kegiatan membaca dan membeli buku. Awalnya aku berpikir bahwa membeli buku itu tidak lebih baik dari pada meminjam buku. Aku merasa bahwa aku akan tetap mendapatkan manfaat yang sama dari sebuah buku ketika aku meminjam buku tersebut dari orang lain. Sehingga tanpa aku harus membeli buku tersebut aku sama sekali tidak merasa kehilangan manfaat dari pada harus membelinya sendiri.

Namun dengan adanya berbagai obrolan tentang pro-kontra antara lebih baik meminjam atau memiliki buku dengan beberapa teman akhirnya pikiranku mulai terusik. Meminjam buku memang akan menghemat pengeluaran dan kita juga tetap bisa mendapatkan ilmu dari buku yang kita pinjam.

Namun aku kemudian terusik dengan analogi sederhana dari salah seorang teman ku tersebut yang mengatakan bahwa buku itu ibarat harta, dengan buku kita bisa mewariskan ilmu yang bermanfaat kepada generasi yang akan datang. Sedangkan kalau kita hanya meminjam buku sama saja seperti kita meminjam ilmu. Ketika kita lupa dengan ilmu yang telah kita baca kita tidak dapat membuka kembali ilmu tersebut.

Sampai akhirnya saat ini aku mulai memikirkan hal itu dan berusaha mengubah pola pikir meminjam buku menjadi pemilik buku bahkan sekarang (sering) menjadi orang yang meminjamkan buku. Pada akhirnya perubahan pola pikir ini dapat terjadi ketika aku mulai bisa menerima berbagai informasi dan pendapat dari lingkungan ku sekalipun itu kadang bertentangan dengan apa yang aku pikirkan. Bila jutaan bahkan miliran manusia saja mau menerima informasi tertentu dan juga memiliki pola pikir seperti itu berarti informasi tersebut pantas dipelajari.

Kemudian aku berusaha untuk mengambil pelajaran dari informasi itu baik-baik sebelum memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Sehingga apa yang menjadi pola pikirku itu bukanlah semata-mata pengaruh dari lingkungan melainkan ditentukan berdasarkan keinginan pribadi menyesuaikan dengan apa yang ia anggap baik dan apa yang ia anggap buruk.
Comments (2)

Memenangkan Komitmen
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,



Semangat mungkin akan mudah naik dan turun, hal ini lumrah terjadi dan mungkin akan menimpa siapa saja. Hanya mereka yang berkomitmen yang mampu melalui periode jenuh serta saat-saat ia kehilangan semangat untuk kemudian bangkit dan menjalani kehidupannya kembali seperti biasa. Karena di saat kita ingin melepaskan apa yang tengah kita jalani, komitmen dalam diri lah akan membimbing kita untuk mengingat kembali saat-saat kita hendak mendapatkannya apa yang sedang kita jalani tersebut. Dengan komitmen, rasa bosan dan jenuh dalam diri akan kalah dengan ingatan kita akan saat-saat indah dalam menjalani kehidupan tersebut.

Perlu kita pahami bahwa menjalani proses untuk mencapai apa yang kita impikan itu tidaklah mudah. Kecenderungan kita memang selalu mendorong kita untuk mengindar dari tantangan dan mendatangi kesenangan. Padahal yang indah itu hanya sementara sedangkan kesenangan yang sebenarnya adalah saat kita mampu melalui rintangan untuk menjaga komitmen kita dalam mewujudkan apa yang kita impikan tersebut. Saat komitmen itu perlahan mulai luntur dari dalam diri kita, ketahuilah bahwa akan sulit untuk mencarinya kembali.

Dua paragraf di atas merupakan unek-unek yang bisa aku tuliskan saat ini. Di saat komitmen ku sendiri sedang diuji. Aku memang selalu meyakinkan kepada diriku sendiri bahwa aku adalah orang yang tidak ingin kalah oleh diriku sendiri. Aku hanya ingin mengakui kekalahan jika memang keadaannya yang memaksa demikian. Sampai akhir aku berusaha untuk tidak mengalah dengan keadaan sampai keadaan lah yang benar-benar mengalahkanku. Itulah komitmenku, bukan tentang komitmen ala kadarnya. Karena aku ingin semua yang telah aku putuskan di awal harus bisa aku jalani tanpa ada penyesalan di akhirnya.

Bagiku berkomitmen adalah seperti kita sedang berjanji dengan diri sendiri. Kita tentu akan merasa kesal dan jengkel ketika ada seseorang yang telah berjanji kepada kita kemudian kita ingkari begitu saja. Maka semestinya kita pun akan merasa jengkel bahkan sakit hati ketika diri kita ditipu oleh diri kita yang lain. Seperti itulah komitmen, ia mungkin bisa dengan mudah kita lupakan dalam ingatan kita, namun hati kita akan selalu tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan. Karena hati kita cenderung akan mengikuti komitmen yang telah kita putuskan di awal saat hendak menempuh sebuah perjalanan hidup.

Di dalam menempuh perjalanan hidup, komitmen sangatlah berperan penting. Karena pentingnya komitmen ini, maka sebelum menjalankan komitmen, setiap langkah yang akan dijalani di dalam mencapai tujuan tersebut, harus benar-benar direncanakan dengan matang. Dan setelah anda yakin dengan langkah-langkah tersebut, barulah anda dapat berkomitmen. Hingga akhirnya kita mampu memutuskan untuk memenangkan komitmen dan nantinya kita akan berhasil sampai garis akhir perjalanan dengan perasaan senang dan penuh kebanggaan.
Comments (0)

Lakukan Seperti yang Kita Inginkan
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari saat ini juga”.

Mungkin hampir semua orang memahami maksud dari kata-kata di atas, dan saya yakin semua orang bisa mencoba mengimplementasikannya. Bagian tersulitnya mungkin pada saat mencoba untuk berkomitmen atas segala tindakan positif yang telah dilakukan, kenyataannya tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut.

Masalahnya, banyak orang ingin sesuatu namun terkadang berat melakukan sesuatu tersebut untuk orang lain. Katakanlah sesuatu tersebut tentang kebersihan. Semua orang tentunya ingin hidup bersih, ingin lingkungan sekitarnya bersih. Banyak orang tidak mau lingkungannya dikotori oleh orang lain, tapi terkadang ia tidak memikirkan bahwa ketika ia membuang sampah sembarang sama saja dengan mengotori wilayah orang lain.

Bahkan seseorang terkadang rela berkeringat untuk menjaga kebersihkan halaman rumah miliknya sendiri. Tapi tidak semua orang mau menjaga kebersihkan lingkungan untuk orang lain (kerja bakti). Disini terdapat egoisme yang tak bisa terhindarkan di kalangan masyarakat, khususnya di dalam konteks warga metropolitan. Jika benar hal itu tentang keegoisan, maka tak bisakan hal tersebut sedikit dilenyapkan dari hati masyarakat ibukota untuk Jakarta yang lebih bersih.

Orang yang egois cenderung tidak akan acuh terhadap ocehan atau sindirian dari orang lain, dari tetangganya. Perlu teladan untuk mengubah kondisi masyarakat yang seperti ini. Dan setiap orang bisa memulai untuk menjadi seorang tauladan, kita hanya tinggal menjawab pertanyaan, mau atau tidak?

Jika mau, kita cukup memulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini juga. Sadari bahwa diri kita tentu ingin hidup bersih, maka janganlah membuang sampah sembarangan. Lakukan dari hal kecil seperti memungut sampah-sampah ringan yang terserak sembarangan dari tempat seharusnya. Dan jangan tunggu ada banjir untuk memulainya. Lakukan pencegahan, bukan lagi penanggulangan. Maka mulailah melakukan sesuatu seperti apa yang kita inginkan.
Comments (0)

Aksi ala Pemuda
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Darah muda darahnya para remaja. Yang selalu merasa gagah. Tak pernah mau mengalah. Masa muda masa yang berapi-api. Yang maunya menang sendiri. Walau salah tak perduli.” (Darah Muda-Rhoma Irama)

Kebanyakan orang bertanya, apa yang akan dilakukan oleh seorang pemuda untuk bangsanya. Mereka juga mempertanyakan apakah pemuda mau turun tangan memikul tanggung jawab untuk mengabdi bagi kemajuan bangsanya. Mereka bertanya seperti ini karena mereka sebenarnya tidak tahu bahwa pemuda Indonesia sesungguhnya memiliki gen perjuangan untuk mengabdi bagi kemajuan bangsa.

Tak perlu ditanyakan lagi dari mana, karena pemuda Indonesia sejatinya memang seperti itu.  Pada saat republik ini hendak didirikan, sejarah mencatat bahwa pernah ada ribuan pemuda yang lebih memilih berjuang memerdekakan Indonesia dibanding sekedar hidup layak dengan berpangku tangan.

Istilah berjuang bagi pemuda Indonesia adalah sebuah kata yang sudah melekat pada jati diri mereka. Dalam bidang apapun, pemuda Indonesia itu tidak akan terlepas dari identitasnya sebagai pejuang. Hal ini  tergambar dalam lirik lagu Darah muda milik Rhoma Irama, bahwa masa muda adalah masa yang berapi-api yang mana pemuda tak akan mudah mengalah atas rintangan yang menghalangi untuk mencapai apa yang diinginkannya.

Akan menjadi luar biasa jika keinginan pemuda yang berapi-api ini disalurkan dalam wadah yang positif dan produktif untuk kemajuan Indonesia. Dari kegiatan positif dan produktif ini pemuda diharapkan dapat mencicil tanggung jawabnya untuk memajukan bangsa ini di masa depan. Selain itu juga guna mewujudkan amanat undang-undang dasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan.

Tak ada yang memungkiri bahwa pendidikan menjadi salah satu pilar penting untuk mewujudkan kemajuan suatu bangsa. Di era modern saat ini ada tiga kekuatan dominan yang terangkum dalam misi pendidikan: ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi.  Seorang pemuda Indonesia harus bisa menularkan semangat juangnya dalam bidang pendidikan ini. karena merekalah tumpuan dan harapan dari seluruh masyarakat untuk masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Sebaik-baiknya manusia (pemuda) adalah mereka yang mampu memebrikan manfaat untuk orang lain (untuk bangsanya), salah satunya adalah dengan mengajar. Karena pada hakikatnya mengajar merupakan sebuah seni untuk memberikan inspirasi dan kebermafaatan kepada orang lain. Mengajar adalah sebuah implementasi dari sebuah Aksi Untuk Indonesia. Sehingga menjadi sebuah kehormatan bagi pemuda jika mereka mau belajar dan mengajarkan ilmunya kepada masyarakat, kepada bangsanya.

Saya percaya untuk mulai berbagi bukan berarti harus menunggu memiliki kelimpahan ilmu terlebih dahulu. Berbagi ilmu itu hanyalah tentang persoal niat dan kemauan. Banyak pemuda yang diberikan anugerah berupa pengetahuan, tenaga, dan waktu. Oleh karena itu, cara yang paling tepat untuk mensyukurinya adalah dengan membaginya kepada orang lain.

Lihatlah sekeliling dan lakukanlah perubahan. Berbekal semangat untuk berjuang dan beraksi, pemuda saat ini dihadapkan pada pilihan sederhana namun sulit untuk menjalankannya. Memilih untuk turun tangan atau melipat tangan. Memilih menyalakan lilin atau merutuki kegelapan. Semoga pemuda tahu jawabannya dan berkomitmen dalam menjalankan apa  yang dipilihnya.


tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi nge-blog lintas.me "Aksi Untuk Indonesiaku" (http://www.lintas.me)
Comments (1)

Berpikir Mengubah Dunia
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

Hidup itu layaknya pohon, tidak diam dan selalu bertumbuh”.

Akarnya sangat menentukan bagaimana pohon tersebut akan tumbuh, ada banyak faktor yang membuatnya bertumbuh. Ibarat kehidupan ranting dan daun pada pohon keduanya berkembang layaknya memunculkan sebuah kisah cerita baru dalam sisi kehidupan seseorang. Saat daun-daun tersebut jatuh maka ingatan serta memori dari pengalaman hidup kita perlahan juga menghilang.

Janganlah lupakan filosofi ini, karena dengan seperti itu maka hidup kita akan lebih berarti dan kita dapat terus bertransformasi layaknya pohon serta dapat bermanfaat bagi sekitar kita. Tanpa kita sadari, kenyatannya hidup itu kadang jauh lebih ‘keras’ dari pada yang kita bayangkan. Maka jadikanlah hal tersebut sebagai sebuah tantangan dan pelecut semangat dalam menjalani kehidupan. Tidak semua hasil yang kita dapatkan, entah itu baik maupun buruk, dapat dengan gambling menggambarkan kemampuan seseorang karena yang terpenting adalah bagaimana proses kita menjalani kehidupan tersebut.

Mengubah Dunia
“Dunia itu memang buruk tetapi kita dianugerahkan potensi untuk melakukan perubahan.” (Sofwan ABDC)
Salah satu mimpi seorang Sofwan Al Banna adalah Ia ingin mengubah dunia, dan salah satu sarana yang ia tempuh adalah dengan melalui jalur akademis, yaitu mengambil jurusan Hubungan Internasional. Alasannya sederhana, dengan bergaul di dunia Internasional diharapkan di masa depan Ia sanggup menjadi bagian dari perubahan dunia itu sendiri. Ia mengatakan, “Saya ingin mengetahui bagaimana cara kerja dunia dan saya ingin melakukan perubahan terhadapa dunia tersebut.”

Banyak cara untuk menjadi bagian dari perubahan dunia. Namun mimpi itu selayaknya mampu kita tuangkan dalam sebuah visi atau tujuan hidup kita, sehingga visi tersebut dapat kita terjemahkan dengan capaian-capaian yang terukur serta lifeplan yang jelas dan spesifik. selama menjalani kehidupan kita juga harus menyadari bahwa kita akan banyak menemukan hal-hal baru yang mungkin akan mendukung visi kita maka kita harus mampu membaca peluang tersebut.

Untuk mampu berbuat banyak dalam upaya berkontribusi dalam perubahan dunia, setidaknya ada tiga kompetensi dasar yang harus kita memiliki. Kompetensi tersebut dapat menjadikan kita sebagai seorang leader yang mampu menyampaikan pesannya dalam bentuk yang tidak rumit dan sederhana, yaitu kemampuan berkomunikasi (berbicara di depan publik) serta kemampuan menulis. Keduanya sama-sama merupakan sarana penyalur gagasan atau ide kita untuk berkontribusi dalam perubahan dunia. Kemudian kompetensi yang ketiga yaitu, kita juga harus mamiliki cara pandang yang positif dalam menghadapi setiap masalah. Sehingga dengan begitu kita akan lebih bijak ketika mengambil keputusan atau saat menelurkan sebuah gagasan.

Setiap indidu diberikan potensi untuk berkembang dan memberikan sumbangsih bagi dunia. Maka melangkahlah bersama-sama, karena perubahan yang besar itu tak akan terjadi hanya karena segelintir orang namun perubahan dapat terjadi jika dilakukan secara berjamaah. Kita juga harusnya sadar bahwa kita diciptakan bukanlah sia-sia. Kita harus mengetahui apapun yang kita lakukan dan kita juga harus merencanakan setiap hal yang ingin kita capai. Sehingga cita-cita untuk mengubah dunia bukanlah sekedar angan-angan dan perubahan yang terjadi adalah karena by design not by accident.

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi dengan Sofwan Al Banna Chairudzat
Comments (1)

Tentang Si Pembuat Kehidupan
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Setiap manusia yang menjadi poros dalam kehidupan manusia lainnya adalah seorang pembuat kehidupan. Layaknya proton terhadap neutron, seorang pembuat kehidupan mampu memberikan energi-energi positif kepada sekitarnya. Hal ini mampu membuat lingkungan sekitarnya memberikan sebuah loyalitas kepada mereka, para pembuat kehidupan ini.

Dalam konteks kehidupan kita sebagai umat manusia, loyalitas adalah suatu hal yang muncul dalam diri seseorang dengan alami. Ketika bersama dengan seseorang yang lebih cerdas, berwibawa, kaya, dan  hebat dari yang lainnya, maka secara tidak langsung orang seperti ini akan menjadi poros perputaran bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Lalu orang-orang seperti apa yang dapat dikategorikan sebagai si pembuat kehidupan tersebut? Tentunya mereka merupakan seorang yang kreatif, serta memiliki ide besar dan mampu berfikir ringkas dan out of the box. Mereka adalah seseorang yang berani berijtihad serta memiliki kemauan untuk melakukan segala sesuatu setingkat diatas rata-rata kebanyanyakan orang.

Tidak semua orang dapat menjadi si pembuat kehidupan. Menjadi seorang pembuat kehidupan merupakan sesuatu kemampuan yang dibentuk dan dipersiapkan dalam hidup bukan  karena kebetulan semata (by design not by accident). Mereka begitu loyal dengan tujuan yang ingin dicapainya serta sanggup melakukan apapun untuk mengejar mimpinya tersebut.

Bagi seorang aktivis dakwah  menjadi si pembuat kehidupan seakan menjadi kewajiban bagi dirinya dan bagi lingkungan sekitarnya. Bagaimana seorang da’i mampu menjadi seorang yang diikuti oleh lingkungannya jika ia sendiri tidak memiliki kecakapan-kecakapan, baik prilaku maupun pengetahuan umum yang mampu menjadikannya lebih baik dari orang-orang lain di sekitarnya.

Maka dari itu untuk mengemban misi ini (menjadi si pembuat kehidupan), seorang aktivis dakwah harus dapat menguasai core competence bidang yang ia geluti. Tidak hanya itu, seorang aktivis dakwah juga harus mampu menghasilkan sebuah karya yang memberikan inspirasi untuk lingkungan di sekitarnya. Hingga akhirnya lingkungan sekitanya secara alami memberikan loyalitas kepada dirinya sehingga apa yang ia kerjakan mampu menginspirasi sekitarnya untuk memberikan perbaikan di mana pun ia berada.
Comments (0)

Ini Kemerdekaan Aku, Kamu dan Mereka
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

 "Sebagai Pria lakukanlah dengan rasa bangga"
(Tom-tokoh dalam Manga One Piece)

Bukan merdeka namanya jika kita tidak merasa terpaksa dengan apa yang kita upayakan. Bukan merdeka namanya jika kita tidak ikhlas dengan apa yang kita dapatkan. Dan bukan merdeka namanya jika kita tidak bisa melakukan segala sesuatunya dengan rasa bangga.

Pada hakikatnya kemerdekaan adalah kita dapat bertindak segala sesuatunya sesuai dengan kehendak hati kita. Dalam mengupayakan segala sesuatunya danpa ada paksaan dari pihak manapun. Sehingga pada akhirnya kita juga akan dengan ikhlas menerima apapun yang kita dapatkan, karena kita melakukan semuanya dengan rasa bangga dan sesuai apa yang kita inginkan. Namun bukan berarti dalam melakukan segala sesuatunya boleh bebas sebebas-bebasnya, di dalam sebuah kehidupan tentu ada Dzat yang berperan mengatur segala sesuatunya. Dan merdeka berarti kita hanya boleh tunduk kepada aturan yang dibuat oleh Dzat tersebut, yaitu oleh Allah SWT.

Seberapa merdekanya kita, dan seberapa bebasnya kita, kita tetap tidak boleh melawan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita. Salah satu, yap, salah satu bentuk aturan tersebut adalah kita boleh merdeka, tapi jangan sampai kemerdekaan kita itu melanggar kemerdekaan milik orang lain. Ini yang bisanya dilupakan oleh mereka yang merasa dirinya merdeka, merasa bebas sebebas-bebasnya.

Memang di dalam sebuah kehidupan yang nyata, ada sebuah ‘penyakit’ tak terdeteksi berupa rasa kebanggan yang berlebihan. ‘Penyakit’ ini terkadang muncul karena kita telalu merasa merdeka atas diri kita, tak lagi memikirkan orang lain yang ada di sekitar kita. Padahal tanpa mereka kita tidak akan memiliki sebuah kebanggaan atas apa yang kita kerjakan, karena yang sebenarnya memberikan sebuah penghargaan atas kerja keras kita adalah mereka bukan diri kita sendiri.

Memberikan penghargaan kepada diri sendiri itu sama saja dengan narsis, dan mungkin saja di mata mereka apa yang kita lakukan itu tidaklah ada artinya. Sehingga dengan begitu sebenarnya mereka lah yang seharusnya kita jaga kemerdekaannya, tidak kita jajah hak-haknya dan juga kita hormati segala bentuk tindakannya.

Intinya tidak ada orang yang mau dijajah atau tidak sengaja terjajah. Aku sendiri tidak mau dijajah, dan kamu pun pasti tak mau dijajah. Apalagi mereka, tentu mereka juga tak ingin di jajah. Maka dari itu cobalah belajar untuk ‘bercermin’, sejenak melihat refleksi diri kita dihadapan kita sendiri. Mungkin saja selama ini kita merasa merdeka, namun kemerdekaan kita tersebut sebenarnya telah menjajah mereka.

Semoga di hari kita mengenang sebuah makna kemerdekaan ini (17 Agustus). Kita dapat mengambil hikmah bahwa merdeka atau terjajah itu kini bukan lagi hanya ada dalam tataran suatu Negara. Namun juga menyangkut harkat hidup individu. Dan kemerdekaan sebenarnya adalah ketika kita telah mampu melakukan segala sesuatu yang kita inginkan itu dengan rasa bangga tanpa melanggar kemerdekaan yang mereka miliki.

#InspirasiKemerdekaan
Comments (0)

Riak itu Akan Tenang dengan Sendirinya
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

      Pernahkan kita menyibukkan diri dengan terus-menerus berupaya menyelesaikan masalah namun yang pada akhirnya solusi tersebut justru menambah masalah?

Kondisinya mungkin hal itu hanyalah masalah kecil yang seharusnya tidak kita hiraukan secara berlebihan, namun kenyataannya masalah-masalah kecil itulah yang pada akhirnya justru banyak menguras energi kita. Hal tersebut terjadi karena mungkin kita belum memiliki agenda-agenda yang besar dalam hidup kita. Atau mungkin kita memiliki agenda besar namun kita belum dapat fokus memikirkan bagaimana cara mencapainya.

Sehingga sebenarnya penyelesaiannya sangat sederhana: jika kita tidak dapat fokus untuk mencurahkan energi kita untuk sebuah kerja besar maka sebenarnya kita sedang menguras energi kita untuk berkutat dengan permasalahan-permasalahan kecil. Sebaliknya ketika kita memiliki agenda besar yang ingin kita capai dalam hidup, maka yakinlah bahwa kita tidak akan membiarkan energi kita terkuras untuk mengatasi permasalahan yang kecil. dan pada akhirnya masalah-masalah kecil ini tidak akan menggangu pikiran dan fokus kita untuk mencapai agenda besar yang hendak kita capai.

Maka mulailah bergerak, dan terus bergerak, jangan mau dipaksa berkutat di dalam ruang sempit bernama permasalahan kecil, biarkan masalah itu berlalu tanpa ada rasa penyesalan dalam diri kita. Karena pembiaran yang kita lakukan akan membuat diri kita keluar dari ruang sempit tersebut. Karena jika kita tidak mencoba keluar darinya maka kita tidak akan pernah dapat merengkuh mimpi besar yang ada di depan.

Yakinilah bahwa tidak semua masalah harus dipikirkan, tidak semua masalah harus diselesaikan dan dicari solusinya, Karena memang ada banyak sekali masalah yang akan selesai tanpa kita pikirkan dan tanpa kita cari solusinya. Layaknya penyakit, tentunya tidak semua penyakit yang kita rasakan harus dibawa ke dokter kan? Ada penyakit-penyakit kecil yang akan sembuh seiring berjalannya waktu, bahkan ada penyakit yang akan sembuh ketika kita memutuskan untuk beristirahat dan melupakan sejenak penyakit yang ada di dalam diri kita tersebut. Seperti itu pula lah sebuah masalah.

Yang mesti kita lakukan hanya cukup meyakini bahwa apa yang kita lakukan sekarang adalah hal yang lebih prioritas dari pada sekedar berkutat di sebuah ruangan sempit bernama masalah, dan yakinlah setiap riak air dalam sebuah bejana pada akhirnya akan tenang dengan sendirinya.
Comments (2)

Keberkahan Ilmu
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Pemahaman dan ilmu Pengetahuan seseorang tidak hanya diukur dari tingkat IQ-nya saja. Karena hal itu hanyalah sebagian kecil dari kecerdasan-kecerdasan yang telah Allah berikan kepada kita sebagai manusia.

Ada suatu pertanyaan, "Bagaimana cara kita agar dapat lebih bisa memahami apa yg telah disampaikan oleh guru? Mengapa pemahaman saya selalu di bawah teman saya, padahal input yang kami terima sama?” Maka jawabannya yaitu bergantung dari tingkat keberkahan Ilmu-nya masing-masing".

Keberkahan yang kita dapatkan dari ilmu yang kita miliki akan mampu membimbing kita menjadi seorang pribadi yang mampu mengamalkan kembali ilmu tersebut dan membuat ilmu tersebut lebih lekat pada diri kita. Sedangkan jika Allah Ta’ala tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepadamu, maka kita akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan. Karena jika Allah Ta’ala tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepada kita, maka kita pun akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan.

Jika kita sedang dalam kondisi seperti itu, yang harus kita lakukan adalah tetap berusaha bersyukur kepada Allah atas apa yang sekarang kita miliki, sehingga nantinya kita akan memahami bagaimana cara kita mengelola kondisi dan perasaan kita menjadi sebuah energi positif dalam diri kita yang akan mendorong kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Lalu setelah kita bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah, kita juga tetap tidak diperbolehkan untuk berputus asa dari rahmat-Nya dengan kita tetap berusaha memahami ilmu tersebut dengan terus "belajar". Karena belajar adalah sebuah syarat utama yang harus dilakukan untuk dapat terus mengembangkan ilmu yang telah kita peroleh. Belajar itu dapat berbentuk apa saja, dari mana saja dan dari apa saja, taka da batasan dalam belajar. Selain itu, kita juga harus mengoptimalkan unsur-unsur pendukung semangat belajar, salah satunya membiarkan diri kita memiliki ketenangan jiwa atau rohani saat hendak belajar atau membaca sesuatu.

Kemudian setelah itu yakinlah dengan pepatah Arab, “man jadda wajada”, Barang siapa yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu, maka ia akan mendapatkannya. Dan yang paling penting dari semua itu adalah dengan kita menghargai ‘orang’ atau apapaun yang sedang menjadi subjek pengajar ilmu kepada kita atau objek yang kita pelajari. Bagaimana kita bisa menerima dan memahami ilmu yang telah ia sampaikan kepada kita, jika di dalam hati kita menolak terhadap ilmu tersebut. Padahal ilmu tersebut mungkin saja tertahan karena sifat antipati kita kepada ‘orang’ yang menyampaikan ilmu tersebut.

Untuk mendapatkan keberkahan ilmu, maka kondisi rohani kita juga harus selalu terjaga baik dan siap untuk menerima ilmu tersebut. Ketika kita sedang memiliki kondisi rohani yang baik, yaitu kondisi dimana kita sedang rutin atau banyak melakukan amalan-amalan ibadah, seperti: shalat Tahajud, dhuha, tilawah, infak, sadaqah dll. maka kita akan lebih mudah mencerna ilmu tersebut. Karena dengan kondisi rohani yang demikian, insyaAllah, Allah akan membuka qolbu dalam diri kita sehingga kita dapat menerima dan memahami ilmu itu dengan baik.

Selain itu juga harus dikuatkan dengan ikhtiar. Karena ilmu itu tidak datang dengan sendirinya kedalam pikiran kita. Ilmu itu kita cari dan kita cerna melalui proses. Yang harus kita utamakan disini adalah ikhtiar dan proses kita dalam upaya memperoleh dan memperkaya ilmu. Karena Allah selalu melihat proses pada diri kita yang terus berupaya menjadi lebih baik bukan semata bagaimana hasil akhir yang kita peroleh. Jadi, Biarkanlah Allah yang menakdirkan jalan mana yang terbaik yang kita dapatkan, yang kita lakukan adalah berusaha.

Dan semoga mereka yang bersungguh-sungguh dalam belajar dan menuntut ilmu dan berusaha mendapatkan keberkahan ilmu tersebut. Maka, merekalah yang akan mendapatkan hasil yang maksimal serta hidayah dan kebaikan dari Allah.

"Mendekatlah pada-Nya, maka Dia akan memberikan Ilmu-Nya."
Comments (0)

Kehilangan adalah Inspirasi untuk Memberi
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,


"kalau saja Allah tidak menimpakan kehilangan kepada hamba-Nya, tentu manusia tidak akan mengenal arti memberi."

Suatu ketika seorang temanku kehilangan salah satu benda berharga miliknya, sebut saja handphone. Ia sedikit terpukul dengan kejadian tersebut. Namun yang bisa Ia lakukan hanyalah mencoba memetik hikmah dari kejadian tersebut.

Esoknya, puluhan simpati muncul menghampiri dia, ucapan untuk sekedar memberi semangat dan menyelipkan doa untuknya. Diantara doa yang di sampaikan orang lain kepadanya saat itu adalah "Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik".

Yap, kehilangan bukan harus kita sikapi dengan mengeluh. Kita perlu menyesal, tetapi tidak sampai mengeluh dan meratapinya. Karena kehilangan adalah sebuah keniscayaan maka, terimalah dengan lapang dada.

Kehilangan secara tidak langsung mengingatkan kita tentang makna memberi. Kehilangan mengajarkan kita bahwa setiap yang kita miliki adalah pinjaman, dan memberi adalah salah satu bentuk investasi kita dihadapan Allah.

Diantara kita banyak yang meyakini bahwa ketika sesuatu hal hilang dari diri kita, maka itu berarti Allah tengah menyiapkan ganti yang lebih baik. Lalu apakah kita juga meyakini bahwa sesungguhnya hakikat memberi juga demikian.


Saat kita memberi, itu sama halnya kita tengah menabung untuk mendapatkan yang leih baik di masa depan, atau bahkan tabungan untuk di akhirat kelak. Dan Allah tidak akan sungkan untuk menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Memberi adalah perbuatan mereka yang ikhlas. Mereka yang menanamkan sebuah dalam diri mereka bahwa "siapa yang meninggalkan kebaikan (memberi) karena Allah, maka ia akan mendapatkan balasan terbaik dari apa yang telah ia tinggalkan (berikan).


"kalau saja Allah tidak menimpakan kehilangan kepada hamba-Nya, tentu manusia tidak akan mengenal arti memberi."

Memberi adalah sebuah seni menghidupkan kehidupan. Memberi tidak hanya dengan materi. Asalkan ikhlas, memberi dapat berupa sebuah nasihat, perhatian, kontribusi bahkan cinta. Dan memberi tetap akan bernilai amal bahkan walau hanya.
Comments (0)

Berkontribusi ala Mahasiswa Biasa
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

Suatu hari seorang teman datang mengunjungi ke kediaman saya. Pada awalnya saya pikir kedatangannya hanyalah untuk ber-silaturahmi biasa saja. Sampai akhirnya ia akhirnya mengungkapkan maksud kedatangannya berkunjung, yaitu untuk mengajak saya ikut serta dalam rencananya membuat sebuah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang bertemakan tentang pengolahan dan daur ulang sampah, yang dalam pelaksanaannya akan melibatkan anak-anak jalanan di sekitar lingkungan Universitas Indonesia. Awalnya saya sangat menyetujui dan menyukai gagasan teman saya ini, namun dengan berat hati saya menolaknya lantaran saya sendiri saat itu sedang berada di posisi yang sangat menyibukan waktu dan pikiran saya. Dalam hati saya bergumam, “sepertinya ini bukan ranah kontribusi saya.”

Banyak sekali alasan yang melatarbelakangi saya berpikiran seperti itu, dan mungkin alasan saya ini tidak jauh berbeda dari mahasiswa-mahasiswa lainnya, yaitu kesibukan organisasi. Kegiatan yang satu ini nyatanya telah menguras waktu, pikiran serta tenaga saya dalam beberapa bulan ini.  Bukan berarti dengan kondisi yang seperti itu membuat saya tidak dapat berkontribusi. Karena menurut saya berkontribusi adalah bersedia melakukan suatu kegiatan atau aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran untuk kepentingan publik. Sehingga berkontribusi juga dapat dilakukan di organisasi tempat saya berada sekarang. Bahkan oleh siapa saja dan di mana saja.

Berkontribusi bagi Mahasiswa Biasa

Pada tulisan kali ini bukan tentang PKM atau tentang organisasi yang akan saya ulas, melainkan saya akan membahas kontribusi dari sudut pandang mahasiswa biasa (bukan mahasiswa organisatoris ataupun aktivis). Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung, melainkan mengajak bersama-sama untuk memberikan sesuatu hal yang terbaik untuk FISIP UI. Mahasiswa biasa pada dasarnya tidak memiliki kapabilitas yang jauh berbeda dari mereka yang aktif organisasi, yang membedakan hanyalah dari ‘kemauan’ saja.

Lalu apa yang mampu diberikan oleh mahasiswa biasa yang cenderung pasif dan tidak memiliki suatu wadah nyata untuk berkontribusi? Yang harusnya dilakukan adalah memulainya dari hal-hal yang kecil. Saya jadi teringat tentang ilmu yang saya dapat dari mata kuliah MPKT (Mata kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi), di dalam mata kuliah tersebut telah banyak dijelaskan hal-hal kecil yang bermanfaat yang dapat kita lakukan untuk kepentingan banyak pihak. Memungut sampah yang tercecer di jalan misalnya. Bukankah hal tersebut merupakan salah satu wujud konkrit dari sebuah kontribusi?

Sebuah bentuk kontribusi nyatanya dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak peduli apakah dia seorang aktivis ataupun seorang organisatoris. Layaknya kita tidak terpaku pada anggapan bahwa sebuah bentuk kontribusi hanya dapat dilakukan oleh mereka yang berada dalam wadah-wadah organisasi tertentu atau mereka yang duduk di lembaga-lembaga tertentu. Sadarilah bahwa pada dasarnya setiap orang, setiap mahasiswa, memiliki potensi dan kompetensinya masing-masing.

Kontribusi Kecil untuk Perubahan Besar

Intinya tak perlu muluk-muluk untuk memulai berkontribusi. Tak perlu berkecimpung terlebih dahulu di lembaga mahasiwa untuk memulai berkontribusi, atau untuk berkontribusi kita juga tidak harus berkutat membuat sebuah PKM tentang pengabdian masyarakat yang justru malah menyulitkan diri kita sendiri. Cukuplah dengan kita bersedia melakukan kebaikan-kebaikan kecil untuk kepentingan sekitar kita. Karena suatu hal kecil yang kita lakukan mungkin tak berarti di mata masyarakat sekitar, namun bukan tidak mungkin sesuatu hal kecil tersebut dapat menjadi contoh bagi orang lain yang memperhatikan prilaku kita tersebut. Dan yang terpenting dari semua itu, lakukanlah setiap halnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Pesan saya yang terakhir, jangan sampai nantinya kita hanya bisa menjadi penonton di tengah arus perubahan yang terjadi di sekitar kita tetapi jadilah bagian dari golongan tersebut. Karena perlu disadari bahwa sebuah bentuk kontribusi yang dilakukan oleh mahasiswa tidak akan menjadi penting apabila tidak ada kesadaran dalam individu mahasiswa itu sendiri. Serta kesadaran segelintir pihak juga tidak cukup mampu menghasilkan sebuah perubahan.

Karena tidak dapat dipungkiri bahwa suatu perubahan akan menjadi lebih cepat dan lebih baik manakala dilakukan secara bersama-sama. Kesamaan kesadaran yang dimiliki oleh masing-masing pihak yang dilandasi dengan satu hati ini menjadi lebih konsisten serta lebih mudah dalam bergerak, konkrit untuk berkontribusi dan berpartisipasi.

Nb:
Alhamdulillah ketika saya menuliskan tulisan ini, saya telah melaksanakan apa yang saya tuliskan tersebut. Saya telah berhasil mengirimkan PKM GT untuk PIMNAS 2012 dan Alhamdulillah lagi saya juga sudah dapa memberikan gagasan-gagasan dan ide saya melalui tulisan untuk dipublikasikan di media cetak nasional.
Comments (2)