hover animation preload
Showing posts with label impian. Show all posts
Showing posts with label impian. Show all posts

Andai Aku Jadi Presiden
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

"Aku ingin menyatukan rasa kepedulian mereka untuk kemudian bekerja bersama-sama menjadikan Indonesia yang menjadi lebih baik lagi"

Banyak permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini, dan tak mungkin bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Sekalipun satu pihak itu adalah pemerintah dan segala jajarannya. Kalau diibaratkan permasalahan bangsa ini sudah seperti benang kusut yang hanya bisa diperbaiki dengan memotong bagian-bagian yang kusut. Tapi permasalahan negara tidak mungkin diselesaikan dengan semudah memotong bagian benang yang kusut tersebut.

Sekali lagi Aku katakan bahwa permasalahan negara ini tidak akan terselesaikan oleh satu pihak, oleh presiden. Kontribusi yang dilakukan seluruh warga negara itu akan sangat berarti, sekalipun yang dilakukan hanyalah hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Apalagi sampai mampu berkontribusi nyata dalam lingkup yang lebih luas, seperti apa yang telah berhasil dilakukan oleh gerakan Indonesia mengajar, Indonesia Berkebun atau Komunitas Sinjai (FesTik) dengan perkumpulan bloggernya.

Aku memang paham bagaimana beratnya mengemban amanah menjadi seorang presiden, Aku sendiri pernah ingat suatu ketika diangkat menjadi seorang ketua organisasi non formal. Ketika Aku sebagai ketua organisasi tidak mampu berkomunikasi secara baik dengan anggota-anggota di dalamnya maka sebagus apapun program yang Aku rencanakan pada akhirnya tidak membuahkan hasil yang maksimal. Karena begitulah selayaknya seorang pemimpin, ia mampu menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya.

Ketika suatu hari Aku berkhayal menjadi seorang presiden, yang langsung terbersit di pikiran Aku saat itu adalah bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah manusia-manusia yang peduli dengan lingkungan sekitarnya, tapi kadang lingkungan yang menghambat pikiran mereka untuk berkontribusi sampai akhirnya mereka menjadi tak acuh dengan kondisi sekitarnya lagi. Layaknya anak singa yang belum diizinkan untuk berburu oleh induknya, sampai akhirnya ia tidak memiliki kemampuan lagi untuk berburu. Aku ingin mereka bisa berkontribusi, baik secara personal maupun secara berkelompok.

Ketika aku nantinya menjadi presiden aku ingin seluruh masyarakat merasa bahwa mereka semua bisa berkontribusi. Tidak hanya menunggu hasil buruan dari induknya, tapi juga bisa berburu sendiri. Kita bisa melihat bahwa saat ini gerakan-gerakan sosial sudah begitu menjamur dimasyarakat, mereka melakukan hal-hal kebaikan tanpa pamrih. Satu hal yang mampu menggerakan mereka, yaitu rasa kepedulian. Aku pun menginginkan demikian, aku ingin tiap warga negara memiliki rasa kepedulian yang sama dan sebagai presiden aku akan mendukung semua kontribusi mereka sekalipun kontribusi tersebut hanya dalam lingkup yang sempit.

Aku pernah dengar bahwa di Bandung, terdapat banyak komunitas kreatif yang berkreasi dengan caranya masing-masing. Kemudian seorang Ridwan Kamil mampu menyatukan berbagai komunitas kreatif di sana menjadi satu gerakan bersama dalam naungan Bandung Creative City Forum. Di mana masing-masing komunitas tetap bekerja berdasarkan core competence­-nya masing-masing namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadi bermanfaat untuk Bandung yang lebih baik.

Yang luar biasa, hal itu dilakukan oleh seorang Ridwan Kamil ketika dia belum menjadi Walikota Bandung. Kang Emil di sini memberikan gambaran bahwa setiap orang pada dasarnya bisa berkontribusi dengan caranya masing-masing. Kemudian ketika telah diangkat menjadi pemimpin Ia pun tak sungkan untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang memberikan kontribusi untuk Bandung. Selain itu, Ia tak lupa memperhatikan masyarakatnya secara intens, salah satunya memalui media baru yang berkembang saat ini, yaitu lewat media sosial. Aku pun ingin seperti itu.

Jika aku menjadi Presiden, aku ingin mendukung apapun kontribusi dari masyarakat, baik yang sifatnya personal maupun komunitas, aku juga ingin sekali membuat mereka tergabung menjadi satu komunitas yang terintegrasi, seperti halnya Bandung Creative City Forum. Sehingga mereka bukan lagi terpisah-pisah dalam gerakan yang sifatnya kelompok kecil dan cakupannya sempit, melainkan mereka adalah komunitas sosial yang besar dengan kontribusi yang besar juga. Aku ingin menyatukan rasa kepedulian mereka untuk kemudian bekerja bersama-sama menjadikan Indonesia yang menjadi lebih baik lagi dengan cara mereka sendiri sesuai dengan core competence masing-masing komunitas sosial.

Menjadi seorang presiden adalah amanah yang diberikan oleh seluruh warga negara. Seseorang yang diangkat menjadi presiden berarti ia dipercaya oleh rakyat, sehingga siapapun yang menjadi presiden selayaknya juga bisa mempercayai rakyat yang telah mendukungnya. Mereka harus ingat bahwa rakyatnya bukan hanya di Jakarta atau di pulau Jawa, melainkan di seluruh Indonesia.

Andai aku jadi presiden, aku ingin sekali menjadikan Indonesia yang lebih baik lagi karena aku percaya seluruh rakyat Indonesia juga memiliki keinginan yang sama, dan aku percaya hal itu bisa diwujudkan jika dilakukan secara bersama-sama.


images from: http://i.imgur.com/RCnTX8G.png (edited by ridho)
Comments (28)

Impian di Balik Awan
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , , ,

Dulu aku terbiasa bahkan dapat dikatakan hobi untuk memperhatikan awan. Tak sekedar memperhatikannya, aku juga sering menceritakan apa yang aku lihat tentang awan kepada orang-orang di sekitarku, kemudian juga aku menuliskan apa yang aku pikirkan tentang awal, bahkan aku juga terbiasa untuk memvisualisasikan berbagai bentuk dan rupa awan menjadi seperti benda yang aku bayangkan.

Awan bagiku bukan hanya sekedar sebuah gumpalan gas/air yang terbang bebas di atas langit. Lebih dari itu, awan bagiku layaknya sebuah angan-angan yang terbatas ruang dan waktu. Benda putih inilah yang mengajarkanku bahwa angan-angan dan impian yang tinggi itu bukanlah hal yang tidak mungkin untuk diraih, dan impianku untuk menyentuh awan pun bukanlah hal yang mustahil dan angan kosong belaka. Awan membuktikan bahwa aku pun bisa menyentuhnya langsung dengan tanganku sendiri, walaupun ia kusentuh saat berada dalam wujudnya yang lain (hujan).

Kini pun aku berusaha memperlakukan mimpi dan impianku layaknya aku memperlakukan titik-titik air yang beterbangan tersebut. Bagiku sebuah bentuk dan aksi nyata dari proses mewujudkan impian pun demikian, bagiku mewujudkan sebuah mimpi adalah dengan berusaha menancapkan impian tersebut dalam hati, memperhatikan mereka yang sesuai dengan impian tersebut, kemudian menuliskannya, dan mengharap doa mereka dengan menceritakannya. Setelah itu kembali meyakinkan diri sendiri terkait impian tersebut dengan memvisualisasikannya hingga akhirnya, seperti menyentuh awan impian tersebut pun dapat diwujudkan suatu saat nanti.


Dalam suratnya untuk Keenan Kugi berkata:
“Hari ini aku bermimpi. Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku. Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat. Belum pernah sedekat ini.”

Aku pun demikian, dengan illustrasi dari video mimpiku tersebut, aku merasakan bahwa mimpi itu kini semakin dekat, dan aku pun belum  pernah merasakan impianku sedekat ini dan bahkan aku hampir-hampir tak lagi dapat membedakan mana yang mimpi dan mana yang kenyataan.
Comments (0)

Imposible Sin Vosotras...
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

"Kebiasaan ku setelah membaca buku adalah mendapatkan inspirasi dan biasanya langsung menuliskannya menjadi sebuah artikel inspiratif. Namun kali ini lain, setelah membaca aku malah kembali terngiang-ngiang dengan impian masa kecilku. dan akhirnya aku hanya berhasil menuliskan umpatan dan harapan ku dalam sebuah bait-bait sederhana dibawah ini. intinya mimpiku takkan terwujud tanpa kalian - Imposible Sin Vosotras =)"


Mimpi itu memang sukar untuk diraih. Butuh kerja keras dan kekuatan konsistensi yang menjadi-jadi untuk mewujudkannya. Bahkan kita terkadang kita harus terpaksa berputar menjadi sesuatu yang bukan diri kita demi suatu saat menjadi diri kita lagi. Tak hanya disitu, sadar ataupun tidak, tanpa 'mereka' semuanya mungkin saja menjadi tidak mungkin untuk dicapai. Mereka adalah orang-orang disekitar kita yang memahami mimpi kita dan dengan caranya masing-masing berusaha mendukung impian kita. Sesunggunya mustahil tanpa mereka, mustahil tanpa kalian.

Sebelumnya Aku pernah bermimpi, bermimpi untuk bisa mendirikan sebuah bagunan indah dari hasil inspirasiku sendiri. Aku memang tidak pernah merasakan bawah aku akan sedekat ini dengan impianku. Hingga Akhirnya ombak mengempaskanku menjauhi mimpiku, meninggalkan pulau yang ingin sekali aku tuju. Saat itu aku diam, sepertinya tak ada harapan bagiku untuk mewujudkan impian tersebut.

Saat ini Aku mungkin hanyalah seperti tengah berlayar dan terengah-engah ditengah-tengah lautan. Aku hanya bisa menunggu bantuan datang yang memaksa untuk mendaparkan diriku dipulau impian. Aku hanya bisa berkhayal dan bermimpi tentang pulau tersebut tanpa mengetahui apa yang sebenarnya aku inginkan. Aku sadar bahwa impianku berubah-ubah, pulau tujuanku berubah mengikuti kemana ombak membawaku pergi. Aku sadar, sampai sekarang pun aku belum benar-benar melihat potensi sebenarnya yang ada di dalam diriku ini. Yang aku tahu, aku harus berani punya impian. sekalipun aku sendiri masih meraba-raba impian tersebut.

Semakin hari, memang semakin besar saja keinginanku untuk mencapai pulau impianku yang baru, pulau yang sebenarnya aku bayangkan saat ombak terpaksa membawaku mendekati pulau tersebut dan menjauhi pulau impianku sebelumnya. Harusnya aku tahu apa yang ku inginkan, dan harusnya aku tau kemana aku harus berlayar. Aku masih berharap, bahwa saat ini hanya sedang berlayar berputar mengitari pulau impianku dan sekedar singgah di pulau impian ku yang lain terlebih dahulu. Aku ingin suatu saat aku kembali menjadi diriku sendiri, untuk menuju pulau impian yang aku dambakan sejak lama.

Sampai akhirnya pertolongan itu datang, aku akan mencoba terus memantapkan arah perahuku. Pertolongan ini ku harap dapat terus memotivasiku dan menemaniku mencapai pulau impianku yang baru. Aku butuh kalian.
Comments (0)

Resolusi (2012), Sebuah Pembimbing Menuju Kenyataan di Hari Esok
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,



Semua orang tentunya mengetahui ketika ia sedang berada di penghujung bulan Desember di suatu tahun berarti sebentar lagi ia akan segera menyelesaikan segala urusan di tahun tersebut, dan tentunya ia juga mengetahui bahwa ia juga akan segera memulai segala urusannya di tahun yang baru. Namun, tidak semua orang tahu tentang apa yang harus ia lakukan di tahun yang baru, dan juga tidak banyak orang yang merencanakan tentang apa tujuan yang hendak ia capai di tahun yang baru. Padahal momen awal tahun itu dapat dimaknai dengan upaya kita mengintrospeksi diri sekaligus momen yang tepat untuk merancang tentang impian yang diinginkan dalam setahun kedepan.

"Kenyataan yang kita dapat hari ini adalah bersumber dari impian kita saat kemarin, dan impian kita hari ini adalah yang akan membimbing kita
menuju kenyataan di esok hari"

Sekitar satu tahun yang lalu kutipan inilah yang membimbingku menjadi diriku yang sekarang. Sebelumnya aku hanyalah seorang mahasiswa baru yang tidak memiliki impian apa-apa, saat itu aku sama sekali belum memiliki sebuah keahlian yang dapat aku banggakan. Namun saat ini, aku merasakan perkembangan diriku yang menurutku cukup pesat. Kini aku memiliki banyak impian yang ingin ku wujudkan dan aku memiliki senjata utama untuk mewujudkannya yaitu dengan mengembangkan keahlian menulis. Dan ini semua tidak terlepas dari keyakinanku akan apa yang tertulis pada kutipan tersebut.

Setahun yang lalu, saat aku membayangkan diriku menjadi seseorang yang “dianggap” kampus, di dunia perkuliahan. Kini aku telah mencicipi berbagai jenis kegiatan kemahasiswaan, mulai dari panitia acara sampai pengurus di organisasi kampus. Dan tentu saja dengan semua kegitan itu telah meyakinkan diriku bahwa saat ini aku sudah “dianggap”. Kemudian saat satu tahun yang lalu aku membayangkan namaku terpampang di salah satu media kampus yang mendokumentasikan atas prestasi ataupun kontribusi tulisanku, beberapa bulan kemudian tulisanku berhasil diabadikan disalah satu bulletin kampus.

Sampai akhirnya aku meyakini satu hal yaitu “Aku yang sekarang adalah apa yang aku impikan di masa lalu” dan kini aku pun yakin bahwa apa yang aku impikan saat ini akan menjadi aku di masa yang akan datang. Oleh karena itu, aku bertekad untuk merancang sebuah daftar impian. Sebuah resolusi hidup yang akan menjadi pembimbing ku dalam setiap langkah kaki ku menuju impian ku di masa depan.

Antara Resolusi dan Impian
Impian ku setahun yang lalu memang bukan hanya apa yang aku samapaikan di atas saja, karena sebenarnya dalam medio setahun ke belakang masih banyak hal yang ingin aku capai, namun kenyataannya masih banyak yang belum berhasil. Tetapi walupun demikian, aku meyakini bahwa semua yang telah aku lewati adalah bagian proses pencapaian mimpiku, semua kegagalan ku di tahun lalu aku anggap sebagai kepingan puzzle yang sedang aku susun untuk nantinya dapat aku selesaikan di masa depan sehingga aku dapat mewujudkan segala impianku saat ini.

Memiliki sebuah impian menandakan kita telah memiliki visi hidup yang jelas. Sebuah impian besar tentunya akan selalu diiringi dengan mimpi-mimpi kecil di sekitarnya. Dan para pemimpi tentunya akan akan melalui pintu-pintu (baca: kesuksesan-kesuksesan) kecil untuk pada akhirnya mewujudkan impian besarnya. Kini aku akan sedikit menceritakan tentang resolusi hidup ku berupa impian-impian kecilku di tahun 2012 yang nantinya akan membimbingku mewujudkan impian besarku di masa yang akan datang.

Aku hanya memiliki sebuah resolusi untuk ku wujudkan dan aku kenang di setahun mendatang. Aku hanya ingin di akhir tahun 2012 nanti aku dapat mengela napas puas atas apa yang telah aku lakukan dan aku capai dalam medio satu tahun selama di 2012. Bagaimana pun nanti proses yang akan ku jalani semua akan ku hadapi, karena aku yakin sebuah janji yang telah dibuat tidak akan menjadi berarti manakala hanya kita maknai sebagai penghias kehidupan semata, atau sebagai bahan motivasi diri saja. Tetapi sebuah janji itu dibuat untuk ‘bersegera’ diwujudkan, tak peduli kalaupun pada akhirnya akan gagal. Dan kali ini aku akan mencoba membayangkan diriku pada akhir tahun mendatang karena aku meyakini bahwa impian kita hari ini adalah yang akan membimbing kita menuju kenyataan di esok hari.

Aku Setahun Mendatang, gambaran tentang harapanku di 2012
Langit tampak memerah saga, tanda matahari sedang menuju peraduannya. Aku terdiam di masjid kampus, menikmati sore terakhirku di semester 5 di Kampus Universitas Indonesia. Seperti tak ada sebuah penyesalan sedikitpun, aku merasa bahwa tahun 2012 ini adalah tahun terbaik yang pernah kulalui dalam hidupku. Pada tahun 2012 ini aku seakan selalu mampu berjalan dia atas jalur lintasan kehidupan yang telah aku rancang di awal tahun lalu. Esok hari aku akan menerima sebuah penghargaan sebagai juara satu kompetisi menulis tingkat Mahasiswa dan itu adalah salah satu resolusi yang memang telah aku buat di awal tahun 2012 ini. Rasanya sungguh bangga karena pada akhirnya aku mampu mewujudkan salah satu impian kecilku semasa kehidupan di kampus ini.

Selain terwujudnya keinginan untuk menjadi jura di kompetisi menulis, di tahun ini aku juga berhasil mewujudkan belasan impian lainnya yang sudah aku buat dan aku pajang dengan gagah di dinding kamarku. Di pertengahan tahun 2012 ini aku berhasil menyelesaikan naskah buku yang telah aku susun sejak akhir tahun 2011 lalu, dan yang lebih menggembirakan adalah karena di awal bulan November 2012 lalu datang sepucuk surat dari salah satu penerbit terkenal yang menyatakan bersedia menerbitkan naskah ku tersebut. Dan hal ini juga sebenarnya telah ku tuliskan dalam resolusiku di tahun lalu. Mengingat hal tersebut aku kembali mengucap syukur ‘Alhamdulillah’ atas rahmat yang telah Allah lipahkan padaku di tahun 2012 ini.

Aku kemudian mengambil air wudhu, karena adzan maghrib telah berkumandang. Setelah itu aku pun menunaiknan shalat dua rakaat. Sembil menanti iqamah dikumandangkan, pikiranku kembali tehempas menuju periode awal tahun 2012 lalu. Awal tahun lalu, hampir dalam kondisi yang sama, saat itu aku juga dalam keadaan yang begitu bahagia. Kebahagiaan tersebut aku dapatkan lantaran aku berhasil mendapatkan hasil semester 3 yang sangat memuaskan. Saat itu aku berhasil mencapai target awal tahunku untuk mendapatkan Indeks Prestasi (IP) diatas 3.5, betapa bersyukurnya aku saat itu dan salah satu caraku untuk mensyukuri hal tersebut adalah dengan menghabiskan sepanjang sore yang aku miliki saat itu untuk bermunajat di rumah Allah, di masjid kampus Universitas Indonesia ini.

Tahun ini aku rasakan begitu sempurna bagiku. Tak hanya keberhasilanku dalam konteks akademis, tetapi di tahun yang sama aku juga berhasil mewujudkan salah satu mimpiku untuk menemukan lingkungan baru yang kondusif, yaitu agar aku dapat diterima di asrama PPSDMS (Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis) Nurul Fikri. Sebelum pada akhirnya diterima di sana sebagai peserta angkatan ke VI perione 2012/2013, aku berharap bersama PPSDMS aku akan mendapatkan sebuah suntikan moral yang lebih besar terutama untuk mewujudkan mimpi-mimpiku di 2012 ini. Mungkin kepindahan ku inilah yang telah melapangkan jalanku sampai akhirnya aku berhasil mewujudkan beberapa mimpi-mimpiku tersebut. Di asrama ini aku merasakan bahwa setiap tangga menuju impian-impianku ini seakan telah tersedia di sekelilingku, tinggal bagaiman aku mensusunnya menjadi sebuah tangga yang bisa aku lewati.

Memikirkankan impian-impian yang telah terwujud di 2012 ini, membuatku menjadi lebih sumringah untuk melanjutkan langkah menuju tangga-tangga impianku selanjutnya. Aku membayangkan bahwa ditahun-tahun mendatang akan semakin banyak asa cerah yang menanti dihadapanku, dan aku harus semakin siap untuk menaklukkannya. Tentunya akan semakin banyak janji-janji yang akan aku buat, dan akan semakin banyak pula capaian-capaian yang akan aku raih.

Dan semua janji-janji itu akan ku serahkan kembali kepada Sang Maha Pengabul Do’a. Karena aku tahu bahwasannya “Allah akan selalu memeluk impian-impian dari hamba-hamba-Nya”. Aku juga tahu bahwa Allah pasti akan mengabulkan impianku secepatnya. Kalaupun tidak sekarang, Allah akan menangguhkannya untuk di waktu yang akan datang. Dan bahkan kalaupun Allah tidak mengabulkannya impianku tersebut, aku pun tetap yakin bahwa Allah akan memberikan ganti yang terbaik bagiku. Dan senyumku pun semakin sumringah mendengarkan ucapanku sendiri. Tanpa terasa ternyata, iqamah kini telah bergema, segera aku pun bergegas mengambil posisi di baris terdepan untuk kemudian bersiap melaksanakan shalat maghrib berjamaah.

Penutup
Sekali lagi ku sampaikan, bahwasannya apa yang telah kita capai sekarang pada dasarnya adalah bersumber dari impian-impian kita di masa lalu dan apa yang nantinya akan kita capai semoga itu semua juga bersumber dari impian kita saat ini. Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebuah resolusi memiliki arti yang sangat besar untuk membimbingku menuju kenyataan di esok hari. Dan segala apa yang aku janjikan di awal tahun ini semoga dapat memberikan sebuah motivasi besar bagiku yang akan menjadi pemicu dalam menyusun tangga demi tangga untuk nantinya dapat mewujudkan impian besar ku di masa yang akan datang.
Comments (0)

Magnet dari Sebuah Pikiran
by Abdushshabur Rasyid Ridha in , ,

“Ternyata manusia punya kemampuan seperti magnet, suatu kemampuan yang mampu menarik setiap hal yang dipikirkannya?”

Untuk sedikit membuktikan pernyataan di atas, sekarang saya akan mencoba bertanya kepada anda, ketika suatu saat anda ingin pergi ke suatu tempat, saat bersiap untuk berangkat kemudian anda memikirkan bahwa hari ini akan hujan, maka dalam hati anda akan mengingatkan diri anda sendiri, “jangan lupa membawa payung”. Namun yang terjadi terkadang justru anda lupa untuk membawa payung tersebut, hal ini mungkin saja terjadi atau pernah anda alami.

Atau contoh lain, suatu ketika orang tua anda pernah memberikan nasihat, “hati-hati jaga barang yang kamu bawa, awas hilang!”, tentunya tanpa anda sadari anda akan mimikirkan dan mengingat nasihat tersebut kan? namun justru yang terjadi adalah ternyata barang yang dimaksud itu justru hilang entah kemana. Dan pastinya kejadian-kejadian seperti itu pernah anda alami sendiri bukan?

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apa yang sebelumnya saya jelaskan telah memberikan sedikit pembuktian atas pernyataan saya di atas, bahwa pikiran manusia itu layaknya sebuah magnet, ia akan menarik apa yang anda pikirkan dan bukan tak mungkin hal itu akan menjadi sebuah kenyataan. Dalam buku klasik yang terlaris “Think and Grow Rich”, Napoleon Hill menulis, "...Otak kita menjadi magnet karena adanya pikiran yang mendominasi benak kita, dan dengan cara yang misterius, 'magnet-magnet' ini akan menarik kekuatan, orang dan kondisi yang selaras degan sifat pikiran dominan kita"

Sedangkan James Allen menulis dalam bukunya “As a man Thinketh”, "... cepat atau lambat manusia akan tahu bawa ia adalah perancang jiwanya dan pengatur kehidupannya. ia juga akan mengungkapkan hukum-hukam pikiran dan melalui kecermatan yang terus meningkat, akan mengetahui bagaimana elemen-elemen kekuatan pikiran bekerja dalam membentuk kepibadian, keadaan dan nasibnya.

Dapat dikatakan bahwa ketika kita semakin memikirkan sesuatu di dalam benak kita, hal tersebut akan mampu membangkitkan energi magnet pada otak kita sehingga secara tidak sadar nantinya akan memunculkan sebuah kenyataan seperti halnya yang ada dipikiran kita. Maka dari itu penting bagi kita untuk mulai memikirkan hal-hal positif, agar ketika suatu saat menjadi kenyataan kita tidak akan menyesalinya dan justrua akan merasa sangat bersyukur atas kenyataan tersebut.

Kenyataan Impian dari Pikiran
Semakin dipikirkan sesuatu maka akan semakin mungkin sesuatu tersebut menjadi sebuah kenyataan. Begitupula impian, “setiap impian yang kita pikirkan dan terus pikirkan saat ini bisa jadi akan menjadi gambaran diri kita di masa yang akan datang”. Impian adalah sebuah gambaran positif tentang sesuatu yang ingin kita wujudkan di masa yang akan datang. Dengan kita terus menerus memikirkan tentang impian kita, maka hal itu akan semakin mendekatkan diri kita pada kenyataan. Intinya, mulailah berpikir positif!

Jika kita banyak mendengarkan, membicarakan, membaca dan memikirkan tentang hal yang buruk atau negatif, maka tanpa sadar kita akan bergrafitasi kearahnya. Perlu diketa hui bahwa setiap orang orang sukses itu bergerak kearah kesuksesannya sedangkan orang orang gagal selalu ingin menjauh dari kegagalan, namun ketika mereka terlalu banyak memikirkan tentang kegagalan maka yang akan mereka dapatkan adalah sebuah Kegagalan.

Setiap orang tentunya meyakini bahwa “Allah selalu menyertai prasangka Hamba-Nya”. Aku sendiri meyakini Allah pasti mengetahui setiap yang aku pikirkan dan tentunya Ia jugat tahu apa impianku. Kemudian dengan ber-husnudzan kepadanya-Nya, aku yakin bahwa suatu saat Allah pasti akan mewujudkan impianku secepatnya. Kalaupun tidak sekarang, Allah akan menangguhkannya untuk waktu yang akan datang. Dan bahkan kalaupun Allah tidak mewujudkannya impianku tersebut, aku pun tetap yakin bahwa Allah akan memberikan ganti yang terbaik bagiku.

Pada akhirnya, yang perlu kita pahami adalah tidak semua hal yang kita pikirkan akan menjadi sebuah kenyataan. Namun, jika ada sebuah kunci yang bisa mengubah pecundang menjadi orang sukses, maka kunci itu adalah "konsentrasikan pikiran kita kepada apa yang kita inginkan." Ketika anda ingin mempersiapkan sesuatu, pikirkanlah bahwa anda akan mendapatkan hal tersebut. Pikirkanlah bahwa kita akan mampu mewujudkan impian kita suatu saat nanti.
Comments (3)

Filosofi Impian (Impian itu...)
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,


"Kenyataan yang kita dapat hari ini adalah bersumber dari impian kita saat kemarin, dan impian kita hari ini adalah yang akan membimbing kita menuju kenyataan di esok hari"


Sepenggal nasihat yang sangat menginspirasi bagiku dan inspirasi ini juga sudah banyak kusebarkan ke teman-temanku lainnya. Banyak yang bilang memiliki impian itu mudah, merealisasikannya yang sulit. Pandangan seperti itu menurutku sudah musti, kudu, wajib diralat. Padahal, apakah mereka yang mengatakan hal tersebut belum pernah merealisasikan mimpi, entah mimpi yang sederhana atau bahkan mimpi yang luar biasa. Sehingga mau tak mau laiknya kita mulai bisa meyakin bahwa impian itu adalah sebuah jaminan akan keberhasilan dan kesuksesan.

Pernahkah anda memperhatikan sebagian dari masyarakat yang dimana di dalam dirinya tidak memiliki impian? Hidupnya seakan tanpa motivasi, hidupnya terpuaskan dengan hanya sekedar memenuhi perut saja. Beruntunglah bagi kita yang di dalam dirinya terdapat sebuah bahan bakar semangat yang lebih dari yang lain dalam menempuh hidup ini. Karena setiap pemimpi yakin bahwa impian yang besar itu adalah ibarat dinamo yang mampu terus menerus berputar dan menghasilkan arus positif pada dirinya. Percayalah dengan adanya impian, bukan tidak mungkin kita akan terus berkembang melampaui yang lain.

Memiliki sebuah impian menandakan kita telah memiliki visi hidup yang jelas. Sebuah impian besar tentunya akan selalu diiringi dengan mimpi-mimpi kecil di sekitarnya. Sehingga para pemimpi tentunya akan akan melalui pintu-pintu (baca: kesuksesan-kesuksesan) kecil untuk pada akhirnya mewujudkan impian besarnya.

Bicara tentang mimpi, coba kita merefresh diri sedikit dengan sebuah cerita dalam kartun yang menurut ku sangat menginspirasi, terutama terkait mengejar mimpi. Apakah anda tau tentang cerita manga fiksi One Piece? beberapa pekan belakangan aku memang sedang bergelut dengan manga yang satu ini. Pada inti kisahnya adalah tentang seorang bocah yang memiliki impian untuk menjadi raja bajak laut, walaupun banyak orang yang menertawakannya, namun nyatanya impian besar tersebut mampu menjadikannya terus-menerus berkembang dan menjadi lebih dan lebih kuat dari sebelumnya. Mungkin di sinilah letak keajaiban impian. Di mana impian tersebut akan membawa pemiliknya kepada sebuak perubahan diri ke arah lebih baik, untuk tujuan merealisasikan impiannya.

Hingga terakhir sebagai penutup, tak salah jika ku mengatakan bahwa impian itu ciri kemuliaan. Karena hanya orang-orang mulialah yang memiliki impian. Karena sebuah impian akan membuat pemiliknya selalu kuat dan tidak jera serta akan terus menerus bangkit disaat dirinya terjatuh. Impian akan menjadikan seseorang menjadi lebih berani mengambil resiko. Sehingga teruslah pelihara impian kita, dan yakinlah bahwa Allah akan senantiasa memeluk mimpi-mimpi hambaNya.
Comments (0)

Lupakan Masa Lalu, Raihlah Mimpimu!!
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

Pemimpi, menurut sebagian para pelaku dunia training motivation mereka mengatakan bahwa pemimpi adalah mereka yang memiliki segenap mimpi yang jelas dan ingin direalisasikannya. Dan pemimpi adalah mereka yang memiliki segenap keberanian mengambil resiko dan konsekuensi dari setiap mimpi yang diinginkannya. Mimpi di sini adalah sebuah keinginan atau harapan kita di masa yang akan datang, baik itu mimpi dalam jangka pendek atau mimpi jangka panjang. Pada kenyataannya seorang pemimpi tak hanya cukup hanya memiliki satu mimpi saja di dalam hidupnya.

Merealisasikan mimpi, pernahkah kita berpikir tentang hal tersebut? Berpikir tentang bagaimana cara kita dan kapan kita bisa merealisasikan bisa mimpi-mimpi kita tersebut. Pasti kita ingat dengan sebuah potongan lirik penyemangat bagi setiap pemilik mimpi,pada lirik itu dikatakan bahwa “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia”, lalu bagaimana cara kita untuk merealisasikan mimpi kita tersebut dan memuaskan hasrat dan keinginan kita atau bahkan bukan tidak mungkin kita juga mampu menaklukan dunia seperti lirik di atas.


Nah, tulisan ini saya persembahkan bagi setiap pemimpi-pemimpi di sekitar kehidupan saya dan juga sebagai penyemangat bagi diri saya sendiri dalam tahap merealisasikan mimpi-mimpi kita tersebut. Seperti sebelumnya kita ketahui bahwa setiap orang adalah seorang pemimpi dan setiap orang pasti mempunyai cita-cita dan impian dalam hidupnya tetapi kenyataan yang dialami oleh para pemimpi tersebut adalah kebanyakan dari mereka seakan bingung dan sulit merealisasikan mimpi-mimpi tersebut.


Hal pertama yang akan saya jelaskan adalah tentang satu hal yang memengaruhi kita tentang permasalahan mengapa kita sulit merealisasikan mimpi. Seorang pemimpi biasanya memiliki masalah dengan internalnya sendiri, yaitu kadang kita terjebak dengan kehidupan masa lalu kita. Disaat kita mempunyai sesuatu mimpi yang hendak diwujudkan namun seringkali menemui gagal sehingga samapai saat inipun kita tidak dapat terlepas dari bayangan masa lalu yang kelam tersebut. Kita selalu mengingat tentang kegagalan-kegagalan dimasa lalu seakan kegagalan itu menjadi sebuah patokan dasar yang tidak dapat lagi kita lampaui dan lolos darinya.


Sehingga terkadang hambatan yang sifatnya internal tersebut sangat sulit kita hadapi dan kita kalahkan. Padahal jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan justru kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda dan kadang keberhasilan dan kegagalan hanya didipisahkan oleh kata hampir. Jika dalam melakukan suatu kegiatan kita sering mengatakan bahwa “saya hampir berhasil” tetapi setelah itu kita berhenti dari kegiatan tersebut, namun pada dasarnya tetap saja kita gagal kecuali dengan kegagalan tersebut membuat kita semakin terpacu untuk mencobanya lagi, lagi dan lagi.


Dan hal utama yang harus dilakukan untuk meng-counter permasalahan internal tadi adalah dengan kita mencoba memfokuskan tujuan ke masa depan serta memperjelas kembali mimpi-mimpi kita. Maksunya memperjelas adalah dengan kita menuliskan mimpi-mimpi kita tersebut di dinding-dinding kamar kita dan tidak hanya sekedar diingatan kita, serta mulailah mencari informasi terkait mimpi kita sehinga kita semakin memahami mimpi kita tersebut secara lebih konverhensif.


Semoga setelah membaca tips awal terkait merealisasikan mimpi ini kita mampu meaplikasikannya mulai saat ini karena pada dasarnya bermimpi merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan tetapi jangan sampai mimpi-mimpi itu hanya bisa menjadi sebuah khayalan belaka tanpa ada keinginan untuk merealisasikannya. Maka dari itu mulai dari sekarang cobalah lakukan hal-hal positif untuk mendekatkan kita kepada mimpi-mimpi tersebut, lakukan sekarang atau gagal.
Comments (0)

Ketika Cita-cita Terbentur Super Ego
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

Sejak kecil cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang Arsitek. Cita-cita ini muncul ketika saya meliha paman saya yang seorang insinyur, hal itu secara alam bawah sadar memunculkan keinginan bahwa ketika sudah besar nanti saya ingin menjadi seorang insinyur dan saat itu pula tanpa mengerti apa itu arsitek, saya memutuskan untuk menjadi seorang arsitek. 

Ketika bersekolah impian itu menjadi salah satu motivasi saya dalam belajar karena saya berharap pada akhirnya saya akan menjadi seorang arsitek. Namun, kenyataan berkata lain ketika di SMA, saat itu adalah waktu kenaikan kelas 2 dan itu adalah waktu penentuan penjurusan, di jurusan IPA ataukah di jurusan IPS. Saya pun menjalaninya walaupun dengan berat hati, karena pada saat itu saya beranggapan sudah pupuslah impian untuk menjadi seorang arsitek. 

Ketika menjalani masa-masa kelas 3 SMA, impian itu kembali muncul seiring dengan adanya kebijakan bahwa jurusan IPS SMA juga boleh mengambil jurusan IPA di perguruan tinggi jika memang lulus seleksi, dan harapan itu kembali muncul. Dan keinginan ini semakin besar ketika saya merasa bahwasanya mampu untuk mengikuti seleksi IPA. Saat pengumuman penerimaan hasil SIMAK UI, ternyata saya tidak berhasil diterima di Arsitektur UI melainkan di Ilmu Komunikasi UI.

Ketika kisah diatas dikaitkan dengan pendekatan psikologi “psikoanalisis” maka… 

Dalam kisah diatas jelas menggambarkan bahwa id saya sangat besar untuk mewujudkan impian saya menjadi seorang arsitek. Walaupun sempat kenyataannya ego pada diri saya mengharuskan saya untuk menahan keinginan tersebut, Karena pada saat kenaikan kelas 2 itu saya gagal masuk ke jurusan IPA yang merupakan pintu masuk untuk menwujudkan impian saya tersebut. Namun ternyata id tersebut terbukti jauh lebih besar dari ego. Hal ini menyebabkan keinginan tersebut tidak hilang begitu saja tetapi justru semakin bertambah ketika adanya kebijakan bahwa jurusan IPS SMA juga boleh mengambil jurusan IPA di perguruan tinggi jika memang lulus seleksi. 

Namun, mengetahui bahwa hasil SIMAK UI mengharuskan saya memilih antara mengambil jurusan Ilmu Komunikasi UI atau berusaha untuk kembali mencoba peruntungan mengikuti ujian seleksi PT kembali, dan dengan segala pertimbangannnya kemudian pada akhirnya superego menuntut untuk memilih sesuatu yang paling realistis.

Dimana superego seperti mengatakan bahwa jika saya bersikeras untuk mencoba lagi peruntungan Arsitektur UI tahun depan hal ini akan membuat lingkungan sosial saya, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan memberikan sanksi sosial kepada saya, dan hal itu membuat saya akhirnya mengambil keputusan yang lebih realistis dan tidak memaksakan id saya pada saat itu, yaitu dengan lebih memilih mengambil jurusan Ilmu Komunikasi UI sebagai tempat saya mencari ilmu dan mengejar masa depan. 

Hingga dalam kasus saya ini superego lah yang berhasil memenangkan keputusan saya. Sekarang penulis menjadi cita-cita baru saya...
Comments (6)

Go Abroad For Study, Siapa yang tak Mau?
by Abdushshabur Rasyid Ridha in ,

Siapa yang tidak ingin mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri? Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada mereka para mahasiswa yang sedang bersemangat mencari berbagai sumber ilmu, tentunya mereka dengan yakin akan menjawab bahwa mereka sangat ingin mendapatkan kesempatan itu. Tidak terkecuali bagi penulis, mendapatkan kesempatan belajar ke luar negeri saat masih dalam masa kuliah adalah salah satu dari 99 capaian yang ingin penulis capai ketika masih berada di masa kuliah. Bagi penulis dengan mendapatkan kesempatan tersebut nantinya akan sangat bermakna besar bagi kehidupan penulis, selain pengalaman dan ilmu yang baru tentunya dengan mendapatkan kesempatan study di luar negeri juga akan menjadikan masa-masa perkuliahan menjadi tidak monoton dan lebih berwarna.

Penulis meyakini bahwa setiap mahasiswa yang membaca tulisan ini tentunya ia akan berpikir dalam hati, “Kami memang sangat ingin menapatkan kesempatan study ke luar negeri, bukan seperti para anggota DPR, kami ingin mewakili universitas kami, menjadi duta serta delegasi yang kemudian diberangkatkan ke luar negeri secara gratis dan sebagaianya. Lalu jika sudah begitu, bagaimana cara kami untuk merealisasikan hal tersebut?” Mungkin pertanyaan seperti ini kita sendiri sudah mengetahui jawabannya, seperti beberapa cara diantaranya kita harus mempersiapkan mimpi tersebut sejak awal, mampu berkomunikasi dengan bahasa kedu yaitu bahasa Inggris, mempersiapkan Academic Achivement (IPK) yang terbaik (min.3,00), mempunyai pengalaman organisasi serta soft skill lainnya, serta mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait beasiswa-beasiswa tersebut. 

Hal-hal teknis seperti yang telah penulis sebutkan di atas mungkin sudah sering terpikir oleh para teman-teman yang ingin mendapatkan kesempatan beasiswa ke luar negeri tersebut. Nah, inti dari tulisan ini adalah penulis menyarankan kita tidak hanya sekedar mempersiapkannya. Kerja keras, konsistensi serta usaha yang tidak mudah menyerah menurut penulis adalah syarat non-teknis yang harus dipenuhi oleh mereka yang benar-benar ingin melancong ke luar negeri untuk mendapatkan kesempatan belajar secara gratis.

Menurut beberapa alumni sebuah program pertukaran pelajar atau konferensi tingkat internasional, tidak banyak dari mereka yang langsung sukses diterima menjadi peserta pada kesempatan pertama mereka mengirim formulir. Kebanyakan dari mereka harus mengalami sesuatu hal yang namanya kecewa dan gagal dan yang mereka lakukan adalah berusaha belajar dari kesalahan. Sehingga ketika dalam kondisi yang seperti itu, tanpa sebuah kerja keras, konsistensi serta usaha yang tidak mudah menyerah maka akan sulit bagi kita untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Penulis sendiri sampai sekarang alhamdulillah belum pernah mendapatkan kesempatan melancong belajar keluar negeri, namuan yang sampai saat ini tetap dan selalu aka diyakini oleh penulis adalah sebuah nasihat dari mereka orang-orang sukses bahwa sebuah mimpi yang diusahakan dan persiapkan dengan baik maka nantinya hal itu akan mengantarkan kita utuk benar-benar merealisasikan mimpi tersebut.

Maka dari itu jangat takut bermimpi, peliharalah mimpi tersebut denganmenuliskannya besar-besar di kamar-kamar kost kita, selalu beri pupuk dengan kita selalu berinteraksi atau sharing dengan teman-teman yang pernah mendapatkan kesempatan tersebut, setiap hari kita siram mimpi kita dengan kita terus mencari informasi tentang kesempatan tersebut dan petiklah hasilnya dengan penuh senyum dan kebahagiaan. Dan yang terakhir perlu diingat bahwa memelihara mimpi yang besar terkadang tidak semudah merawat mimpi yang kecil dan sekali lagi diingatkan butuh kerja keras, konsistensi serta usaha yang tidak mudah menyerah. Semoga kita termasuk orang–orang yang berhasil memetik mimpi indah kita dimasa yang akan datang!
Comments (0)